
Pov: Zee
Langkah hari ini terasa lebih ringan, benar ternyata doa seorang Ayah begitu dahsyatnya.
Ah, ingin segera menyampaikan berita gembira ini padanya.
Kuputuskan untuk datang ke toko terlebih dahulu, karena aku tau ayah pun pasti sedang cemas menunggu hasil wawancaraku hari ini.
Dua orang yang harus tau lebih awal kabar gembira ini, Ya ayah dan Syaif.
"Terima kasih doanya, ayah." aku berteriak sambil memeluknya erat.
"Zee, apa maksudnya ini? Apa wawancaranya lancar?" ayah mengerutkan dahi.
"Lancar dong, siapa dulu!" aku menepuk dada.
"Alhamdulillah! Anak ayah memang hebat." kini pria itu yang memelukku.
"Ayo masuk, Zee beli sesuatu nih buat ayah."
Aku menuntun tangan ayah masuk ke dalam toko.
"Zee!" sosok tegap Syaif menyongsongku.
"Syaif. Kamu disini rupanya."
"Iya, Syaif bantuin ayah beres-beres, tadi pas dia lewat kebetulan mobil pengiriman barang datang, jadi ya gitu deh, ayah memintanya membantu."
"Terima kasih, If."
"Tumben, Zee sopan Om, biasanya kan anu." Syaif meledekku.
Kumonyongkan bibir ke arahnya.
"Gimana wawancaranya, Pasti kamu resek deh." Syaif terlihat penasaran.
"Ditolak." kataku, cuek.
"Siapa yang ditolak? Jangan bohong." dia mendekat.
"Aku."
"Jangan bohong, Zee, kasian Syaif, dia sama khawatirnya dengan ayah hari ini. Sampe gak mau makan." Ayah memotong obrolan kami.
"Maaf, Syaif, aku lulus kok."
"Lulus artinya kamu diterima kan?" matanya berbinar.
Aku mengangguk.
"Hebat kamu." Syaif hendak memelukku. Tapi mengurungkan niatnya, saat sadar ada ayah di dekat kami.
__ADS_1
Ayahku hanya tersenyum melihatnya.
Dan Syaif, dia terlihat sangat bahagia. Melebihi kebahagiaanku hari ini.
"Ayah makan dulu yuk, Zee beli ini loh." aku mengalihkan perhatiannya.
"Ayah udah makan, ajak. Syaif saja. Dari tadi pagi kerja terus dia." mata ayah menatap Syaif.
"Tapi aku beli ini buat ayah."
"Ya enggak apa-apa, Zee. Sudah ajak Syaif makan dulu."
"Rugi ya beliin aku makan?" Syaif menjentikan jarinya di bibirku.
"Sakit, Konyol."
Di malah tertawa.
Segera aku menghampirinya, kubalas dengan mencubit pinggang pria bertubuh kekar ini.
"Ampun, Zee, ampun! Om dia gini nih, senjata andalannya cubitan dahsyat." Syaif mengusap pinggangnya.
Aku tersenyum puas.
"Udah kalian makan dulu."
Aku menyiapkan makan, sedangkan Syaif mencuci tangan.
"Hmm! Ya gitu deh." kusodorkan piring berisi nasi dan lauk pauk padanya.
"Gitu deh gimana?" Syaif menyuap nasi perlahan.
Ciri khasnya, selalu hati-hati, tapi gesit, tangkas dalam segala hal.
"Dia beda sama kamu."
"Beda apanya?"
"Sikapnya, Kak Laras tegas, berwibawa gitu, If."
"Terus aku memang gak berwibawa?"
"Dikit."
"Hm!' Syaif menatapku gemas.
Aku balas meleletkan lidah.
"Gimana bos barunya? Kata kak Laras, orangnya nyebelin. Bikin naik darah."
"Iya bener, pertama kali tingkahnya bikin ilfil, eh gak taunya tadi baik banget. Mungkin kak Laras bilang kalau aku temen kamu ya?"
__ADS_1
Syaif terlihat bingung.
"Masa sih?"
"Serius, diawal dia jutek banget. Tadi aku malah Langsung diterima aja sama dia."
Syaif mengangguk-anggukan kepalanya.
"Terima kasih, If."
"Buat apa?"
"Buat info lowongan kerjanya, lah.'
"Oh, kirain."
"Kirain apa?"
"Enggak, iseng aja."
Syaif nampak salah tingkah. Raut wajahnya terlihat lucu.
Cewek yang jadi pacar Syaif pasti akan jadi orang yang paling bahagia, dia perhatian, baik dan satu lagi, lucu, walau kadang sedikit bawel.
"Zee."
"Ya, mulai sekarang kamu harus lebih disiplin, bangun tidur, makan, mandi, pake baju juga, ingat loh, sekarang kamu sekretaris pribadi, tuan Jack Nichol."
"Ecie...Kamu tau nama bosku? Aku aja nggak." aku ngakak. Syaif menoyor jidatku.
"Kan di mejanya ada tuh tulisan Mr, Jack Nickol? Semprul!"
"Aku gak baca gituan, If. Fokus sama hidung si Mister yang lancip kek galah pohon jambu tetanggga kita dulu." kembali aku tergelak.
"Dasar!' Syaif ikut tertawa.
"Kamu naksir dia?"
Aku menggeleng.
"Sekarang sih enggak, If, gak tau kalo nanti."
"Halah, dasar keong racun!"
"Ih dasar juga, biji wijen!"
Tawa memenuhi toko, di dekat Syaif aku selalu merasa bahagia. Pria kokoh ini selalu bisa membuatku tertawa.
Di sudut ruangan, ayah menatap kami, dari matanya aku tau dia berharap jika aku dan Syaif bisa terus bersama. Bahkan hingga akhir hayat.
__ADS_1