Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Kasih Mama


__ADS_3

Pov: Zee


"Zee, maafkan Mama dan kakakmu Dilara, dalam hatinya mereka semua menyayangi mu."


Itu kalimat yang ayah ucapkan sebelum mataku terpejam kembali.



"Sayang, bangunlah, mama buatkan nasi goreng kesukaanmu." kecupan hangat mendarat di dahiku.


Ya Allah, ternyata rasanya seperti ini diperlakukan dengan penuh kasih sayang oleh seorang Mama.


"Terima kasih, Ma."


Aku mencoba bangkit dan duduk, apa daya kepalaku masih terasa berat.


"Jangan dipaksakan dulu, ya, nanti minum teh hangat, setelah itu mama akan lap badan kamu pake handuk basah, agar kamu sedikit nyaman, setelah itu kita coba makan ya!" Mama menyodorkan segelas air hangat dan membantuku meminumnya.


Dengan lembut dia mengusap wajah, tangan, dan kakiku.


Air mataku menetes, akhirnya kasih itu bisa kurasakan, terima kasih ya Allah, aku bersyukur pada apa yang sudah kau limpahkan pada kami.


"Maafkan mama, jika baru sekarang bisa menerima kehadiranmu, mama banyak dosa sama kamu Zee." jemari itu mengusap air mata di pipiku.


"Mama tidak salah, aku memang tak pantas hadir di sini."


"Sayang, jangan berkata begitu, Mama sudah menyadari semuanya jika kamu adalah anugerah indah yang Tuhan berikan pada kami, walaupun tragedi mengerikan itu harus mama alami, tapi mama janji akan mama tebus masa kecil kamu yang buruk dengan keindahan kasih sayang mama sekarang." kami berpelukan.


Aku menangis di dada mama, wanita itu terus mengusap rambutku.


Aku ingin waktu berhenti berputar agar kasih mama terus bisa kurasakan seperti saat ini.


"Ma, aku mau bertemu kakak." saat mengucapkan kalimat itu wajah Kak Dilara muncul, dan mimpi buruk tadi malam terbayang kembali.


"Maafkan kakakmu juga, ya Sayang, mama tau dia pun sayang padamu."


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Nanti mama ajak dia menemuimu."


"Jangan Ma, biar aku saja yang menemuinya."


"Apa kamu sudah kuat, Sayang?"


"Insya Allah, Ma, aku udah mendingan, kan udah dipeluk mama."


"Jika pelukan mama obat bagimu, mama akan peluk kamu setiap hari. Kalau perlu setiap waktu." Mama kembali memelukku.


"Pelukan mama bukan hanya obat, tapi segalanya buat aku, aku akan kuat menghadapi apapun ketika mama dan ayah, kakak dan Syaif ada di dekatku."


"Hm! Serius nih, hanya Syaif, lalu bocah ganteng yang kemarin kesini gimana?" mama menggodaku.


"Jack?" tanyaku.


"Ya. Dia bossmu itu."


"Aku tak tau ma."


"Kok tak tau, kamu sayang sama dia?"


Aku mengangguk.


"Tapi aku takut dengan keluarganya, ma, mereka tak akan mungkin menyetujui cinta kami."


"Cinta tak butuh persetujuan, sayang, selama kalian saling mencintai, dan ingin hidup bahagia, itu sah-sah saja."


"Mama setuju aku dekat dengan Jack?"


"Siapapun orangnya, asal bisa membuatmu bahagia."


"Terima kasih, ma."


"Sama-sama, sayang, semoga yang Kuasa selalu memberikanmu kebahagiaan yang sudah mama renggut di masa kecilmu."


Tangis kami tumpah kembali.

__ADS_1


👇👇👇


Pov: Syaif


"If, sampaikan pada Zee, dia masih bisa kerja di kantor walaupun Jack sudah tak disana lagi." Kak Laras menatapku.


"Oke Kak, nanti aku sampaikan."


"Dia jadi sekretaris Tuan Jeremmy, mungkin ada baiknya buat Zee, agar calon mertuanya itu mengenal dia sedikit demi sedikit."


"Apa Zee sanggup jadi sekretaris orang seperti Tuan Jeremmy?"


"Dia orang yang cukup kompetitif kok, baginya semua dilihat pake ini." Kak Laras menunjuk dahinya."


Aku mengangguk. Kalau Zee bisa mengambil hati pria itu, jangankan putranya, seluruh hartanya bisa dia berikan."


Aku tersenyum bingung, membayangkan Zee yang harus bekerja pada orang sekaku tuan Jeremmy. Tapi ada benarnya juga, buktinya Kak Laras enjoy aja kerja sama bos kek dia.


"Kak, apa Jack benar-benar keluar dari rumahnya?"


"Begitulah, demi cintanya pada Zee, dia rela hidup menggelandang."


"Maksudnya, sekarang dia tuna wisma?"


"Ya gak gitu, If, bagi orang kaya, hidup tanpa kartu kredit, mobil mewah, apartemen mahal, itu sama aja dengan menggelandang, apa lagi Jack yang terbiasa hidup dalam kemewahan."


Aku menganggukan kepala.


Ah, apakah sebesar itu cinta Jack pada Zee, hingga dia rela meninggalkan segalanya?


Ponselku bergetar.


Jack Nichol memanggil, tertera di layar Ponselku.


Ada apa bocah ini menghubungiku?


__ADS_1


 


__ADS_2