Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 69 Mari kita berpisah


__ADS_3

Namira masuk ke dalam ruang kerja suaminya yang di dominasi warna coklat pastel itu dengan hati deg-degan, karena selama menjadi istri Rafka ia tak pernah sekalipun masuk ke dalam ruangan ini.


Ternyata ruangan itu cukup luas dan tertata rapi. Meja kerja lengkap dengan kursinya berada di dekat jendela. Dan ada pula sofa berwarna senada yang bertengger manis tak jauh dari meja kerja. Beberapa rak buku yang di atasnya banyak buku-buku yang tertata sesuai dengan tema bukunya juga ada di sana.


Namira baru tau kalau ternyata suaminya itu suka membaca buku juga sama sepertinya. Hanya saja buku bacaan Rafka terlihat lebih berat di banding dia yang hanya suka membaca novel, komik atau majalah saja.


Di meja kerja Rafka ia tak sengaja melihat foto keluarga Rafka yang lengkap bersama ayah ibunya dan juga Alena yang sedang tergeletak di atas meja. Dan di sampingnya ada satu foto lagi, tapi ia tak bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di dalam foto itu karena tertutup sebuah kertas di atasnya.


Jiwa kekepoan Namira meronta. Ia penasaran dengan siapa yang ada di dalam foto itu, ia pun mengulurkan tangannya dan sedikit lagi akan berhasil menggapainya foto misterius itu. Tapi sebelum ia mengambilnya, suara seseorang berhasil mengejutkan Namira. Ia sampai sampai terlonjak saking terkejutnya.


"Kamu ngapain di sini Namira?" Tanya Rafka kemudian buru-buru berjalan ke meja kerjanya, lalu mengambil foto yang akan di lihat oleh Namira tadi, dan memasukkannya ke dalam laci yang terletak di bagian bawah meja.


Hal yang di lakukan suaminya itu pun semakin membuat Namira penasaran dan bertanya-tanya di dalam hati, ada apa gerangan dengan foto itu.


*Siapa sebenarnya yang ada di dalam foto itu? kenapa Rafka seperti menyembunyikannya dariku?


Dan seberapa pentingnya orang yang ada di dalam foto itu, sehingga Rafka memandanginya bersamaan dengan foto keluarganya juga..


Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dariku Rafka?*


"Aku mau ngasih tau kamu kalo makan siang udah siap. Kamu dari mana? kok nggak keliatan dari tadi, tiba-tiba udah nongol aja di belakang aku!" Tanya Namira penuh dengan tanda tanya


"Aku dari sana!" Rafka menunjuk ke satu titik pintu yang tertutup di dalam ruangan itu, ternyata ruangan ini di lengkapi dengan toilet juga.

__ADS_1


"oh.. Ya udah deh kalo gitu aku tunggu di luar aja!" Namira berbalik badan berniat akan pergi dari ruangan itu. Ia memilih untuk membiarkan rasa penasarannya pada foto itu, tanpa berani bertanya langsung pada Rafka.


"Namira, bisakah kita bicara sebentar!" panggil Rafka sebelum Namira memegang gagang pintu bermaksud untuk segera keluar dari sana.


"Iya. mau bicara apa Raf?" Namira tak jadi pergi. Ia kembali mendekati posisi Rafka lalu duduk berhadapan dengannya.


"Mari kita berpisah, Namira!" ucap Rafka tiba-tiba yang membuat Namira terperangah karena tak percaya. Ia tak menyangka kalau Rafka akan mengucapkan kalimat yang menyakitkan itu.


Entah mengapa hati Namira terasa perih mendengar perkataan suaminya. Tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba saja Rafka berkata seperti itu. Itu membuatnya seperti mendapatkan kejutan tak terduga di siang bolong.


"Kenapa tiba-tiba kamu menginginkan hal itu Raf?" tanya Namira sambil meremas jari tangannya sendiri, mencoba mengurangi rasa gelisah yang hinggap di hati.


"Aku.. Aku ingin fokus pada kesehatan Alena" jawab Rafka yang membuat perasaan Namira semakin terluka. Ia merasa kalau dirinya sama sekali tak berharga di mata suaminya.


Namira menghela nafas panjang. Tenggorokannya terasa tercekat tak bisa mengeluarkan suara.


*Bukankah ini yang aku inginkan dari dulu? berpisah dari Rafka setelah waktunya tiba..


Dan kini waktu itu sudah tiba, harusnya aku bahagia karena Rafka sendiri yang memintanya, sehingga papa dan mama tak akan menyalahkanku dengan adanya perpisahan ini..


Tapi kenapa rasanya hatiku begitu sakit? Bahkan aku sama sekali tak menyangka kalau rasanya akan sesakit ini..*


Ada perasaan tak rela di sudut hatinya yang tak ia sadari. Yang ia mengerti hanya lah perasaan sakit yang tiba-tiba muncul. Yang membuat dadanya terasa terhimpit oleh rasa sesak.

__ADS_1


"Baiklah kalo itu mau kamu, Rafka. Kita akan secepatnya berpisah" dengan terpaksa Namira mengucapkan kalimat itu.


"Maafkan aku Namira" Rafka menatap mata Namira dalam. Sesungguhnya pria itu pun merasakan hal yang sama dengan Namira. Ia pun berat untuk berpisah dengan wanita ia cintai, tapi dia tetep harus melakukannya untuk suatu alasan.


"Kamu nggak perlu minta maaf, Rafka. Karena kamu nggak salah dalam hal ini. Baiklah kalo gitu aku pergi!" Namira beranjak dari tempat duduknya kemudian keluar dari ruangan itu dengan membawa luka di hati yang tak ia pahami.


Rafka memandang kepergian Namira sampai ia menghilang di balik pintu. Ia pun menjambak rambutnya sendiri karena merasa frustasi. Meja kerja yang tak bersalah pun tak luput dari luapan amarahnya, Ia menghantam meja itu dengan cukup keras hingga tergeser dari tempatnya.


Ia mengambil ponselnya, lalu di bacanya ulang pesan yang masuk setelah ia pulang dari rumah sakit tadi. Pesan singkat itu adalah pesan chat dari Alvan yang berisi..


Tepati janjimu sekarang juga! lepaskan Namira..


Dia hanya membaca saja pesan itu tanpa mau membalasnya. Sebenarnya bukan hanya janjinya pada Alvan alasan utama pria itu melepaskan istrinya. Semua ini ia lakukan untuk kebahagiaan Namira sendiri. Ia merasa kalau Namira tak pernah bahagia jika bersamanya.


Selama beberapa bulan menikah, yang di berikannya hanya lah kesedihan saja. Tak pernah sekalipun ia melihat Namira tersenyum bahagia.


Oleh karena itu, akhirnya ia putuskan untuk melepaskan Namira agar ia bisa bahagia bersama dengan laki-laki yang ia cintai.


Ia mengambil foto yang di simpannya dalam laci tadi, lalu memandangi foto itu tanpa berkedip. Rasanya hatinya begitu sakit membayangkan hari-hari selanjutnya yang akan ia jalani tanpa wanita yang ia cintai.


Di dalam foto itu, Namira tampak tertawa lebar meskipun tidak sedang menatap ke arah kamera, karena foto itu di ambilnya diam-diam saat Namira mengobrol dengan bik Imas di dapur tanpa sepengetahuannya.


Rafka akan selalu menyimpan foto itu sebagai pengobat rindu, karena jauh di dalam lubuk hatinya ia masih sangat mencintai istrinya itu.

__ADS_1


Jarak dan waktu boleh memisahkan mereka, tapi hati Rafka akan selalu mencintai Namira, sampai kapanpun.


__ADS_2