
Pov: Zee
Tubuhku goyah, saat kudengar Syaif bicara jika Jack saat ini koma. Dia terkena luka tusuk pisau orang sewaan Anto.
Siapa Anto aku pun tak tau, yang jelas kulihat Nadia pun ikut histeris. Wanita ini kalang kabut.
Dia mengumpat tak karuan, bibirnya komat-kamit. Tapi aku tak paham apa yang dibicarakannya.
"Kita ke rumah sakit sekarang,"ujarku.
"Pake mobilku saja, Ze, apa kau bisa menyetir?" tanyanya.
Aku mengangguk.
Kami bergegas menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan wajah Jack terus berada di pelupuk mata.
Bagaimana jika Jack kehilangan nyawa? Aku belum sempat meminta maaf padanya.
Jack, bertahanlah, aku datang, lupakan apa yang terjadi, semoga Tuhan memberikan kesempatan padaku untuk memperbaiki segalanya, memberikanmu kesempatan juga untuk menceritakan segalanya padaku. Tak ada lagi yang kita sembunyikan.
Kami tiba di rumah sakit. Telat Jack sudah masuk ruang ICU.
Aku memeluk Syaif yang tampak lelah, wajahnya pucat.
"Aku minta maaf, aku tak bisa memenuhi janji, Jack sudah terkapar saat aku datang."
Aku tak menjawab, hanya memeluk dan menangis di dadanya. Tubuhku lemas laksana tak bertulang.
Nadia histeris. Dia menjerit menyebut nama Jack. Para perawat menenangkannya, karena gadis itu terlalu lemah, akhirnya suster membawanya ke ruang IGD.
"Apa yang terjadi dengan Jack, Syaif? Apa dia bisa selamat?" aku tak kalah khawatir.
"Insya Allah bisa, Zee, kita berdoa saja, Jack terlaku banyak mengeluarkan darah, perutnya terkoyak cukup dalam, dia harus segera dioprasi."
"Bagaimana dengan keluarganya?"
"Orang tuanya dalam perjalanan. Tuan Jeremmy dari luar kota."
Iya, aku baru ingat Pak Jeremmy sedang meresmikan proyek di daerah Sumatera.
Syaif mengajakku ke depan ruang ICU, dari balik kaca aku bisa melihat Jack yang tengah terbaring.
Air mataku Jatuh, tak tega rasanya melihat sosok yang kucintai tergolek tak berdaya, ditambah beberapa selang memenuhi tubuhnya.
"Apa Jack akan baik-baik saja?" gumamku.
"Pasti Zee, semuanya akan baik-baik saja, kita terus berdoa."
"Apa dia akan terus berbaring seperti itu?"
"Dokter sedang menunggu tindakan lanjutan, mereka menunggu persetujuan keluarga Jack terlebih dahulu, ini masalah nyawa kita tak bisa berbuat sembarangan."
__ADS_1
"Cepat hubungi mamanya If, bisa mati kalau Jack didiamkan begitu saja." aku kembali terisak.
"Iya, kata Kak Laras mamanya sebentar lagi sampai."
Belum kering bibir Syaif, seorang wanita tiba dan langsung histeris.
"Jack, ini Mommy sayang, apa yang terjadi padamu?" tubuhnya ambruk di depan ruang ICU, kami langsung memapahnya ke sebuah kursi yang terdapat di sana.
"Tenang dulu Tante, tenang ya, Insya Allah Jack baik-baik saja. Kita doakan." Syaif berusaha menenangkan mamanya Jack.
"Zee, kamu di sini sayang." mata wanita muda itu mengarah padaku. Mukanya sembab.
Bibirnya bergetar, lalu membuka lengannya lebar.
"Iya tante aku di sini," aku menghambur ke pelukannya.
"Kenapa dengan Jack? Ada masalah apa sebenarnya ini?"
"Aku tak tau Tante, semuanya terjadi begitu saja." aku menggeleng.
Lalu melirik ke arah Syaif, berharap dia mau menceritakan semuanya, setidaknya kau akan tau hal apa yang membuat Jack terkapar seperti saat ini.
Tapi dia hanya menutup muka, sesekali menarik napas berat.
"Jika sesuatu terjadi pada anakku, tak akan kumaafkan kau, Jeremmy, kau yang membuat anakku pergi dari rumah, kau yang tega membiarkan dia menggelandang di jalanan."
Aku terdiam. Benarkah? Jadi selama ini Jack pergi dari rumah!
"Kau biarkan putraku terkatung-katung tanpa uang sepeser pun. Kau membunuhnya Jeremmy. Kau pembunuh!" Wanita itu makin histeris.
Aku hanya diam, tak tau harus berbuat apa.
"Tenang tante, tenang, kita hadapi ini dengan kepala dingin." Syaif menepuk bahunya.
"Hanya karena masalah pilihan wanita, kau tega memperlakukan anakmu layaknya penjahat, kini lihat akibatnya,dia akan mati, mati karena ulah dan keegoisanmu." mamanya Jack bersimbah air mata, bahunya berguncang hebat.
Aku memeluknya erat.
"Tante apa yang terjadi sebenarnya? Jack tak pernah menceritakan apapun padaku."
"Demi kamu dia pergi dari rumah, demi membuktikan keseriusan akan pilihan hatinya, Jack pergi, karena Dadnya tak suka kalau dia berhubungan denganmu. Dia merencanakan perjodohan Jack dengan Nadia."
Aku terpaku, lidahku kaku.
Tuhan! Apa lagi ini? Berapa banyak orang yang akan terluka karena mencintai, menyayangi wanita hina sepertiku ini?
Jack!
Aku tak memintamu melakukan ini semua, aku mohon berhentilah berkorban untukku, berhenti membuatku tak berdaya begini.
"Keluarga Tuan Jack Nichol diharapkan segera menghadap ke ruangan dokter Ryan Adiguna."
__ADS_1
Terdengar suara dari mikrofon.
Syaif menatap mamanya Jack.
"Tante, segera ke sana, Jack butuh penanganan lanjutan."
Wanita itu mengangguk, dia terlihat bingung.
"Ayo aku antar, biar Zee menunggu di sini."
"Iya tan, aku di sini saja, aku tak mau meninggalkan Jack sendiri."
Mereka bergegas memasuki lift yang terletak di samping ruang ICU, lalu menghilang menuju lantai atas.
🌸 🌸 🌸
Dengan langkah berat Aku berjalan mendekati ruang Jack kembali, walaupun terhalang kaca aku bisa melihat wajah tampan itu pucat pasi, matanya terpejam rapat.
Air mataku jatuh, perih laksana tersayat sembilu, rasanya begitu sakit melihat orang yang kita sayangi tergolek tak berdaya.
Maafkan aku Jack, aku egois, aku mau menang sendiri.
Mengapa kau tak jujur padaku? Apa sebenarnya yang kau cari dariku? Menguji ketulusan, atau memang selama ini aku hanya jadi objek cinta seperti apa yang kau lakukan pada wanita-wanita lain?
Tapi jika iya, mengapa kau rela meninggalkan segalanya untukku? Hidup dan segala kemewahan yang kau miliki.
Apa lagi yang mau kau cari, kau tau aku mencintaimu. Tapi aku sadar diri Jack, siapa aku, masa laluku. Tak mudah bagi seorang pria untuk menerimanya.
Ya, gadis dengan asal usul tak jelas sepertiku.
Gadis yang lahir dari sebuah perbuatan jahat.
Aku tau diri, kupahami itu, maafkan, jika aku memaksakan perasaan ini padamu.
Di sini, aku teguhkan hati, tak akan lagi kupaksakan rasa ini padamu, jika hanya membebani pikiran dan hatimu.
Cukup sudah, aku tak mau melibatkan kembali orang lain dalam konflik dan duka hitamnya masa laluku.
Kita memang tak akan bisa bersatu, terlalu banyak perbedaan itu, aku pun tak ingin jika cinta tulus kita ini hanya akan membuat hidupmu sengsara.
Lupakan aku, lupakan apa yang pernah terjadi diantara kita, buka hati untukmu untuk wanita lain, aku merelakan semuanya, karena melihatmu bahagia adalah keinginan terbesarku, walaupun aku harus berduka selamanya.
Tahukah kau, apa itu cinta sejati?
Cinta sejati adalah cinta yang tak membicarakan pengorbanan, yang ada hanya keikhlasan dan ketulusan. Mungkin aku akan memilih jalan itu, jalan untuk kebahagiaanmu.
Bersambung.
"Jika cinta ini begitu menyakitkan, mengapa tak kau coba melepaskan, sejatinya cinta itu membahagiakan"
__ADS_1