Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 10 Permintaan papa


__ADS_3

"Dengan keluarga pak Pramana!" Suara dokter yang menangani papa Namira memanggil setelah selesai melakukan tugasnya.


Dua wanita berbeda generasi yang sedang duduk tak jauh dari ruang ICU beranjak dengan tergesa menghampiri dokter itu. mereka ingin segera mengetahui kondisi terkini laki-laki yang sama pentingnya bagi mereka, yang kini sedang terbaring di dalam sana.


"kami keluarganya dok, saya putrinya dan ini mama saya. Bagaimana keadaan papa saya dokter?" Namira tidak sabar untuk segera mengetahui kondisi papanya. Begitu pula dengan mama Namira.


"pak Pramana sudah melewati masa kritisnya. tapi sekarang beliau masih dalam pengaruh obat. kita tunggu saja sampai beliau bangun nanti, bagaimana perkembangan selanjutnya" jelas dokter berkaca mata itu, yang membuat Namira dan mamanya bisa sedikit bernafas lega.


Pasangan ibu dan anak itu mengucap syukur secara bersamaan mendengar kabar baik yang di bawa sang dokter.


"apa kami bisa menemuinya dok?" tanya mama Namira tidak sabar.


"sebaiknya satu orang saja yang masuk, nanti kalau pak Pramana sudah di pindahkan di ruang perawatan biasa,maka sudah bisa bebas di jenguk" dokter itu kembali menjelaskan.


"baik dok, terima kasih" ucap ibu dan anak itu serempak.


Di karenakan hanya satu orang saja yang boleh masuk, maka mama Namira lah yang akhirnya memasuki ruangan itu, karena dia lah yang paling berhak atas hal tersebut. sedangkan Namira memilih untuk menunggu di kursi panjang yang tersedia di sekitar ruangan.


Beberapa jam kemudian papa Namira sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat biasa karena kondisinya sudah mulai stabil. Tapi tadi dokter berpesan kalau jangan sampai membuat pak Pramana shock karena itu akan sangat berbahaya bagi kesehatan pria itu.


"gimana keadaan papa? apa papa sudah merasa lebih baik?" Namira bertanya dengan memegang lengan papanya.


"kamu baik-baik saja Namira?" bukannya menjawab, laki-laki yang sedang terbaring lemah itu malah memberikan pertanyaan pada putrinya dengan tatapan sendu.


"Namira baik-baik aja kok pa, kenapa papa tanya kayak gitu?" Namira mengerutkan keningnya tak mengerti.

__ADS_1


Pak Pramana menghela nafas panjang. Matanya menatap langit-langit ruangan seperti sedang memikirkan sesuatu. Pikirannya menerawang jauh memikirkan masa depan putrinya.


"papa hanya ingin kamu bahagia Namira" ucap pak Pramana dengan suara yang sedikit tertahan.


"Namira udah merasa bahagia kok pa, Namira bahagia memiliki ayah yang baik seperti papa" hibur perempuan itu mencoba menenangkan papanya.


"menikahlah Namira" ucap pak Pramana tiba-tiba yang membuat Namira membelalakkan mata.


"maafin Namira pa, Namira nggak bisa melanjutkan hubungan dengan Alvan lagi" kalimat itu di ucapkannya dengan berhati-hati.


"papa ingin ada yang menjaga kamu kalau papa sudah tidak ada di dunia ini lagi" ucapan pak Pramana berhasil membuat Namira meneteskan air mata, begitu pula dengan mama Namira.


"jangan berkata seperti itu pa, papa pasti akan sembuh dan lebih sehat dari sebelumnya" ucap Namira terbata-bata.


"papa takut kalau usia papa tidak lama lagi dan tidak bisa menyaksikan pernikahan putri yang papa sayangi ini" pria itu seperti menahan tangis. Dia tak mau terlihat lemah di depan anak dan istrinya.


"papa nggak minta kamu untuk menikah dengan laki-laki itu. Dia sama sekali tidak pantas bersanding dengan kamu"


"lalu maksud papa?"


"papa ingin kamu menikah dengan pria lain. dia adalah putra almarhum sahabat papa" pak Pramana tampak menghela nafas seperti menahan rasa sakit. sedangkan Namira terkejut mendengar permintaan papanya. Di sisi lain,dia juga sangat mengkhawatirkan kondisi papanya itu.


"sebenarnya sudah lama papa ingin menjodohkan kamu dengan dia,tapi karena kamu sudah memilih Alvan, maka papa mengurungkan niat itu" pak Pramana melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong tadi.


Namira tak menyangka kalau papanya akan meminta hal itu saat kondisinya sedang buruk seperti ini. Tentu ia tidak akan bisa menolak permintaan itu, karena Bagi Namira kesehatan papanya adalah yang paling utama.

__ADS_1


"baiklah pa, Namira bersedia untuk menikah dengan laki-laki pilihan papa" Namira berusaha untuk setegar mungkin mengucapkan kalimat itu.


"papa senang mendengar itu Namira, papa yakin kalau kamu akan bahagia bersamanya karena dia adalah lelaki yang sangat baik" pak Pramana meraih tangan Namira dan menggenggamnya erat.


"iya pa, Namira percaya papa selalu memberikan yang terbaik untuk anak papa ini" Namira mengembangkan senyum untuk menutup perih yang ia rasakan. Membiarkan rasa itu ia pendam sendiri.


"terima kasih Namira,kamu sudah mengabulkan permintaan papa" pak Pramana tau kalau putrinya terpaksa menuruti keinginannya,dan dia sempat merasa menjadi manusia paling egois di dunia karena itu. Tapi dia harus tetap melakukannya karena ia tau kalau anak sahabatnya itu adalah yang terbaik untuk Namira. Dan suatu saat dia akan bahagia bersama pria pilihannya itu.


"sama-sama pa, Namira senang kalau papa bahagia"


"tentu Namira,papa sangat bahagia karena putri kesayangan papa akan segera menikah"


Ayah dan anak perempuannya itu pun saling berpelukan. Berbagi rasa sedih bercampur bahagia yang bercampur jadi satu. Papa Namira bahagia karena akhirnya Namira akan bersama dengan laki-laki yang tepat untuknya, sedangkan Namira merasa sedih karena harus menikahi laki-laki yang tak di cintainya.


Mama Namira hanya bisa menatap kedua orang yang di sayanginya dengan perasaan sedih. Dia tak bisa berbuat apapun untuk merubah keadaan. Yang di lakukannya hanya bisa berdoa saja untuk kebaikan dan kebahagiaan mereka.


Sebenarnya mama Namira sudah lama mengetahui niat suaminya untuk menjodohkan anak mereka. Tapi setelah melihat Namira bahagia menjalani hubungannya bersama Alvan, suaminya itu sudah tak pernah membahas tentang itu lagi.


Dia tidak menyangka kalau suaminya akan membicarakan masalah itu lagi di saat-saat seperti ini. sebenarnya dia merasa sedih dengan nasib putrinya. karena setelah di khianati tunangannya kini ia malah harus menuruti kemauan papanya untuk menikah dengan orang yang bahkan tak di kenalnya sama sekali.


"papa harus janji sama Namira, setelah ini papa harus sembuh, biar bisa mengurusi persiapan pernikahan Namira" kata-kata motivasi di ucapkan Namira, mencoba untuk memberi semangat pada papanya.


"tentu Namira,papa pasti akan segera sembuh. Papa kan harus sehat di saat pesta pernikahan putri papa nanti" pak Pramana berucap dengan senyum merekah di wajahnya. Namira pun membalas dengan tersenyum juga.


Di dalam hati pak Pramana berharap kalau ini adalah keputusan yang tepat untuk masa depan Namira. Dia yakin bahwa anak sahabatnya itu akan menjadi imam yang baik dan bertanggung jawab untuk putrinya itu. karena pak Pramana sudah sangat mengenal laki-laki itu dengan sangat baik.

__ADS_1


Pak Pramana berencana untuk segera mempertemukan mereka secepatnya, agar bisa saling mengenal satu sama lain. Meskipun mereka belum saling mencintai,tapi ia yakin kalau cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu.


__ADS_2