
Pov: Syaif
"Ada apa Jack?" suara Zee terdengar sangat khawatir pada pria Tengil di depanku ini.
Dan lihatlah! Betapa konyol tingkahnya kini, dia seolah mendapatkan angin segar yang diberikan Zee padanya.
Tidak! Kenapa aku tidak merasa nyaman melihat kedekatan dua mahluk ini. Bukankah selama ini aku dan Zee tidak punya hubungan khusus selain persahabatan?
Kenapa muak sekali saat Jack bertingkah begitu perhatian pada Zeeku, ah Zeeku? Benarkah dia Zeeku? Bukan, dia milik orang lain dan itu adalah Jack Nichol.
"If, istirahatlah!" Om Hanif memanggil dan memintaku untuk duduk di sampingnya.
Setidaknya saat ini dia lebih membutuhkanku. Aku terdiam saat pria itu mengusap pundakku pelan, seolah menguatkan hatuku, ketika tak sengaja mataku menatap Jack mengecup dahi Zee.
Kenapa dadaku bergejolak, rasa panas menjalari seluruh aliran darahku.
Apa aku cemburu pada seseorang Jack Nichol, jika ia itu artinya hubungan persahabatan kami selama ini tidak sehat.
Bukan Zee yang berkhianat, tapi aku, aku Syaif, hari ini mengakui jika jatuh cinta pada gadis manis teman masa kecilku.
Gadiza Zidni, gadis yang kini tengah dipeluk seorang pria asing yang baru beberapa bulan dikenalnya.
"If, kemarilah." suara Zee terdengar pelan.
"Iya." Aku mendekat padanya.
"If, maafin Jack, dia gak salah, hanya ada kesalahan fahaman antara dia dan Daddy-nya.
"Sudahlah Zee, jangan dipikirkan, yang penting kau baik-baik saja."
"Tapi aku gak mau kalau kalian marahan." mata bulatnya menatapku.
"Kami gak marahan, sayang. Iya kan Bang? Eh Syaif."Jack menyela cepat.
Aku mengangguk.
"Kemarilah, If." Zee meraih tanganku dan menyatukan dengan tangan Jack. Ingin rasa aku menolak tapi melihat mata gadis itu yang begitu penuh pengharapan aku tak tega melakukannya.
"Maafkan aku, Jack." ujarku berusaha tenang, agar Zee juga merasakan ketenangan saat ini, gadis ini sudah terlalu banyak menderita, jika tingkahku tak dewasa dia akan semakin merasa tertekan.
"Sama-sama If, aku juga minta maaf tadi sempat emosi, but its okey, kita bisa jadi sahabat bukan?" Jack menggenggam tanganku.
Kami mengangguk bersamaan. Zee dan Om Hanif tersenyum melihatnya.
__ADS_1
Oke Zee, jika ini yang kau harapkan aku akan berusaha menjadi teman buat si Konyol ini, tapi jika dia menyakitimu maka aku akan bertindak sesuai dengan kelakuan dia padamu.
"Ayo lah kita pulang, Zee sudah baikan, kasian mamanya di rumah menunggu." ujar om Hanif.
"Baik om." sebentar aku urus administrasinya dulu ya, Jack tetaplah bersama Zee."
"Okey." Jack mengangkat jempolnya.
Aku beranjak menuju ruang administrasi rumah sakit.
Ada yang aneh, hari ini si konyol tak membawa mobil mewahnya.
Pov: Jack
Kami mengantarkan Zed kembali ke rumahnya.
Tak berasa lama kami tiba di kediaman keluarga Zed, terlihat sepi dan lengang.
Kami memampah tubuh Zed yang masih lemah,lalu mendudukannya di Sofa.
"Tunggu ya sayang, ayah panggil mamamu dulu."
Zed mengangguk.
"Aku tak mau menemui anak sialan itu." ujar seorang wanita dengan keras, suaranya begitu nyaring."
"Sudahlah, semua tak ada artinya lagi, toh Zee sudah tau semuanya." Om Hanif menenangkan dengan suara dipelankan.
"Tidak untuk hari ini, kejadian mengerikan itu tak pernah bisa aku lupakan apa lagi ketika aku melihatnya."
"Zee tidak bersalah, dia juga korban sama sepertimu, apa dia yang meminta dilahirkan dari kejadian terkutuk itu? Ayolah, pahami kondisi anak itu, kamu ibunya, dia butuh dirimu."
"Kenapa anak itu selalu menjadi penghalang dan duri dalam hidup kita?"
"Dia bukan duri, tapi dia bidadari yang dikirimkan Tuhan untuk kita, sadari itu, aku mohon sekali ini saja, Zee butuh kamu Ibunya, berikan dia pelukan sekali saja dalam hidupnya."
Lalu suasana hening.
Tubuh Zee bergetar, aku mendekapnya, air mata gadis itu tumpah kembali.
"Tenanglah, sayang." bisikku.
__ADS_1
Ternyata dia begitu terluka, kelinci manis ini menyimpan begitu banyak kepedihan dalam hidupnya.
Syaif menggenggam tangan Zed sesekali matanya menatapku, Jujur saja Kami masih sungkan berdekatan begini.
Tak berapa lama seorang perempuan berbaju hitam keluar, matanya terlihat sembab. Di belakangnya om Hanif mengikuti.
Dia mendekat pada Zed.
"Zee." ucapnya.
Zed mengangkat wajahnya.
"Mama." panggilnya lirih.
"Maafkan mama sayang." Zee menghambur ke pelukan wanita itu. Mereka menangis bersamaan.
"Maafkan Zee mama, jika kehadiran Zee hanya merusak kebahagiaan keluarga ini,"
"Mama yang harus minta maaf padamu, sayang, maafkan mama, ibu macam apa mama ini, tega melakukan hal sekejam ini padamu."
Ya Tuhan! Baru kali ini aku melihat pemandangan yang begitu mengharukan, dua manusia yang sesungguhnya memiliki hubungan darah itu saling memeluk dan menangis haru.
Begitu juga dengan Syaif dan Om Hanif, mata mereka juga basah.
Ternyata benar kisah hidup Zee buat begitu penuh liku dan air mata.
Aku tak menyangkanya, di wajah ceria itu tersimpan begitu banyak penderitaan.
"Mama."
"Iya sayang, ini mama, mulai hari ini mama adalah ibu kamu, kau dan kak Dilara adalah anak mama, tidak ada yang bisa merubah itu."
"Terima kasih, Ma, aku sayang sama mama."
"Mama tau itu sayang, hanya saja selama ini hati mama tertutup oleh dendam dan sakit hati, kamu jadi korban keegoisan mama. Zee." tangan mamanya Zed mengusap kepala calon istriku itu.
"Mama." suara seorang wanita terdengar menggelegar.
Dan di sana, diujung tangga, seorang gadis cantik berambut panjang menatap lurus, wajahnya terlihat penuh amarah.
Tunggu! Wajah itu sepertinya tak asing bagiku.
Tapi dimana?
__ADS_1
Bersambung.