Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 20 Pacar Alena


__ADS_3

"Serius kak Rafka mau nemuin dia?" Alena masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"serius lah, mana pernah kakak main-main!" tampak wajah Rafka penuh dengan keseriusan. Harusnya Alena tau kalau kakak lelakinya itu tak pernah tidak serius dengan yang ia ucapkan. Bahkan dia sangat hafal akan hal itu.


Tapi yang jadi masalah,dia benar-benar tak menyangka kalau kakaknya menanggapi dengan seserius itu, sampai-sampai ingin bertemu dengan laki-laki yang sedang dekat dengannya. Itu sama sekali tak pernah ia pikirkan sebelumnya.


"gimana ya?! aku nggak yakin kalau dia bisa kak" jawab gadis itu ragu-ragu.


"Kenapa? kok jadi nggak yakin gitu? padahal tadi kayak ngunggul- ngunggulin dia terus! apa dia cuma laki-laki pengecut yang berani macarin kamu di belakang aja,tanpa berani ketemu dengan keluarganya?!" ujar Rafka meremehkan.


"nggak kok kak, dia bukan tipe cowok yang kayak gitu!" Alena seperti tak terima dengan omongan kakaknya.


"ya udah buktikan kalo dia memang bukan laki-laki pengecut seperti yang kakak bilang" Perkataan Rafka kali ini sudah tak bisa di tawar lagi. Dia sungguh ingin memastikan, laki-laki seperti apa yang sedang menjalin hubungan dengan Alena.


"nanti Alena ngomong ke dia dulu kak, semoga aja dia lagi nggak sibuk"


"oke, kakak tunggu" Rafka berucap sambil beranjak dari sofa dengan membawa rasa penasaran yang masih terus menguasai pikirannya.


Rafka menaiki tangga menuju kamarnya. Ralat,kamar itu sekarang bukan hanya milik Rafka, melainkan milik Namira juga yang berstatus sebagai istrinya.


Tapi bukan suami istri yang sesungguhnya tentunya. karena selama menempati kamar itu, sepasang suami istri itu tidak tidur seranjang. Namira tidur di tempat tidur empuk milik Rafka, sedangkan sang empunya kamar, hanya bisa tidur di sofa minimalis yang berada di kamar itu.


Rafka tidak tau, sampai kapan ia akan menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan kepalsuan seperti yang di alaminya sekarang ini.


Rafka membuka handle pintu kamarnya pelan seperti takut mengganggu seseorang di dalam sana. Di bukanya pintu bercat putih itu lalu masuk ke dalamnya. Refleks mata Rafka menyusuri seluruh ruangan seperti sedang mencari sesuatu.


Ternyata dia belum pulang. apa dia masih di butik atau pergi ke tempat lain?


Rafka bertanya-tanya di dalam hati, tapi tak menemukan jawaban apapun. Tak bisa di pungkiri kalau dia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Namira dalam kehidupan sehari-harinya. Dia mulai merasa ada yang kurang jika istrinya itu tidak berada di sekitarnya.


Di ambilnya telepon seluler dari dalam saku kemeja berniat akan menghubungi sang istri. Dia mencari nama Namira di daftar kontak ponsel. saat jarinya hampir menyentuh tombol hijau, Rafka tiba-tiba mengurungkan niatnya. Ia merasa hubungan mereka tidak lah sedekat itu sampai-sampai dengan percaya dirinya menelpon menanyakan keberadaannya.


Pada akhirnya Rafka melempar ponsel itu ke atas tempat tidur. lalu bergegas ke kamar mandi untuk menyegarkan badannya yang teramat gerah. Dari pada terus memikirkan wanita itu, yang akan membuat otaknya semakin kacau.

__ADS_1


Alena memutuskan untuk memberitahukan keinginan kakaknya pada laki-laki itu, laki-laki yang sudah sekitar dua minggu ini dekat dengannya. laki-laki yang mampu meluluhkan hati Alena dengan semua sikap manisnya.


Gadis itu mengambil ponselnya kembali yang baru saja di letakkannya, lalu dengan cepat menghubungi nomor pria itu. pada deringan pertama, sambungan teleponnya langsung di angkat oleh seseorang di seberang sana.


"halo..mas. kamu sibuk nggak? ada yang mau aku omongin" Ucap Alena ragu.


"nggak kok,mau ngomong apa Alena cantik?" balas laki-laki itu yang membuat hati Alena di penuhi pelangi berwarna warni. Sungguh,dia sangat pintar merayu wanita. Dua jempol terangkat untuk pria yang sedang berbicara dengan Alena itu.


"gimana ya? tapi aku nggak enak mau cerita sama kamu"


"kenapa pake nggak enak segala sih? kamu kayak mau ngomong sama orang asing aja!" suara itu terdengar sangat lembut menghanyutkan.


"bukannya gitu mas,aku cuma nggak enak aja"


"nggak papa Alena sayang, kamu ngomong aja sama aku"


Alena tampak berpikir beberapa saat,lalu mulai membuka suara. menurutnya ini adalah saat yang tepat untuk mengetes keseriusan pria yang sedang menjalin hubungan dengannya itu. kalau dia benar-benar tulus mencintai dirinya, pasti akan mau melakukan apapun untuknya.


"apa kamu sempat cerita tentang aku,ke kakak kamu? apa dia udah tau namaku?" dari ucapannya terdengar sekali kalau dia sedang menahan sesuatu yang membuat Alena bertanya-tanya.


"aku belum bilang nama kamu sih, aku cuma cerita tentang usia kamu yang sepantaran dengannya aja, trus sama pekerjaan kamu juga"


"oh .. ya udah kalo gitu"


"kalo kamu nggak bisa ketemu kakakku nggak papa juga kok"


"jangan bilang gitu sayang, apapun pasti akan aku lakukan buat kamu. Aku akan temui kakak kamu nanti malam. akan aku buktikan kalo aku bener-bener serius dengan hubungan kita"


Perkataan laki-laki itu membuat kelegaan tersendiri di hati Alena. awalnya dia pikir lelaki tercintanya itu tak mau menemui kakaknya, sehingga ia mengambil kesimpulan bahwa cintanya hanya kepura-puraan saja, tapi semua pikiran negatif itu sirna setelah mendengar ucapannya.


"makasih ya mas,aku seneng banget kamu mau datang ke rumahku"


"apa sih yang nggak buat kamu, sayang?!"

__ADS_1


"ya udah kalo gitu aku tutup telponnya dulu ya, bye.."


"bye cantik"


Obrolan via udara itupun berakhir dengan meninggalkan kebahagiaan yang tak terkira di hati Alena. Kini dia sangat yakin kalau laki-laki itu benar-benar mencintainya.


Alena pun segera berlari mendatangi kamar Rafka, berniat akan memberi tahukan berita gembira itu.


"kak, nanti malam pacar aku mau kesini,dia mau nemuin kak Rafka" ujar Alena menggebu-gebu.


"oh ya? baiklah kalo gitu"


Setelah itu Alena langsung merubah haluan menuju kamarnya, ia akan memilih gaun terbaik untuk di pakainya menyambut kedatangan laki-laki yang ia cintai, yang akan datang malam ini.


Malam pun tiba, berbagai hidangan makanan lezat sudah terhidang di meja makan. Untungnya Alena masih sempat meminta asisten rumah tangganya untuk membuat lebih banyak menu tadi. untuk makan malam spesial bersama kekasih hati tentunya.


"kakak ipar kemana kak? kok nggak kelihatan dari tadi?" tanya Alena sambil duduk di salah satu kursi meja makan.


"dia masih sibuk di butik" jawab Rafka singkat.


"apa kak Rafka mencintai kakak ipar?" tanya Alena tiba-tiba.


"kalo nggak cinta mana mungkin bisa nikah? kamu nih ada-ada saja pertanyaannya!"


"hehehe.. iya ya!" Alena malah cengengesan mendengarkan jawaban kakaknya.


"tamunya sudah datang,non!" bik Imas datang tergopoh-gopoh menghadap majikannya.


"suruh langsung masuk aja bik"


"baik non" bik Imas pun kembali menuju ruang tamu.


"selamat malam" suara seorang laki-laki datang menyapa, membuat kakak beradik itu refleks menoleh ke arah sumber suara. Dan Rafka tampak sangat terkejut melihat pacar Alena, seperti melihat hantu saja. Ternyata dia adalah... Alvan.

__ADS_1


__ADS_2