Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Kembali pada Jalan-Nya


__ADS_3


Pov: Zee


Tiga menit kemudian suasana hening, tak kudengar apapun. Hatiku makin resah, apa yang terjadi dengan Pak Jeremmy.


Dengan keberanian yang tersisa kubuka pintu mobil.


Para bandit itu tak satupun yang nampak, rupanya mereka sudah melarikan diri, tak berapa lama kudengar suara raungan kendaraan.


Mungkin mereka mulai meninggalkan lokasi setelah mendapatkan apa yang mereka minta dari ayahnya Jack.


"Pak!" aku berteriak.


Sosok itu terduduk dengan punggung menyandar pada sebuah pohon besar di pinggir jalan.


Dia mengalihkan pandangan padaku.


"Terima kasih, Tuhan!" dia bangkit dan memelukku.


Tubuhku kaku, bagian mana bisa, seorang Jeremmy Nichol memeluk tubuh Zee, gadis yang teramat diinginkan untuk menjauhi putranya.


"Bapak baik-baik saja?" tanyaku, setelah dia melepaskan pelukannya.


"Seperti yang kau lihat, Zed! Bagaimana keadaanmu, masih shock?


"Aku baik-baik saja, pak, tapi aku khawatir dengan keadaan bapak."


"Jangan khawatirkan aku Zed, aku laki-laki, harus memberikan perlindungan dan rasa nyaman pada perempuan yang ada di sisiku." dia tersenyum manis.


Aku mengangguk.


Ah, kata-katanya mirip sekali dengan apa yang sering diucapkan Jack, mungkin benar, Jack ngadaptasi semua perilaku ayahnya.


"Kenapa kau menatapku begitu? Apa kau merindukan anakku?"


Aku tak menjawab, segera kupalingkan wajah agar pria itu tak melihat gemerlap rindu dari sinar dan raut wajahku.


"Sepertinya malam ini kita harus bermalam di sini, ban mobilku kempes, aku tak membawa ban cadangan,"

__ADS_1


"Tidak apa-apa pak, ini sudah pukul dua pagi, sebentar lagi juga shubuh."


"Kita kembali ke mobil untuk istirahat aku akan mengabari klien kalau kita akan datang terlambat."


"Baik pak, tapi saya ijin sholat dulu, sebentar lagi waktu isya habis."


"Apa kau punya air untuk bersuci?"


"Ada hanya untuk sekedar minum pak!"


"Lalu bagaimana kau bisa sholat?" dia menatapku heran.


"Saya bisa bertayammum pak," jawabku.


"Memang kamu bisa?"


"Insya Allah."


Segera kuambil mukena dari tas yg aku bawa, pakaian sholat itu tak pernah lepas kemana pun aku pergi, di kantor ada mushola yang nyaman dan bersih, serta dilengkapi mukena yang terjaga kebersihannya.


Kak Laras cukup over protected pada kebersihan mushola, dia pun rajin ibadah, tapi aku kurang nyaman jika harus mengenakan mukena orang lain. Makanya kemana pun aku pergi, benda ini selalu ikut bersamaku.


Pak Jeremmy terus mengikuti gerak gerikku, melihatku bertayammum dan sholat. Bahkan hingga aku berdoa.


"Oh, bapak mau sholat juga? Itu artinya bapak seorang muslim, tadinya aku kira bukan," aku menutup mulut.


Keceplosan kali ini. Aduh Zee, ini hal sensitif pasti pak Jeremmy marah besar.


"Maaf pak, aku saya tidak sengaja," aku menundukkan kepala, tak berani kutatap wajah bosku ini.


"Kami muslim, mamanya Jack juga seorang muslimah, keturunan Turki, tapi wajar kalai kamu menyangka kami non muslim, karena selama ini kami jarang menjalankan rutinitas hal yang berbau keagamaan." Pak Jeremmy menarik napas dalam.


"Ya sudah kalau bapak mau sholat, saya ajarin tayammumnya."


Pak Jeremmy mengangguk. Lalu khusuk mengikuti apa yang kucontohkan.


Aku tertegun menatap pria itu bersujud lama, dalam akhir sholatnya terdengar dia terisak. Hanya kalimat "Ampuni hamba ya Allah!" yang bisa lirih terdengar dari mulutnya.


Aku turut bersimpuh, di belakangnya, hutan dan sepinya malam ini jadi saksi kembalinya seorang pria ke hadapan Tuhannya.

__ADS_1


Pria yang punya sejuta kuasa di perusahaan besarnya, pria yang disegani, dihormati, bahkan semua kata yang keluar dari mulutnya tak bisa dibantah oleh bawahannya.


Kini pria itu bersimpuh di hadapan-Mu ya Allah, terimalah taubatnya, bantu dia kata menemukan jalan kembali pada-Mu.


Aku mengaminkan semua doa-doanya, doa untuk usahanya, doa mohon ampunnya, doa untuk kesejahteraan keluarga besarnya.


Tak lupa kudengar dia menyebutkan nama Jack Nichol, "Berikan kesehatan lahir batin untuk anak dan istriku, ya Allah."


Tuhan semesta alam, kau lah Maha Pembolak Balik hati manusia.


"Terima kasih, Zed!" dia menjulurkan sajadah yang sudah terlipat, aku menerimanya.


Setelah itu di mengulurkan tangannya. Kuterima dengan bergetar.


Untuk pertama kalinya aku mencium tangan kokoh itu.


Hanya Tuhan yang tau betapa rasa gemuruh luar biasa di dada saat punggung tangannya menyentuh bibirku. Hingga tetes air mata jatuh di sana.


"Maafkan segala kesalahanku padamu." matanya meredup.


"Tak ada yang harus dimaafkan pak," ujarku pelan.


"Kau dan Jack adalah korban dari keserakahanku selama ini."


"Tapi saya berterima kasih bapak mengijinkan saya bekerja di kantor bapak."


"Itu hakmu, kau punya kredibilitas dan kapasitas untuk itu, aku suka hasil kerjamu. Zed."


"Terima kasih pak."


"Ayo masuk mobil, istirahat, sebentar lagi pagi."


Kami berjalan beriringan menuju mobil untuk beristirahat.


Waktu berjalan, hingga tiba sebuah mobil petugas yang akan mengganti ban mobil tuan Jeremmy.


Raut wajahnya berangsur berubah, doa terlihat ramah menyapa para pekerja itu, Bahkan setelah beres, pria itu memberikan tip yang cukup lumayan.


Kini aku mulai melihat betapa pria ini banyak memiliki sisi baik, wajar jika dia tegas, disiplin, dan tak pernah membeda-bedakan karyawan dalam hal pekerjaan, bekerja dengan hati, itulah mungkin yang bisa membuatnya sesukses ini.

__ADS_1


Jack! Aku bangga pada Ayahmu. Tapi tidak padamu.


Bersambung.


__ADS_2