
Pov: Syaif
Mata merah itu terlihat penuh penyesalan.
Tunggu, ada yang aneh dengan gadis ini.
"Kau mabuk?"
Gadis itu menggeleng.
Ya ampun, mana ada orang mabuk ngaku.
Dengan terhuyung gadis itu berjalan mendekat padaku, benar saja aroma mulutnya bau alkohol.
Aneh jam segini minum alkohol, di ruang publik, dengan kondisi bawa kendaraan? Sudah gila ini orang.
"Mau loe apa sih? Tadi minta obat tidur dosis tinggi, sekarang loe minum alkohol mau nyetir mobil? Kenapa gak sekalian aja loe bunuh diri?" geramku.
"Loe enggak tau apa yang gue rasain, makanya ngomong seenak bacot di depan gue." gadis itu meracau.
"Sekarang gue tanya di mana alamat loe, biar gue anterin?" ternyata gue gak bisa secuek itu.
Di mataku gadis itu berubah menjadi Zee, bagaimana kalau dia yang sekarang berdiri di depan laki-laki asing dalam kondisi mabuk?
Gadis itu menyebutkan alamat, sebuah pemukiman elite, pantesan songong nih cewek.
Walau suaranya samar tapi aku bisa mencernanya.
"Naik ke mobil gue, loe duduk manis gue anterin sampe rumah loe, urusan mobil loe biar nanti petugas yang nganterin."
Aku membuka pintu mobil, gadis berjeans hitam itu masuk dan langsung duduk tanpa berkata lagi.
Sial banget aku hari ini. Niat beli obat malah nemu cewek sekarat.
Dalam perjalanan gadis itu meracau tak karuan, bibir pucatnya terus saja bergerak.
Sesekali dia mengangkat telunjuknya.
"Laki-laki ***, ****!"
Kalimat itu puluhan kali keluar dari mulutnya.
Aku tiba di depan sebuah rumah mewah, bercat putih dengan gaya Eropa, pagar tinggi itu otomatis terbuka saat klakson kubunyikan.
Sebuah mobil sport mewah terparkir manis di sana.
Gila nih cewek, rupanya dia dari kalangan borjuis.
Saat aku menurunkan gadis itu dari mobil, seorang pria tergopoh menghampiri kami.
__ADS_1
"Kenapa Nadia?" tanyanya.
Dan!
Astaga! Jack Nichol? Sedang apa dia si sini? Apa gadis ini adik atau pacarnya?
Tunggu, Jack anak semata wayang, kalau begitu itu artinya dia...!
Apa ini yang membuat Zee menangis dan bersikap aneh?
*** kau!
"Oh jadi begini kelakuanmu di belakang Zee? Oke, kalau begitu!" gigiku gemelutuk.
"Syaif, santai, tenang dulu, ini tak seperti yang kau lihat, dia Nadia sahabatku." Jack mendekat.
"Bacot loe sahabat, jadi ini hal yang membuat sahabat gue nangis, galau gara-gara mikirin pacar bangsatnya selingkuh? Bagus... Bagus!"
"Sabar If, bukan itu masalahnya, ini Nadia sahabat kecil gue."
Hampir saja bogem mentahku mampir di wajahnya kalau bukan karena suara Nadia yang menghentikannya.
"Jack, tolong aku, Tolong Aku!"
"Nad, sadarlah, kamu kenapa sih?" Jack terlihat panik. Dia menatapku lalu berkata,
Tanpa bicara aku dan Jack membopong tubuh Nadia yang terkulai lemas.
Jack terlihat panik, melihat cara dia memperlakukan Nadia aku teringat sikapku pada Zee.
"Nad, sorry aku ga bisa datang kemarin malam, aku sibuk kerja di kafenya Haikal. Kamu tau itu kan?"
Wajah Jack diliputi kekhawatiran yang jelas sekali terpampang di rautnya.
"Ada apa ceritakan padaku semuanya."
"Mereka ***, Jack, mereka ****."
"Siapa mereka, katakan padaku, Nad?"
Nadia menggeleng, air matanya berderai, aku kembali teringat Zee, tingkahnya sama, saat menangis susah bicara.
"Katakan semua, Nad, katakan!" Jack mengguncang bahu gadis itu.
"Aku sudah ternoda Jack, mereka menggagahiku di sana."
"Siapa yang melakukannya, Nad, siapa?" Jack terlihat emosi.
Nadia Histeris lalu tak sadarkan diri.
__ADS_1
Jack terdiam, mata pria aneh itu basah, rahangnya mengeras, tangannya mengepal.
"Kenapa dia Jack?"
" Aku sudah memperingatkannya untuk tidak sering-sering clubbing,"
"Apa dia diperkosa di sana?"
"Mungkin, aku sudah lama tidak clubbing, semenjak mengenal Zed. Aku janji padanya tak lagi akan menyentuh alkohol serta dunia malam."
"Lalu kenapa dia tak lapor polisi?"
"Aku yakin, Papanya yang melarang dia melaporkan hal ini pada polisi, Ayah Nadia pasti takut nama baiknya tercemar."
"Orang tua macam apa itu? Melarang anak mencari keadilan?"
"Dimana kau bertemu dia If?"
"Di apotek, Saat itu dia ngotot minta obat tidur dosis tinggi."
"Astaga! Maafkan aku Nad, aku tak bisa datang malam itu." Jack tersedu.
Terlihat sekali dia menyayangi gadis yang kini tak sadarkan diri.
"Lalu mau kita apakan dia?"
"Tunggu dia sadar dari pengaruh alkohol terlebih dahulu, baru kita bisa mencari keterangan darinya."
Aku mengangguk, menarik napas berat.
Hari ini benar-benar sial.
"Aku pulang dulu Jack, kau bisa menelponku jika membutuhkan bantuan."
Dia mengangguk.
"Syaif, sampaikan salamku untuk Zed."
"Kenapa kau tak menghubunginya?"
"Dia tak mau mengangkat telponku."
"Berusahalah, pahami apa yang sedang dipikirkan Zee saat ini."
"Baiklah, nanti aku akan menemuinya."
"Dia merindukanmu, Jack!"
Pria itu memalingkan wajah, entah apa yang ada di pikirannya saat ini.
__ADS_1