Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Dia Zedku, Aku Yakin Itu!


__ADS_3

Pov: Jack


"Aku antar kamu pulang ya?" ibarat anak kecil aku memohon pada wanita manis berwajah sembab yang tengah sibuk membereskan file di mejaku.


"Tak usah Jack, aku sudah mendingan, terima kasih." ujarnya, menghindari tatapanku.


Apa dia malu, tadi memeluk tubuh dan menangis di dadaku? Aneh memang si Kelinci Kecil ini.


"Zed, ayolah kemarin kamu janji kan aku bisa mengantarkanmu pulang?"


"Jack, tak enak dilihat yang lain, perhatian kamu membuat aku risih, liat aja tatapan mereka padaku?" wajahnya semakin mengkhawatirkan.


Apalagi ini? Gadis ini sensitif ternyata, apa peduli mereka? Kita berhak dong menyatakan perasaan dan memberikan perhatian pada seseorang yang kita sayangi? Dianya aja yang terlalu peka.


Coba aku bukan Jack Nichol, tentu tidak serumit ini dalam mendekatimu, Zed!


"Tapi, Zed?"


"Oke, ini demi janjiku kemarin, tapi ingat Jack, hari ini saja, sebagai rasa terima kasihku juga, karna kamu udah nolongin aku hari ini."


Yaelah! Balas jasa rupanya. Hmm, oke dari pada tidak sama sekali.


 


"Ini rumahmu?" tanyaku saat kami tiba di sebuah rumah berlantai dua sederhana bercat biru muda, sebuah mobil tua nampak terparkir di depan rumah, bunga-bunga nampak berjejer rapi dalam pot tanah dan plastik.


"Boleh aku mampir? Soalnya kebelet nih."


Zed mengangguk, wajahnya datar, namun di matanya sangat terlihat jika rumah ini bukan tempat yang nyaman untuk dia tinggali.


Aku akan mencari tau siapa kau sebenarnya, Zed atau Zee?


Atau kau keduanya?


"Assalamualaikum, Ayah aku pulang." serunya.


Aku jadi ingat adegan di film, melihat aksi kelinci kecil manis ini.


Saat aku tersenyum dia justru melotot padaku. Galaknya! Apalagi kalau tau saat pingsan tadi aku sempat mengecup dahi dan sudut bibirnya.


Manisnya Zed!


Dia menunjukkan toilet padaku. Setelah itu berkata.

__ADS_1


"Duduklah Jack, aku ke kamar ayah dulu."


Aku menelisik ruang tamu yang tak seberapa luas ini, hanya ada sofa dan lemari hias dari kayu jati, serta akuarium di pojok ruangan.


Tapi tunggu, tangga itu? Dan pintu bertuliskan Zidni Girls!


Ya, Zed pernah secara tak sengaja memperlihatkannya padaku.


Kini aku yakin, dia Zedku, gadis maya yang sekian lama kucari.


Tak salah aku jatuh cinta padamu bukan?


Zed! Aku Jackmu, hanya milikmu.


Tapi kenapa sikapnya aneh padaku? Bukankah aku pernah mengirimkan foto padanya? Apa dia lupa?


Dasar kelinci kecil, kamu tau kan aku Jackmu? Atau kau sedang berpura-pura tak mengenalku?


Sudahlah Jack ikuti permainan gadis ini saja, apa maunya yang penting kamu bisa mendapatkan hatinya, cukup hatinya agar bisa membawanya duduk di pelaminan.


"Jack ini ayahku." Zed telah berdiri dengan seorang pria paruh baya, bermata teduh, wajahnya menyiratkan jika dia punya kasih luar biasa, bijaksana dan ramah.


"kenalkan saya Hanif Zidni, Maaf pak, anak saya merepotkan." ucapnya sopan.


"Saya Jack, teman Zed, eh Zee, tidak dia tidak merepotkan saya." ujarku meyakinkan pria itu jika anaknya tak pernah merepotkanku.


"Sama-sama, Pak. Eh Om." Ya Tuhan lidahku kaku begini, apa seperti ini pertemuan pertama dengan calon mertua?


"Duduklah dulu, Zee buatkan kami kopi."


"Maaf ayah, Jack sedang buru-buru, dia akan langsung pamit, iya kan Pak?"


Hm! Kelinci Kecil ini mengusirku secara halus rupanya.


"Tidak, Zee, aku tidak ada janji hari ini, boleh kan pak saya ikut ngopi di sini." sengaja aku duduk mendekat ayahnya.


Gadis itu salah tingkah.


"Zee, ayolah buatkan kami kopi, Iya Jack, kamu harus nyoba kopi buatan Zee, rasanya luar biasa."


"Dia bisa bikin kopi om? Bisa saya coba nanti di kantor."


"Aku sekretarismu, Jack, bukan OB." dia mendengus kesal.

__ADS_1


Sudah lupakah dia tadi menangis di pangkuanku? Gemas rasanya.


Tunggu saja Zed, nanti malam akan kucabik tubuh indahmu itu. Akan kubuat kau tak berdaya menghadapi cumbuanku.


"Ini kopinya Ayah." dia menghidangkan dua cangkir kopi yang menebarkan aroma luar biasa.


Tuhan, begini rasanya ternyata dibuatkan kopi oleh calon istri. Ah dunia jadi terasa lebih luas dan menyenangkan.


"Di minum Jack, pasti ketagihan." Om Hanif mengangkat cangkirnya. Aku pun mengikuti pria itu.


Sementara Zed, masuk kembali ke ruang belakang, mungkin itu dapur, pikirku.


"Mama!" terdengar jeritan wanita dari lantai atas.


Om Hanif tersentak.


"Zee, coba lihat kakakmu, mungkin dia butuh sesuatu." Om Hanif berseru pada Zee.


"Iya ayah."


"Cepatlah Zee, mamamu sedang mengambil obatnya di apotek."


"Iya ayah." Zed datang tergesa.


"Mama, mana mamaku? Brengsek kalian semua."


Kembali wanita itu berteriak, bahkan lebih kencang dari sebelumnya.


Teriakannya lantang, sepertinya dia sedang marah pada seseorang.


Apa pada Zed? Tapi kenapa?


Inikah yang membuat gadis ini merasa tak nyaman tinggal di rumah ini?


Zed terlihat panik.


"Jack pulanglah, Kakakku butuh sesuatu, aku mohon."


"Baiklah, Zed, aku pulang dulu, maaf merepotkanmu." akhirnya aku memilih pulang, melihat wajah panik dan ayahnya panik.


"Jaga dirimu baik-baik."


Gadis itu mengangguk.

__ADS_1


Siapa wanita itu? Apa dia kurang waras, atau? Kenapa wajah Zed sepanik itu?


 


__ADS_2