
Sudah berjam-jam mereka bertiga menunggui Alena di depan ruang operasi dengan harapan yang tinggi, harapan yang tak pernah putus untuk kesembuhan gadis yang sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam sana.
"lebih baik kamu makan dulu Namira! bukankah dari tadi kamu belum makan?" Rafka tiba-tiba membuka suara, dia teringat kalau sejak tadi istrinya itu belum makan sama sekali, karena terlalu sibuk memikirkan tentang kondisi Alena. Terakhir dia melihat Namira menyentuh makanan hanyalah tadi pagi.
Dia memang memikirkan kesehatan Alena, tapi dia juga harus memikirkan istrinya pula. Karena orang yang sehat pun akan bisa jatuh sakit jika tidak menjaga pola makan dan juga kesehatan diri.
Alvan yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Rafka dan juga Namira sambil memasang wajah tak enak. Dia seperti marah mendengar kalimat itu.
"jadi kamu belum makan sejak tadi Namira?" tanya Alvan, tapi kalimat itu lebih terdengar seperti todongan di telinga Namira.
"aku nggak laper Raf, Van" balas Namira kepada kedua laki-laki itu secara bersamaan. Tentu ia tak mau memperpanjang masalah hingga terjadi keributan seperti tadi.
"Dasar suami nggak becus!! masak istri sampai jam segini nggak makan, di biarin aja?! kalau nggak bisa ngurus Namira, biar aku aja yang ngurus!" Alvan malah menyalahkan Rafka, dia menyembur laki-laki itu dengan omongan pedas level dewa.
"Eh.. jangan sembarangan ya kalau ngomong!! emang lo nggak dengar gue tadi bilang apa sama Namira?!" Rafka membalas omongan Alvan seakan tak mau kalah, jadi lah perang mulut yang terjadi di antara mereka. Bahkan panggilan mereka sudah berubah jadi Lo dan gue sekarang.
"cukup Rafka, Alvan!! kenapa malah ribut lagi sih?! apa kalian nggak bisa nggak bersikap kekanak-kanakan seperti itu?" Namira mulai menengahi, dia mengatakan itu dengan nada tinggi agar Alvan dan Rafka mengehentikan perang mulut mereka.
Kedua pria itu pun menghentikan keributan yang mereka buat, menuruti ucapan Namira. Tampaknya hanya perempuan itulah yang bisa menghentikan perang dingin di antara Rafka dan Alvan, yang sudah seperti anjing dan kucing.
Mereka saling menatap tajam satu sama lain, tapi kemudian membuang muka. Berusaha menahan emosi agar Namira tak semakin marah.
"Ayo ke kantin rumah sakit Namira, kamu harus makan dulu" ajak Alvan sambil menarik pelan tangan Namira, bermaksud untuk mengajaknya makan terlebih dahulu.
"heh.. ngapain Lo main tarik-tarik aja? di depan suaminya lagi!? dasar nggak ada akhlak!!" hardik Rafka.
"ha.. ha.. ha.. apa Lo bilang? suaminya?! apa maksud Lo suami yang nggak pernah di cintai?!" balas Alvan sambil tertawa meledek.
__ADS_1
Namira sampai terperangah melihat kedua lelaki yang ada di hadapannya itu. Entah sejak kapan sikap mereka berubah drastis seperti ini. Mereka jadi gampang tersulit emosi dan juga tak mau kalah antara satu sama lain.
Namira benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa mereka berdua malah ribut, padahal situasinya sedang sangat genting begini.
Pada akhirnya Namira pun menyerah. Dia bangkit dari duduknya kemudian pergi meninggalkan dua lelaki yang sedang terlibat adu mulut itu.
*Ya ampun.. mereka berdua tuh kekanak-kanakan banget sih?! berantem melulu dari tadi!
Bikin suasana jadi tambah runyam aja!
Lebih baik aku pergi, nanti aku akan ke sini lagi untuk mengetahui keadaan Alena*
Namira pun pergi tanpa sepengetahuan mereka, karena saking sibuknya dengan perang mulut yang mereka lakukan.
Sebenarnya Namira tak tau harus menuju ke mana setelah pergi dari sana. Ia hanya mengikuti ke mana arah kakinya melangkah. Tanpa ia sadari, ia menghentikan langkahnya di taman rumah sakit. Sepertinya dia memang butuh menyegarkan pikirannya sejenak di tempat semacam itu.
Namira duduk di salah satu bangku taman yang kosong di sudut taman itu, tepatnya di sebelah bunga Bougenville yang sedang bebunga lebat.
Wanita itu menengadahkan wajahnya ke atas, menghirup udara sedalam-dalamnya, mencoba merilekskan pikiran.
Rafka dan Alvan baru sadar kalau Namira sudah tidak ada di dekat mereka. Tanpa di suruh, mereka menghentikan adu mulut mereka dengan sendirinya.
Alvan langsung pergi dari tempat itu untuk mencari keberadaan Namira. Sedangkan Rafka lebih memilih untuk diam di tempatnya untuk menunggui adiknya.
Alvan menyusuri lorong rumah sakit sambil sesekali menengokkan kepala ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Namira.
Pikiran Alvan tertuju pada satu tempat, ia rasa kemungkinan besar wanita yang sedang di carinya ada di sana. Kantin rumah sakit, itulah tempat yang ada di dalam pikirannya.
__ADS_1
Dengan terburu-buru Alvan melangkahkan kakinya ke tempat itu. Berharap agar bisa menemukan Namira. Tapi sesampainya di kantin ia tak menemukan keberadaan Namira.
Rasa kecewa melingkupi hati Alvan saat ini. Saat ia tak bisa menjumpai Namira di tempat itu. Alvan pun berniat mencari ke tempat lain. Tapi sebelum itu, ia memesan dua porsi ayam goreng mentega salah satu menu kesukaan Namira, lengkap dengan nasinya. Tak lupa dua minuman isotonik untuk menambah energi.
Setelah selesai memesan makanan, Alvan bergegas untuk mencari Namira lagi, kemana pun kakinya melangkah.
Cukup lama mencari, akhirnya laki-laki itu menjumpai juga keberadaan Namira. Ia melihatnya sedang duduk sendiri di bangku taman sambil memejamkan mata dengan posisi duduk, seperti sedang kelelahan.
Alvan mendekati Namira kemudian duduk di sampingnya, membuat wanita itu terperanjat kaget karena tiba-tiba ada seseorang di sana.
"Alvan?! sejak kapan kamu di situ?" ujar Namira kaget.
"sejak tadi" jawab Alvan asal.
"mending kamu pergi aja! aku kesel sama kamu. dari tadi ribut terus kerjaannya!" omel Namira.
"maaf Namira. aku tadi cuma kepancing emosi" ucap Alvan merasa bersalah.
"percuma dari tadi minta maaf terus, tapi entar di ulang lagi. Aku sampe capek tau nggak ngadepin sikap kalian yang udah kayak anak kecil aja!" Namira tak segampang itu memberikan maaf. Tadi dia sudah memberikan maafnya, tapi kemudian kedua laki-laki itu mengulangi kesalahan mereka lagi dan lagi.
"kali ini nggak akan aku ulangi lagi, aku janji!" ujar Alvan berusaha meyakinkan lawan bicara nya.
Namira mencebik, tak mau percaya begitu saja pada omongan laki-laki itu.
"udah, jangan marah-marah terus, nanti hilang cantiknya! Lebih baik kamu makan dulu, ini aku bawakan ayam goreng mentega kesukaan kamu" Alvan menyodorkan makanan dan minuman yang tadi di belinya di kantin rumah sakit.
"nggak ah! aku nggak selera" Namira menolak makanan pemberian Alvan dan mengembalikan makanan itu lagi padanya.
__ADS_1
"kamu harus makan Namira. Kalo kamu begini, nanti sakit mag kamu malah kambuh gimana?!" ujar Alvan penuh perhatian.
Namira refleks menatap laki-laki itu, dia tak menyangka kalau Alvan masih ingat tentang hal itu. Dia masih mengingat hal-hal kecil tentang Namira.