
Pov: Zee
🌸 Negeri di atas awan, Lebak Banten
Di perjalanan suara Adzan maghrib berkumandang, tapi segan memintanya untuk berhenti, padahal tadi kami melewati sebuah mesjid. Akhirnya kuniatkan sholat jama takhir saja.
Aku berharap dia berhenti di pom bensin, agar aku bisa sholat Isya sekaligus sholat jama takhir maghrib.
Mobil perlahan meninggalkan keramaian kota, suasana jalan mulai lengang bahkan terkesan sepi. Mungkin sudah jam sebelas malam.
Malam mulai merambat pelan, tapi aku berusaha untuk tak memejamkan mata. Tak enak hati juga melihatnya khusu nyetir sedangkan aku tertidur.
"Ngantuk? Tidur saja." mata Pak Jeremmy melirikku.
"Bapak enggak istirahat dulu?" Aku bertanya.
"Nanti setengah jam lagi kita berhenti di rest area, sekalian isi bensin." ujarnya.
Aku mengangguk.
Kembali pak Jeremmy fokus ke jalan raya yang mulai sepi, kami sudah memasuki area perkebunan karet.
Tiba-tiba terdengar suara seperti petasan yang meledak.
Dan mobil pun oleng. Lalu berhenti tiba-tiba. Terdengar ban berdecit akibat direm mendadak.
"Astagfirullah!" aku berteriak.
Pak Jeremmy menoleh padaku.
"Tenang, Zed!"
"Kenapa mobilnya pak?"
"Kemungkinan bannya pecah, tapi kita harus memastikan ini dulu." ujarnya, bersiap membuka pintu.
Tapi sebelum pintu di buka, kaca mobil diketuk dari luar.
Terdengar seseorang berteriak, suaranya menggelegar di tengah kesunyian malam.
"Keluar kalian, kalau tidak mobil ini akan kami bakar!"
Aku tersentak.
__ADS_1
Tak menyangka jika kejadiannya akan seperti ini.
Suasana yang cukup gelap membuat kami tak bisa melihat siapa pun.
"Jangan dibuka pak, mungkin mereka orang jahat." aku mulai panik.
"Tenanglah." Pak Jeremmy menepuk pundakku.
"Pak, siapa mereka?" tanyaku bingung bercampur takut.
"Kemungkinan besar mereka rampok atau begal spesial jalanan."
"Artinya kita sekarang dihadang begal?"
Pak Jeremmy mengangguk. Tersenyum ke arahku.
Terdengar kembali ketukan di kaca mobil, kini lebih keras dari sebelumnya.
Dia menyalakan seluruh lampu mobil, suasana temaram berubah menjadi terang.
"Jangan keluar, sebelum aku yg memintanya, telpon polisi jika dalam sepuluh menit aku tidak kembali ke mobil ini."
"Pak, hati-hati." ujarku.
"Satu lagi, jika sesuatu terjadi padaku, katakan pada Jack dan Mommy-nya, jika mereka adalah orang-orang yang sangat kucintai." dia menatapku lekat.
"Ingat pesanku, konsentrasi, jangan panik."
"Pak." panggilku kembali.
Dia menoleh dan mengusap kepalaku.
"Aku akan baik-baik saja."
Lalu dia membuka pintu. Terdengar suara bentakan dari beberapa orang.
Sepertinya ada negoisasi.
Aku melekatkan telinga, mencoba mendengar apa mereka bicarakan. Kucoba membuka sedikit kaca, agar bisa lebih tau apa yang jadi bahasan para begal itu.
"Suruh keluar temanmu itu." hardik seorang pria, nampak ditanganya sebuah senjata tajam.
Pak Jeremmy bergeming.
"Bawa keluar orang yang bersamamu!'
__ADS_1
"Hei apa kau tuli? Atau dia wanita selingkuhanmu?" terdengar begal itu tertawa dibalik topeng yang mereka pakai.
"Dia Anakku, sedang masa penyembuhan, dia menderita asma dan kanker, jika kalian mengganggunya kemungkinan akan kambuh penyakitnya."
"Kami tidak percaya omonganmu sebelum melihatnya."
"Aku mohon jangan ganggu anakku. Saat ini dia sedang tidur efek obat asma yang diminumnya. Jika tidak dia sudah pingsan melihat kejadian ini."
"Kalau begitu serahkan semua yang kamu miliki pada kami."
"Baik, aku hanya membawa sedikit uang tunai, tapi Jam tangan, dan cincin yang aku pakai cukup untuk hasil kalian malam ini."
"Bagaimana kalau kami mengambil mobilmu, sepertinya mobil mahal." ujar seorang begal, sambil memegang mobil pak Jeremmy.
"Terserah, mobilku memang mahal, tapi mobil ini sudah terhubung dengan dengan jaringan keamanan internasional, kemana pun kalian lari akan bisa ditemukan. Mobil ini punya GPS tersendiri, lokasi kalian bisa dilacak."
Para begal itu terdiam.
Aku menutup kaca pelan pelan, khawatir jika para begal itu curiga.
Waktu terus bergerak.
Sudah tujuh menit. Dengan bergetar kusiapkan nomor keamanan perusahaan yang selalu siap 24 jam.
Serta nomor polisi yang ada di ponselku.
Ya Allah, selamatkanlah kami.
Selamatkan dan lindungilah Tuan Jeremmy.
Peluhku berjatuhan, walaupun Pendingin masih dalam kondisi menyala.
Tuhan! Aku tak pernah meminta apapun padamu wahai pemilik semesta, tapi kali ini, kumohon lindungi dia, seburuk apapun sikapnya padaku, tapi aku benar-benar berdoa untuk kebaikannya kali ini.
Jack, im here, are you remember me now? That you feel I need you, need your help and your pray!
Bersambung.
Pict by: Eggi Ramadhan
Location: Negri di Atas Awan, Lebak Banten.
__ADS_1