Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Siapa yang melukai hatimu, Sayang?


__ADS_3


Pov: Syaif


Malam ini Zee mengajakku belanja, tapi bukan untuk kebutuhannya, aneh memang.


Dilara tak bisa ikut Dengan kami, karena tiba-tiba kondisinya nge-drop setelah check-up kemarin.


Tapi gadis itu memberikan daftar belanjaan yang harus dibelinya. Dan Zee terlihat sangat bahagia. Karena bisa memenuhi keinginan kakaknya.


Gadis ini memang luar biasa, lihatlah wajahnya, dia terlihat bahagia ketika berhasil menghabiskan gajinya untuk orang-orang yang disayanginya.


"Belilah, beberapa untukmu." pintaku saat lima Paper bag ditententengnya. Dan tak satupun belanjaan milik gadis itu di dalamnya.


Dan dia hanya menggeleng.


"Aku yang akan membayarnya, Zee." lugasku.


Lagi, dia mengeleng.


"Lalu?"


"Apa yang lalu?"


"Kamu terlalu mikirin orang lain, hingga lupa dengan dirimu sendiri."


"Masa sih?"


"Hm! Ya kamu gak bakal ngerasa lah. Orang gila aja gak ngerasa kalau mereka gila."


"Syaif! Tega sekali kamu nyamain aku sama orang gila." bibirnya manyun.


"Bukan begitu, tapi kamu itu aneh, swear deh!'


"Aneh kenapa sih?" dia mendekat padaku.


"Orang-orang itu bekerja untuk menyenangkan dan memenuhi kebutuhannya, lah kamu?"


"Kenapa harus aneh? Aku bahagia kok, dengan melihat orang-orang yang aku cintai bahagia."


"Hm!" Aku mendengus kesal.

__ADS_1


"Aku masih punya banyak baju layak pakai, If, menghamburkan uang saja jika aku membelinya sekarang." ucapnya, menyeruput teh hangat.


"Lalu bagaimana dengan Dilara? Bukankah dia juga punya banyak pakaian di lemarinya?"


"Beda denganku If, bagi kakak belanja itu hiburan tersendiri untuk menghilangkan kejenuhan dalam hidupnya. Jadi wajar saja kalau Kakak harus sering-sering belanja, hitungannya therapi gitu, If." ujarnya pelan.


Tak ada amarah, tak ada benci di sana, yang ada hanya ikhlas, dan ketulusan.


"Bajumu banyak? Aku malah hafal baju mana saja yang kau punya, itu-itu aja!" aku protes.


"Aku tetap cantik kan walaupun bajuku sederhana, dan itu-itu aja." dia nyengir.


Aku mencubit dagunya, dia mengaduh.


Lalu menyandarkan kepalanya di dadaku.


Zee! Aku kagum padamu.


Aku saja masih kesal pada Dilara yang kutau sangat membencimu.


Tapi kau? Subhanallah! Terbuat dari apa hatimu ini?


"Ngeliatnya gitu amat sih? Jadi malu akunya." Zee mencubit pinggangku.


Dia menatapku lekat.


Tiba-tiba wajah itu diselimuti awan hitam, matanya berkaca-kaca.


"If, apa aku tak layak dicintai? Apa aku ini noda hitam buat kalian? Hingga kalian malu menjadikanku sebagai wanita pendamping dalam hidupmu?"


"Kenapa kau bicara begitu?"


Zee menarik napas panjang.


"Apa Jack menyakitimu?"


Gadis itu menggeleng.


Namun sorot matanya tak bisa membohongiku.


Ada banyak luka perihal cinta di sana. Aku tak bisa memahami apa yang ada di hatinya.

__ADS_1


Jika dia terluka, siapa yang melukainya? Jika dia sakit hati, siapa yang menyakiti hatinya? Hati gadis istimewa ini.


Gadis yang namanya tak henti kusebut dalam doa. Gadis yang selalu ingin kulihat bahagia.


Bersandarlah semaumu di dadaku, ada banyak bahagia dan keteduhan yang bisa kau dapatkan di sana.


Nyaman, dan tenang. Aku harap kau bisa merasakannya, Sayang!


Dia Zee!


Hanya Zee, dan tetap akan seperti itu.


Karena dia Zee-ku.


🌸 🌸 🌸


Pov: Zee


Aku merebahkan tubuh di dada Syaif, hilang risau, sedih dan kecewa itu. Kecewa pada rasa cinta yang dikhianati.


Dan Syaif selalu punya cara untuk membahagiakan aku.


"Zee, jika kebahagiaanmu ada bersamaku, akan kuikuti langkah kaki Kemana pun kau pergi."


Indah bukan? Itu kalimat yang selalu diucapkannya padaku.


Syaif! Mengapa Tuhan tak menghadirkan cinta dariku untukmu? Kenapa harus Jack? Pria yang kupilih?


Berat, sakit dqn kecewa, karena aku tau antara aku dan dia ibarat langit dan bumi.


Jack terlalu sempurna untukku yang terlalu banyak diselimuti kekurangan.


Jack!


Jack!


Aku ingin menghapus nama itu dari hatiku, bantu aku If!



Pict by: Shopia Baequni

__ADS_1


**Jangan lupa vote ya, gaess!


Bersambung!**


__ADS_2