Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Mimpi Buruk


__ADS_3

Pov: Zee


"Sayang, tidurlah." Ayah menyelimuti tubuh, Lalu meraba dariku.


"Kau demam lagi." ujarnya.


"Ayah, tetaplah di sini." pintaku, menguap.


"Tentu sayang, ayah selalu di sini bersamamu."


"Apa Kakak marah pada mama?"


"Tenanglah, itu akan jadi urusan mama, kau harus tetap tenang jangan memikirkan hal-hal yang tidak perlu."


"Tapi ayah!"


"Ayo pejamkan matamu, ayah di sini."


Pria setengah baya itu memeluk tubuhku, sesekali diusapnya keringat yang muncul dari pori-pori kulitk membasahi dahi dan hidungku.


Ayah! Terima kasih.


Gadiza Zidni, beruntunglah hidupmu karena memiliki ayah sebaik dan sesempurnanya.


👇👇👇


Jack mematung di depanku, tangannya disilangkan di dadanya.


Raut wajah itu tak kukenal lagi. Ada rona bingung luar biasa di muka tampannya.


"Ada apa Jack? Kau terlihat bingung?"


Dia tak menjawab, tapi menghindar saat aku berusaha menyentuhnya.


"Katakan padaku."


"Maaf Zed, ternyata aku salah telah mencintaimu."


"Apa maksudmu, Jack."


"Wanita yang kucintai ternyata dia." Jack menunjuk seorang wanita yang tengah duduk di kursi roda.


"Siapa dia?" mataku nanar menatap wanita itu.

__ADS_1


"Lihatlah, kau sudah mengenalnya dengan baik."


Mataku tak berkedip menatap sosok ramping berambut panjang itu.


"Kakak, Kak Dilara kah itu?" aku bergumam.


"Ya, dia cinta sejatiku selama ini."


"Apa maksudnya ini? Apa Jack?"


"Aku mencintai dia, maafkan aku." Jack berlalu meninggalkanku dan berjalan mendekati kak Dilara.


Kulihat Kak Dilara tersenyum sinis, dia menyeringai menakutkan.


Seolah-olah berkata "Aku akan merebut apa yang kau miliki, seperti apa yang telah kau lakukan padaku. Zee."


"Jack!"


Tapi Jack tak peduli lagi.


" Jack jangan tinggalkan aku."


"Jack!"


"Jack!"


"Alhamdulillah, cuma mimpi ayah." aku menarik napas lega.


"Mimpi apa sayang? Apakah mimpi buruk?"


"Sangat buruk ayah."


"Sudahlah, jangan diingat lagi, itu cuma bunga tidur."


Aku mengangguk, kembali ayah mengusap tetesan keringat di keningku.


Syukurlah itu hanya mimpi, seandainya nyata bisa hancur hati dan jiwaku ini.


Pov: Jack


"Hai Jack!"


"Lama kau tak menghubungiku, apa kau sudah melupakanku?"

__ADS_1


Ada banyak email yang kuterima dari Zed. Aku memang sudah lama tak membukanya.


Untuk apa dia mengirimkan email jika kami selalu bertemu hampir setiap hari.


Ah gadis itu benar-benar aneh.


Kelinci manis! Ayolah buka identitasmu, mengakulah jika kau Zee, jangan lagi pura-pura!


Tapi akan kuikuti pulak permainan gadis nakal ini.


"Hai cantik! Aku di sini, dan tak pernah melupakanmu." balasku akhirnya.


Tak berapa lama dia membalasnya.


"Benarkah?"


"Ya, kau wanita terindah dan terhebat yang pernah kukenal."


"Baiklah! Kupegang kata-katamu."


"Harus sayang, kau selalu bisa memegang semua kata-katakku."


Di mengirimkan lambang hati. Kubalas gambar senada.


"Zed, apa kau tak ingin bercinta kembali denganku?" aku memancingnya.


"Pantaskah kau tanyakan itu, sedangkan kau tau bercinta denganmu adalah candu untukku." balasnya. Meghujam jantungku.


Lalu, percintaan online pun terjadi, kami saling mendekap, memberikan kenikmatan dan kehangatan dengan untaian kata-kata seperti biasa.


Dia melenguh, mendesah, hingga membuatku tak berdaya.


"Jack, teruskan, jangan sampai disitu, aku masih ingin." desahnya.


Kuturuti pintanya, mencumbu kembali gadis nakal itu.


Bibir, leher hingga dadanya tak luput dari cumbuanku hari ini.


Zed melenguh bahagia.


Hingga kami rebah dipenuhi peluh asmara.


Zed! Kau wanita luar biasa, aku mencintaimu.

__ADS_1


 


__ADS_2