Cinta Pertama Sang CEO

Cinta Pertama Sang CEO
Janji Setia


__ADS_3

Pov: Jack


"Jack, ketemu yuk di kafe deket apartemen lo."


"Sorry, Jo lagi males gue."


"Ayolah, gue punya berita baru buat lo."


"Ya udah tunggu gue disana m, ajak Adam sekalian, gue mau ngomong sesuatu sama dia."


"Yoi, bro, gue tunggu lo."


Jo menutup telpon.


Padahal aku males keluar rumah, udah niat mau nge-chat Zed malam ini, nanggung tadi cium dia dikit doang. Dalam keadaan pingsan lagi.


Gak jantan banget kesannya, seorang Jack Nichol cuma berani nyium cewek incerannya saat si cewek gak sadar. Bisa jadi headline berita di liputan bisnis ini.


Yang lebih ngeri sih, kalau Zed tau, bisa abis aku dicakarnya, secara kelinci manis itu galak banget.


Matanya sangar kalau melihatku nyuri pandang sama dia.


Ah, tapi beruntung kamu Jack hari ini si kelinci nakal itu memelukmu bukan?


Pasti saat ini Zed, sedang membayangkan hal indah tadi pagi.


Hm! Belum tau aja dia Hangatnya pelukan seorang Jack Nichol. Pasti besok dia bakal minta lagi.


👇👇


"Hai Jack, kayaknya loe sibuk banget ya, di kantor baru bokap loe?" Adam, pria seumuranku mendekat.


"Mau ngopi apa minuman khas pria?" Jo menatap kami bergantian.


"Loe pikir ini di club? Udah gue minta kopi hitam m, dengan sedikit gula."


"Bukanya loe doyan moccachino?"


"Gue pengen hal baru aja, salah?'


Padahal aku membayangkan kopi yang kupesan ini adalah kopi buatan Zed, seperti tadi sore.


"Oke brow, gosah ngegaslah, gue tau kok, loe nyari suasana baru kan loe sekarang CEO perusahaan beken."


"Dam, gue pesan satu apartemen paling nyaman yang deket ke kantor dan apartemen gue."


"Loe mau pindah?'


"Bukan buat gue?"


"Trus buat siapa?"


"Kepo aja loe!"


"Oke, gue siapin, apa yang enggak buat loe, Jack."

__ADS_1


"Gue suka gaya loe." balas Jo


"Sayang Gue gak suka, Jo."


"Lagian bahaya juga, kalo Loe suka sama gue, Jack." Adam nyengir.


"Gue jitak miskin loe."


Kami terbahak. Asap rokok mengepul.


Tapi tunggu!


Apa aku tak salah lihat, bukankah itu Zed? Tapi siapa pria yang bersamanya? Apakah dia pacarnya?


Dasar kelinci nakal, tadi aja semaput, sekarang dia enak-enakan jalan sama cowok tinggi besar itu.


Konyolnya gadis galak itu terlihat sangat bahagia, aku kira kamu sedang memikirkan kejadian tadi pagi Zed, tak tahunya kau malah jalan bersama pria aneh sok ganteng itu.


Dadaku panas. Cemburu kah aku? Oh no, seorang Jack Nichol cemburu? Ini berita buruk.


"Bengong loe, liat setan?" Adam menggoyang bahuku.


"No, tapi sorry Dam, pesanan apartemen gue cancel dulu, besok gue kabarin lagi."


"Kesambet lekong mana loe, Jack, jadi plin plan gini?"


"Jangan banyak omong, ikuti aja kata gue, gak usah banyak protes."


Adam dan Jo bengong.


Gila! Hatiku panas membara, berani-beraninya dia menyentuh cewek yang udah gue incer jadi teman hidup selamanya.


Zed!


Tunggu saja besok, kau harus menjelaskan ini padaku.


👇👇


"Kemana kamu tadi malam?" cecarku saat dia mengantarkan berkas yang kupinta.


"Memang harus ya aku lapor bapak saat aku mau jalan?"


"Bukan begitu, Zed, kukira kau sakit."


"Siapa bilang aku sakit?" matanya mendelik.


"Aku melihatmundi kafe, malah mesra-mesraan sama pria badan besar itu."


"Syaif maksudnya?" Zed tertawa.


"Coba aja lawan dia, bapak bisa di hm!" dia meletakan tangan di leher, mengibaratkan jika aku bakal digoroknya.


"memang siapa dia?"


"Dia atlet nasional taekondo, Bapak sih kecil.' Zed menjentikan jarinya.

__ADS_1


Jadi kau suka cowok yang bisa taekondo, silat, karate?" tanyaku geram.


Zed menggedikan bahu. Lalu memonyongkan bibirnya, jelas dia meledekku.


Ampun! Ingin rasanya kutarik bibir mungil itu dan kugigit keras, biar tau rasa dia.


"Zed!"


"Apalagi pak bos? Aku mau kerja, gak enak pula kalau terus ladenin bapak ngobrol, artinya aku makan gaji buta, dan itu gak halal. Bahaya." Zed kembali ke ruangannya.


Dasar kelinci kecil nakal!


"Jack!" sebuah email masuk.


Hah! Zed.


Mau main main dia rupanya. Sepagi ini dia ngajakku chattingan.


Tadi saja pura-pura cuek.


"Zed."


"Kemana saja kau, apa kau lupa padaku?'


"Lupa? Mana bisa Zed? Aku takkan bisa melupakanmu."


"Harus, kau tak boleh jadi milik orang lain, karena kau hanya milikku."


"Tentu saja, Zed. Aku hanya milikmu, sayang."


"Ayolah, aku merindukanmu."


"Aku juga."


"Dekap aku Jack, cumbuilah aku sekarang."


Pintanya manja, membuat darahku mendidih seketika.


Napsu kelelakianku menggelora.


Kami bergumul dahsyat, meluapkan kerinduan. Dan Zed benar-benar luar biasa.


"Jack, aku mencintaimu."


"Aku juga, Zed, sangat mencintaimu. Sangat dan itu tak akan berubah Zed."


"Berjanjilah padaku, kau tak akan meninggalkanku."


"Aku janji padamu, Zed, janji."


Kembali kupagut bibir manis nan mungil itu, Zed mendesah manja.


Aku suka desahannya walau hanya dia tulis dalam chatting dunia maya.


 

__ADS_1


__ADS_2