Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 67 Kenyataan pahit


__ADS_3

"Kalo gitu biar aku kesana sekarang, aku mau jelasin semuanya sama Alena!" ujar Alvan di dalam sambungan telepon.


"Kamu yakin akan berhasil?" Namira tak yakin dengan niat laki-laki itu.


"Apa salahnya mencoba?! lagi pula aku harus minta maaf sama dia atas semua kesalahan yang udah aku perbuat" tambah Alvan lagi dengan penuh keyakinan.


"Terserah kamu aja Van, ya udah kalo gitu aku mau balik ke kamar Alena dulu!" Namira menutup pembicaraan.


"Iya Namira, makasih infonya. Aku akan segera ke sana!" ujar Alvan.


Namira langsung mematikan telponnya tanpa membalas ucapan Alvan lagi. Lalu kembali ke ruangan Alena setelah itu.


Saat kembali ke ruangan itu, Alena masih belum sadar. Dia masih memejamkan mata sama seperti saat Namira meninggalkan ruangan ini tadi.


Dan Rafka tampak duduk di sebelah brankar adiknya sambil menelungkupkan kepala. Entah tidur atau tidak, Namira membiarkannya tetap dalam posisi itu. Dia memilih untuk duduk di sofa yang berada di dekat pintu masuk sambil melihat ke arah kakak beradik itu.


*Rafka.. Alena.. maaf telah membawa kalian masuk ke dalam hidupku yang rumit ini..


Maaf, karena keegoisanku kalian jadi korbannya..


Kalau aku lebih bijak dalam menyikapi masalah, mungkin ini semua tak akan terjadi..


Mungkin kalau kalian tak masuk dalam hidupku, kalian masih bisa tersenyum bahagia sekarang..


Ini semua adalah salahku..


Maaf.. *


Namira terus saja menyalahkan dirinya atas semua peristiwa yang terjadi. Penyesalan memang tak berguna, tapi Namira masih merasakan rasa itu ada di dalam hatinya. Dan tak tau sampai kapan akan seperti itu.

__ADS_1


Cukup lama mereka bertiga berada dalam posisi yang sama. Sampai akhirnya Rafka dan Namira tersentak karena karena mendengar Alena yang terbatuk-batuk. Rupanya gadis itu sudah membuka matanya.


Dengan sigap Rafka mengambil air putih di atas nakas lalu meminumkannya pada Alena dengan bantuan sedotan. Sedangkan Namira nampak mendekat ke arah kakak beradik itu seperti bingung harus berbuat apa.


Setelah Alena selesai minum, Rafka mengembalikan gelas berisi air putih tadi ke tempatnya semula.


"Ada yang kamu inginkan lagi, Alena?" tanya Rafka lembut.


Alena tak menjawab dengan suara. Ia hanya menggeleng saja menanggapi ucapan kakaknya. Dia melihat ke arah Namira sebentar lalu memalingkan muka setelah kakak iparnya itu tersenyum padanya. Dari tatapan mata Alena, masih terlihat kemarahan di sana.


"Alena.. aku minta maaf" ucap Namira pelan.


"Aku nggak mau dengar apa-apa lagi. lebih baik kamu pergi saja dari sini!" Hati Alena masih sekeras batu, ia tak bisa semudah itu memaafkan Namira begitu saja.


"Aku yang salah Alena, bukan Namira!" Tiba-tiba saja Alvan sudah ada di sana, Dia mendengar semua percakapan di antara mereka saat akan membuka pintu.


"Rafka.. Namira.. bolehkah aku bicara dengan Alena berdua saja?" tanya Rafka memandang ke arah Namira dan Rafka secara bergantian seperti meminta persetujuan.


Pasangan suami istri itu pun mengangguk kemudian keluar dari ruangan itu bersamaan. Mereka pikir mungkin Alena akan bisa lebih mengerti jika Alvan yang menjelaskan semuanya. Itulah harapan terbesar mereka berdua.


Ruangan itu pun terasa sunyi saat Rafka dan Namira sudah keluar dari sana. Kini tinggal lah Alena dan Alvan yang saling memandang tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut mereka.


"Alena.. aku minta maaf karena sudah menyakiti hati kamu" Alvan mulai membuka percakapan.


"Apa kamu masih mencintai dia mas?" tanya Alena tiba-tiba.


Mendapat pertanyaan yang seperti itu, otomatis membuat Alvan tak berkutik. Jika menjawab yang sebenarnya ia takut akan semakin menyakitkan hati perempuan di depannya, tapi jika berbohong ia takut malah akan timbul masalah baru yang tak ada habisnya.


"Kenapa diam mas Alvan? kamu nggak bisa jawab pertanyaan sesederhana itu?! padahal jawabannya hanya ia atau tidak!" Alena terus memprovokasi dengan pertanyaan yang menyudutkan Alvan.

__ADS_1


Rasa lemas yang awalnya ia rasakan seakan sirna, berganti dengan tenaga yang terasa penuh untuk mencari kebenaran baginya. Dia ingin memperjelas dan mendengar semua kebenarannya dari mulut Alvan sendiri. Laki-laki yang sudah menyeretnya ke dalam kepalsuan cinta hingga membuatnya terlena.


"Alena, aku..." tenggorokan Alvan terasa tercekat. Ia masih bingung bagaimana menjawab pertanyaan Alena.


"Tanpa kamu jawab pun aku sudah tau jawabannya, melihat gelagat kamu yang seperti itu! Kalo kamu diam itu artinya adalah IYA, betul kan mas?" Sarkas Alena. Ia tak mau menyerah sampai Alvan mengakui semuanya.


Alvan masih memilih untuk diam tanpa berani menatap wajah gadis yang ada di hadapannya. Entah kemana perginya kata-kata yang sudah ia rangkai untuk menjelaskan semua pada Alena tadi. Semuanya seakan hilang tak bersisa saat ini.


"Jadi semua perhatian dan sikap manis yang kamu tunjukkan ke aku itu cuma pura-pura aja mas? nggak ada ketulusan di dalam hati kamu untuk aku, bener gitu?" Alena kembali mengeluarkan pernyataan yang membuat Alvan berada dalam posisi yang sulit.


"Maafkan aku Alena" hanya itu yang bisa di ucapkan laki-laki itu sekarang.


"Jadi semua yang aku katakan tadi benar mas? Ternyata kamu cuma memanfaatkan aku buat mendekati kak Namira lagi. Iya kan?" Tak henti-hentinya Alena membombardir Alvan dengan pernyataan yang tak bisa di bantah. Karena memang semua yang di katakan gadis itu adalah kenyataan yang sesungguhnya.


"Aku nggak bermaksud kayak gitu Alena"


"Kamu masih mau mengelak?!"


"Bukan mengelak Alena! Baiklah, aku mengakui semua kesalahanku. Waktu itu aku bingung bagaimana cara agar aku bisa menemui Namira lagi, dan aku bertemu kamu yang bisa mempermudah jalanku jadi aku.." Alvan tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Rasanya ia tak sampai hati jika menceritakan semua kebenaran itu pada Alena.


"Kamu jahat mas! Kamu udah bohongin aku selama ini. Dan dengan bodohnya aku percaya gitu aja dengan omongan kamu! Aku benci kamu mas! Aku benci!!" Air mata yang sedari tadi di tahan Alena sudah tak bisa terbendung lagi.


Air mata itu tumpah begitu saja mengalir di pipi seiring dengan hatinya yang hancur berkeping-keping karena kenyataan yang baru saja di ketahuinya. Kenyataan yang begitu menyiksa batinnya. Ternyata yang ada di pikirannya benar, kalau Alvan hanya memanfaatkannya dirinya untuk mendekati Namira.


Meskipun sudah memprediksikan sebelumnya, tapi tetap saja kenyataan ini sangat menyakitkan bagi Alena.


"Aku tau aku salah Alena, kamu boleh membalas semua yang sudah aku lakukan ke kamu dengan cara apapun! Sungguh, aku benar-benar minta maaf" kalimat itu terdengar penuh dengan penyesalan.


"Benarkah?" mata Alena menatap mata Alvan dalam, seakan mencari kejujuran dari dalam sana.

__ADS_1


__ADS_2