
Setelah selesai menghabiskan makanan mereka, Namira dan Alvan kembali lagi ke ruang operasi Alena atas permintaan Namira.
Sebenarnya Alvan menawarkan diri untuk mengantarkan Namira pulang agar bisa mengistirahatkan badannya sejenak, tapi perempuan itu menolak. Namira bersikeras untuk menunggui Alena di depan ruang operasinya saja.
Namira dan Alvan berjalan bersama melewati lorong rumah sakit menuju ruangan yang akan mereka datangi yaitu ruang operasi.
Banyak mata yang menatap kagum ke arah mereka, seakan dua manusia itu adalah pasangan serasi. Yang satu memiliki wajah yang rupawan seperti aktor drama Korea yang tingkat ketampanannya tak kalah jika di bandingkan dengan Park Hyung Sik ataupun Lee Minho.
Sedangkan yang satunya lagi, memiliki wajah oriental dengan kulit putih bersih dan juga menawan. Mereka sudah tampak seperti couple goals di mata orang-orang yang melihatnya.
"ngapain ya kok orang-orang kayak ngeliatin kita gitu?! apa ada yang aneh?" ujar Namira pada Alvan dengan sedikit berbisik-bisik melihat orang-orang yang memandang ke arah mereka.
"mau tau nggak apa sebabnya?" balas Alvan ikut berbisik juga mendekatkan wajahnya ke telinga kiri Namira, padahal itu hanyalah modus belaka agar bisa lebih dekat dengan wanita yang di cintainya.
"memangnya kenapa? apa mulutku belepotan gara-gara habis makan buru-buru tadi?" Terka Namira, menduga-duga sambil meraba-raba bibirnya, takut ada sisa makanan yang menempel di sana.
"nggak, kamu salah. Mereka ngeliat ke arah kita terus, soalnya aku lagi jalan sama seorang bidadari yang cantiiik banget. Jadi mereka pasti terkejut dan terheran-heran ngeliatnya" seloroh Alvan di bumbui dengan gombalan receh sebagai jurus andalannya.
"ih.. apaan sih!? di tanya serius malah jawabaanya ngawur!" Namira memukul bahu kanan Alvan melampiaskan kekesalannya.
Alvan hanya tertawa mendapat perlakuan seperti itu dari Namira. Bukannya marah, ia malah terus menggoda perempuan itu agar terus merasa kesal dan marah-marah padanya.
"aku serius banget loh sayang.." ceplos Alvan yang membuat Namira langsung menoleh dan memandang tak enak ke arahnya sekejap, tapi kemudian memalingkan wajahnya lagi.
Alvan merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Bisa-bisanya mulutnya nggak bisa di rem hingga keceplosan memanggil Namira dengan panggilan sayang, seperti dulu.
Pria itu pun tak mengerti, kenapa ia sampai terbawa suasana, sampai-sampai ia merasa seperti kembali ke masa lalu, saat mereka masih bersama. Karena kesalahannya itu membuat suasana jadi sedikit canggung antara dirinya dan Namira.
Namira melanjutkan langkahnya dan melangkah dengan lebih cepat seperti ingin segera sampai di tempat yang mereka tuju, sepertinya ingin menghindari Alvan.
Entah mengapa, dia merasakan perih di hati ketika Alvan memanggilnya dengan panggilan seperti dulu lagi. Bahkan rasanya air matanya hampir tumpah saat ia mendengar kata itu.
__ADS_1
Sebenarnya yang ada di benaknya itu adalah penyesalan. Ia menyesal karena kesalahannya yang tidak bisa mempercayai Alvan, hingga membuat mereka harus terpisah seperti sekarang ini.
Ia juga menyesal karena tidak memberikan laki-laki itu kesempatan untuk menjelaskan semua kesalah pahaman di antara mereka.
Semua penyesalan itu masih tak bisa hilang begitu saja dari hati Namira, entah sampai kapan. Hanya Tuhan lah yang tau.
Tapi semua rasa sesal itu tak ada gunanya lagi saat ini. Karena sekarang semua situasinya sudah berubah. Ada begitu banyak hal yang tak mungkin bisa menyatukan cinta itu lagi.
Oleh karena itu, Namira lebih memilih untuk menghindar. Dari pada harus mengingat-ingat semua kenangan yang hanya membuat hatinya semakin sakit saja.
"Namira.. tunggu Namira" teriak Alvan memanggil-manggil perempuan yang sudah jalan terlebih dulu mendahuluinya untuk mensejajarkan langkah.
*Ah.. aku bodoh banget sih?!
Kenapa aku bisa sangat ceroboh seperti tadi?
Gawat kalau sampai Namira marah dan tersinggung dengan yang aku ucapkan.
Alvan terus berbicara dengan dirinya sendiri di dalam hati karena perasaan bersalah yang terus mengganggu pikirannya.
Namira hanya menoleh sedikit pada Alvan.kemudian secepatnya membuang muka lagi saat Alvan memanggil namanya.
"maaf Namira, lidahku cuma kepeleset tadi. Jadi jangan di ambil hati ya!" ucap Alvan memberikan penjelasan setelah berhasil menyusul langkah Namira.
"iya , aku tau!" balas Namira sambil terus melangkah.
"kamu nggak marah kan? kan aku nggak sengaja" Alvan kembali memastikan.
"nggak. ngapain aku marah?! aku nggak berhak marah karena bukan siapa-siapa kamu" ujar Namira datar.
Kalimat itu membuat hati Alvan merasa seperti tertusuk sebilah pisau. Rasanya sakit dan perih. Memang sudah tidak ada status hubungan apa-apa lagi di antara mereka, tapi bagi Alvan itu tak penting. Menurutnya yang terpenting adalah perasaannya masih tetap utuh dan terjaga untuk Namira, tak ada yang lain lagi di hatinya.
__ADS_1
Lagi pula kini dia sedang mencoba berjuang untuk mendapatkan cintanya kembali. Dia akan berjuang untuk kebahagiaan hidupnya bersama wanita yang ia cintai.
Dia akan coba untuk membangun hubungan itu kembali. Hubungan yang kandas karena sesuatu yang bukan salahnya. Hubungan yang hancur hanya karena kesalah pahaman saja.
Alvan yakin, perasaan mereka masih sama seperti dulu. Masih sama-sama saling mencintai dan masih sama-sama saling merindu.
Memang kini hubungan mereka tak seperti dulu. Hubungan itu kini terhalang oleh sesuatu yang di sebut ikatan pernikahan. Tapi Alvan sudah bertekad akan melepas ikatan yang menghalanginya agar semuanya bisa kembali seperti dulu.
"kalo nggak marah jangan cemberut dong!" tukas Alvan dengan memasang wajah imut seperti sedang merayu.
*jangan memasang wajah seperti itu Alvan. aku takut akan terhanyut lagi dalam kenangan masa lalu..
Kita sudah tak bisa seperti dulu lagi, jadi jangan bersikap seperti ini..
Statusku sekarang adalah seorang istri, bukan lagi gadis seperti dulu. Jadi hentikan semua perlakuan manis yang kamu lakukan untukku..*
Namira berucap dalam hati, tanpa membicarakan langsung pada Alvan. Karena dia tau itu akan sia-sia.
Alvan adalah sosok laki-laki yang keras kepala dan akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya. Itulah sifat Alvan yang Namira kenal.
Setelah beberapa saat berjalan, sampai lah mereka di depan ruang operasi Alena. Di sebuah kursi panjang yang tak jauh dari ruangan itu.
Namira dan Alvan melihat Rafka yang sedang duduk terpekur sendiri di sana sambil terus mengarahkan pandangan ke pintu ruang operasi yang sedang tertutup rapat dengan lampu yang menyala di atasnya, tanda tindakan operasi masih belum selesai di lakukan.
Tiba-tiba saja hati Namira di hampiri rasa bersalah yang teramat sangat. Dia merasa sangat berdosa atas apa yang ia lakukan.
*istri macam apa aku ini? di saat suamiku terpuruk dan sedang membutuhkan sandaran, aku malah tak mendampinginya..
Aku hanyalah istri yang buruk, yang tak berada di sisi suaminya saat dia sedang rapuh..
Maafkan aku Rafka, aku nggak bisa jadi istri yang baik buat kamu..*
__ADS_1