Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 37 Titik terang


__ADS_3

Alvan tetap berdiri di tempatnya melihat kepergian Alena. Dia membiarkan gadis itu pergi dari sisinya tanpa sedikitpun melarang. Karena menurutnya, jika ia mengikutinya malah akan lebih memperburuk keadaan karena masalah yang tak ada habis-habisnya.


Semua kenyataan ini pasti sangat berat untuk Alena, tapi Alvan tau kalau dia pasti baik-baik saja dan bisa melewati semuanya dengan baik tanpa membutuhkan waktu yang lama.


Maafkan aku Alena. Aku terpaksa harus melakukan ini demi kebaikan kamu sendiri. Aku harap kamu bisa mengerti dan memaafkan kesalahanku..


Laki-laki itu mengambil telepon genggamnya lalu menghubungi Namira, Ia akan memberi tahunya bahwa ia sudah menemukan Alena, dan sekarang dia sedang dalam perjalanan menuju rumah. Alvan sangat yakin kalau gadis itu pulang ke rumah karena tadi dia sendiri yang memintanya.


"halo.. Alvan, apa kamu ada kabar tentang Alena?" sambar Namira saat telpon baru tersambung.


"iya Namira, aku udah ketemu Alena tadi, dan dia sekarang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah" jelas Alvan.


"syukurlah.. dia baik-baik saja kan?" Namira masih mencemaskan keadaan adik iparnya.


"dia baik-baik saja, tadi dia juga sempet bagi-bagi kue sama anak-anak panti juga kok!"


Maaf Namira, aku nggak menceritakan semua kejadian yang sebenarnya, kalau aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Alena, dan juga sudah memberitahukan padanya kalau aku mencintai wanita lain.


Aku cuma takut kalau kamu marah sama aku karena hal itu, dan aku nggak mau kalau sampai itu terjadi.


Aku sekarang sedang berjuang untuk menyatukan hubungan kita lagi agar bisa kembali seperti dulu.


Jangan sampai hanya karena masalah sepele, jadi merusak perjuangan yang sudah aku lakukan sejauh ini. Karena aku yakin, sedikit lagi usahaku itu akan membuahkan hasil, dan kita bisa bersama lagi.


Alvan hanya bisa membatin dan berharap yang terbaik untuk hubungan mereka berdua ke depannya.


"memangnya kamu nemuin dia di mana tadi?" tanya Namira penasaran dengan perkataan laki-laki itu tadi.


"aku ketemu Alena di panti asuhan Kasih Mulia" jawab Alvan.


"panti asuhan yang ada di jalan Diponegoro itu kah?" Namira memastikan.


"iya, kamu betul"

__ADS_1


"oh.. aku lega banget, dia nggak kenapa-napa. Makasih ya Alvan, udah bantu cari Alena!"


"sama-sama Namira. kalo gitu aku tutup telponnya ya! ini mau langsung ke kantor sebentar" Alvan menyudahi pembicaraannya.


"oke"


Panggilan berakhir. Setidaknya Namira kini bisa bernafas lega karena ia sudah mengetahui keberadaan adik iparnya, dan kondisinya juga baik-baik saja. Ia bersyukur karena yang di khawatirkannya tidak menjadi kenyataan.


Syukurlah tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Alena. Tadinya aku takut sekali, dia kan nggak pernah nyetir sendiri, kemana-mana selalu di antar. Aku bersyukur tuhan masih melindunginya.


Oh.. iya, aku harus menghubungi Rafka, untuk memberi tahu kabar baik ini, agar dia tak merasa khawatir lagi.


Namira menggeser-geser layar handphonenya mencari nomor kontak Rafka,lalu memencet tombol hijau untuk menghubunginya.


"halo.. ada apa Namira?" suara dari ujung sana ketika panggilan itu tersambung.


"Alena udah ketemu Raf. kamu pulang aja, nggak usah nyari-nyari lagi!"


"belum, tapi dia udah on the way pulang ke rumah, Alvan yang bilang tadi"


"jadi Alvan yang udah nemuin keberadaan Alena?"


"iya Rafka, Alvan barusan telpon aku ngasih kabar"


"oh.. ya udah kalo gitu aku pulang sekarang"


"iya Raf.."


Sambungan telepon terputus. Rafka masuk ke dalam mobilnya lagi, lalu putar balik menuju rumah, tempat tinggalnya bersama istri dan juga adik perempuannya.


Tadinya dia bermaksud untuk mencari Alena di rumah teman-temannya yang lain, tapi ia batalkan karena Namira baru saja memberikan kabar baik tentang keberadaan Alena.


Rafka menambah laju mobilnya agar bisa lebih cepat sampai rumah. Ia ingin segera bertemu dengan Alena, memastikan kalau adik satu-satunya itu baik-baik saja. Dia tak bisa percaya jika tidak melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana keadaannya.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Rafka sampai di rumah yang penuh dengan kenangan masa lalu bersama kedua orang tuanya. Dia tak sabar untuk segera masuk ke dalam sana.


Ia pun berlari seperti anak kecil yang baru pulang dari bermain bersama teman-temanya. Ia masuk ke dalam pintu yang di hiasi dengan ornamen ukiran di permukaannya dengan tergesa.


"mana Alena?" tanya Rafka pada Namira saat dia baru saja sampai di ruang tengah, di mana Namira juga sedang menunggu kedatangan Alena dari tadi, sambil sesekali memeriksa ke luar jendela jika terdengar suara mesin mobil di sekitar sana.


"dia belum datang, Raf" Namira berucap sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Memang waktu akan terasa lebih lama jika sedang menunggu kedatangan seseorang, itulah yang di rasakan Namira.


Dia merasa waktu berjalan sangat lambat, bahkan seperti tak berputar saja. Dari tadi ia menunggu, tapi batang hidung adik iparnya itu tak muncul juga.


"apa? belum datang?! kenapa lama sekali!" Rafka mendengus kesal karena adiknya belum datang juga.


Padahal dia tadi sudah buru-buru datang ke sini, agar bisa secepatnya bertemu Alena dan menyelesaikan semua masalah, agar adiknya itu bisa hidup dengan tenang seperti dulu lagi, saat belum mengenal laki-laki bernama Alvan.


"iya Raf, aku juga nggak tau kenapa lama, tapi yang jelas kata Alvan, Alena udah menuju ke sini kok. Kamu tenang aja, nggak usah terlalu khawatir. Mungkin Alena nyetir mobilnya pelan-pelan, jadi lebih lama sampainya" Namira mencoba menenangkan laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu.


"hmm.. benar juga yang kamu bilang. Aku tadi kesini nya emang ngebut, biar cepat sampe. Jadi ya masuk akal juga kalau aku datangnya lebih cepat dari Alena" Rafka menyugesti dirinya untuk berpikiran positif.


"nah.. kan bener. lain kali jangan ngebut-ngebut lagi, bahaya tau!!" omel Namira.


Tak tau kenapa omelan itu terasa indah di telinga Rafka. Dia merasa seperti sedang menjalani rumah tangga yang sebenarnya. Di mana dia sedang di omeli sang istri karena kesalahannya.


Salahkah aku jika mengharapkan cinta dan perhatian dari istriku sendiri? salahkah aku jika menginginkan rumah tangga yang sebenarnya?! tanpa sandiwara dan di penuhi dengan banyak cinta di dalamnya.


Aku menginginkanmu Namira..


Aku menginginkan dirimu untuk menjadi istriku yang sesungguhnya. yang selalu ada di sampingku saat aku membuka mata. yang selalu memberi senyum penuh cinta dan menyambutku sepulang kerja.


Menjalani mahligai rumah tangga bersama sampai maut memisahkan kita.


Terlalu muluk-muluk kah keinginanku ini Tuhan?


Rafka memandangi wajah Namira sambil terus berangan-angan. meskipun ia tak pernah tau, akankah bisa angannya itu menjadi nyata.

__ADS_1


__ADS_2