Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Rindu


__ADS_3

Pov: Zee


Tak pernah kusangka sebelumnya, aku dan Jack akan bisa sedekat ini, pria konyol ini begitu sangat menyenangkan.


Sikap urakannya berubah jadi selembut sutra saat di dekatku. Dia jadi dewasa mendadak.


"Hati-hati, Zee, Jack punya emosi yang aneh. Tapi hatinya baik sih." Pesan Kak Laras dulu sebelum dia cuti dari perusahaan.


Benar saja, dia memang aneh.


Dan aku mencintai pria aneh itu. Gila bukan?


"Aku turun di sini saja Jack."


"Tidak, aku akan mengantarkanmu sampai rumah."


"Tak usah, kau sudah lelah, arah rumahku dan apartemenmu kan memutar berlawanan."


"Itu bukan masalah buatku, Zed."


"Baiklah, tapi kuharap ini tak merepotkanmu, Jack."


"Hallo! Ingat Jack sekarang aku pacarmu, jangan secanggung itu padaku."


"Tapi aku sungkan."


"Nanti kau akan terbiasa, cobalah."


"Baiklah, terserah padamu saja."


"Itu baru manis."


Aku manyun, Jack tersenyum manis padaku.


Tak berapa lama kami tiba d depan rumah.


Sangat sepi, selarut ini ayah dan Mama pasti tengah terlelap.


"Aku pulang ya, Sayang, sampaikan salamku untuk calon ayah mertuaku."


"Siapa calon ayah mertuamu?"


"Om Hanif, ayahmu." dia terkekeh.


"Ngarep."

__ADS_1


"Memang."


"Ya sudah Jack, aku masuk ya,"


"Oke sayang, istirahatlah, besok tak usah masuk kantor, istirahatlah dua hingga tiga hari." Jack mengecup dahiku.


"Selamat malam, Jack."


"Selamat malam, Sayang." Jack melambaikan tangan lalu melajukan mobilnya perlahan.


Aku tersenyum sendiri, sekilas kulihat tirai jendela kamar Kak Dilara terbuka, lalu menutup kembali dengan cepat.


Apa dia belum tidur?


Benar kata ayah, kak Dilara pasti sangat terganggu dengan adanya gosip yang beredar tentangku dan Jack.


Sebelum pintu kubuka dengan kunci yang kubawa, ayah sudah berdiri didepanku dan tersenyum membuka lengannya.


"Ayah." aku menghambur ke dalam pelukannya.


"Selamat datang anak ayah. Alhamdulillah kamu baik-baik saja."


"Kenapa ayah menungguku?"


"Ayah tak sabar ingin melihatmu, Zee."


Kami beriringan memasuki rumah.


"Aku membeli banyak oleh-oleh untuk ayah, mama, kak Dilara dan Syaif."


"Terima kasih sayang, istirahatlah dulu, besok kita buka apa yang kamu bawa."


"Oke ayah."


Aku mencium kedua pipi pria itu.


Lalu berjalan menuju kamarku.


Waktunya aku istirahat.


❄️ ❄️ ❄️


"Zee, buka pintunya." ayah mengetuk pintu.


"Iya ayah."

__ADS_1


"Lihat siapa yang datang."


Seorang pria berbadan tegap berdiri di belakang ayah.


"Syaif."


Aku memeluknya. Rasanya rindu luar biasa pada pria ini.


"Pagi sekretaris cantik."


"Ish, apa sih kamu."


Syaif tertawa.


"Duduklah, If, sebentar aku ambilkan oleh-oleh untukmu."


"Aku dapat juga?"


"Iyalah, If, kapan Zee melupakanmu? Mungkin sebelum membeli barang untuk kami, dia akan membeli untukmu terlebih dahulu." ayah memotong pembicaraan kami.


"Enggak gitu juga ayah."


"Terima kasih, jelek."


"Tadi cantik sekarang jelek, kamu nggak konsisten, If."


Ayah dan Syaif tertawa, mereka terlihat sangat akrab.


Bagaimana kalau ayah tau aku sudah menerima cinta Jack? Apa ayah akan marah? Secara selama ini ayah sangat berharap jika aku bisa menikah dengan Syaif.


Ya, aku akui Syaif memang baik, bahkan sangat baik, tak ada pria seperti Syaif, tapi aku tak punya rasa cinta padanya seperti rasa yang saat ini kurasakan pada Jack.


Di dekat Syaif, aku tak pernah merasakan getaran aneh, sedekat apapun aku dan Syaif, kami sering pergi bersama, Nonton, makan, bahkan kadang pergi berkemah berdua.


Syaif memang sopan, dia tau cara memperlakukan wanita, tapi apa iya, atau Syaif pun sama sepertiku, tak memiliki rasa selain persahabatan.


Tapi jujur, aku takut kehilangan Syaif, takut dia meninggalkanku.


Dan Jack, kenapa cowok Tengil itu sekarang selalu bercokol di otakku?


Lagi-lagi sensasi ciuman pertama yang diberikannya menggoda, hangat dan memabukan, sepertinya aku tak akan melupakan semuanya.


Aku teringat Jack, ah, sedang apa dia sekarang?


Ah, aku tiba-tiba rindu padanya.

__ADS_1


 


__ADS_2