
Dokter yang memeriksa Alena keluar dari ruangan itu dengan wajah serius karena kondisi pasien yang di tanganinya cukup mengkhawatirkan.
"dengan keluarga pasien Alena?" panggil dokter itu setelah baru keluar dari pintu ruang rawat Alena.
"saya kakaknya dokter" sahut Rafka sambil bergegas menghampiri sang dokter.
"begini pak, kondisi pasien tiba-tiba drop. sepertinya harus di lakukan operasi sekarang juga untuk menolongnya" papar dokter Harun.
"baiklah dokter, jika itu adalah tindakan yang terbaik, maka tolong secepatnya di lakukan" ujar Rafka pasrah. Sedangkan Namira terlihat seperti menahan tangis mengetahui kondisi adik iparnya yang memburuk.
Lalu Alvan? Dia hanya berdiri terpaku dengan ekspresi wajah datar. Tak ada satupun yang tau apa yang ada di dalam pikiran laki-laki itu.
"baik, kami akan segera melakukan tindakan operasi secepatnya. Mohon menandatangani surat persetujuan tindakan operasi dan juga melunasi seluruh biayanya sesuai prosedur" dokter itu berkata sambil membetulkan letak kaca matanya yang sedikit melorot.
"baik dokter, terima kasih informasinya" ujar Rafka.
"sama-sama pak" balas dokter Harun.
Dokter itu pun pergi untuk bersiap-siap melakukan operasi. Dan Rafka tampak setengah berlari menuju ke bagian administrasi untuk menyelesaikan semua persyaratan sebelum melakukan tindakan operasi yang akan di lakukan adiknya.
Tiba-tiba saja air mata Namira tumpah begitu saja. Dia merasa sangat mencemaskan adik iparnya. Tapi dia juga berharap dan selalu berdoa untuk keselamatan dan kesembuhan Alena.
Alvan yang melihat Namira sedang bersedih seperti itu, merasa tak tega. Dia mendekati Namira dan mencoba untuk menenangkannya.
"jangan sedih Namira, semuanya akan baik-baik saja. Lebih baik kita berdoa untuk kesembuhan Alena agar operasinya berjalan lancar" ucap Alvan sambil mengusap air mata Namira.
__ADS_1
Perempuan itu memandang sejenak Alvan yang sedang menatapnya dengan lembut. Rasanya hati Namira seperti merasakan sedikit getaran aneh, tapi ia berusaha menampiknya. Ini bukanlah saat yang tepat untuk memikirkan hal lain. Karena tak ada yang lebih penting melebihi kesembuhan Alena.
Namira mengalihkan pandangan ke arah lain lalu mencoba menetralkan perasaannya dengan menarik dan menghembuskan nafas secara teratur.
"kamu baik-baik saja Namira?" tanya Alvan yang melihat gerak-gerik Namira yang sedikit aneh.
"aku nggak kenapa-kenapa kok, Van" elak Namira menutupi perasaannya.
*Aku tau kamu merasakan perasaan yang sama sepertiku saat kita berdekatan sepertinya tadi Namira..
Aku tau masih ada cinta untukku di hatimu meskipun kita tak lagi bersama..
Tapi kenapa seakan kamu mengingkari dan mengelak semuanya Namira? kenapa?!*
Alvan melihat ke arah Namira sekilas, sebenarnya dia sangat mengerti dengan yang di rasakan Namira sekarang, tapi ia hanya menyimpannya dalam hati, karena menurutnya itulah yang terbaik untuk sekarang ini.
Dia merasa kalau dia tak cukup berhak untuk mengetahui itu semua, karena dia hanyalah seorang suami yang tak pernah di cintai istrinya. Hubungan pernikahannya dan Namira cuma sebatas perjanjian dan status saja. Dan mungkin itu lah yang akan dia jalani selamanya.
Atau kemungkinan terburuknya mereka akan berpisah jika waktunya tiba, dan jika Namira yang menginginkannya.
Pasrah, hanya itu satu kata yang bisa ia lakukan saat ini. Lagi pula sekarang dia harus fokus pada kesehatan Alena, bukan pada perasaannya.
Pintu ruangan Alena terbuka lebar, tampak dua orang perawat sedang mendorong brankar Alena menuju ruang operasi, di mana dokter ahli sudah menunggunya di dalam sana. Karena setelah persyaratan untuk prosedur operasi beres, tindakan operasi bisa segera di lakukan sekarang juga.
Menurut penuturan dokter, Alena harus melakukan operasi secepatnya karena kalau tidak, akan bisa mengancam keselamatan gadis itu. Tentu mereka semua tak ingin mengambil resiko yang sangat berbahaya bagi nyawa Alena.
__ADS_1
Rafka, Namira dan Alvan mengekor di belakang tenaga medis yang membawa Alena untuk mengikutinya ke ruang operasi. Meskipun tidak di perbolehkan masuk, tapi setidaknya mereka akan lebih tenang bila berada tak jauh dari Alena.
Setelah sampai di ruang yang di tuju, para suster masuk membawa Alena, kemudian pintu di tutup rapat kembali.
Lampu di atas pintu ruang operasi itu menyala, tanda tindakan operasi sedang berlangsung di dalam. Rafka, Namira dan Alvan hanya bisa menunggu saja, tanpa bisa berbuat sesuatu yang berarti, sambil berdoa di dalam hati agar semuanya berjalan dengan lancar, supaya Alena bisa pulih lagi seperti sedia kala.
Rafka tampak seperti setrikaan yang bergerak maju mundur berkali-kali seperti orang yang sedang kebingungan tak tentu arah. Sebenarnya dia hanya gelisah, ia khawatir akan keselamatan Alena yang sedang di pertaruhkan di meja operasi.
Sedangkan Namira memilih untuk duduk sambil terus membaca doa yang ia bisa, doa apa saja ia panjatkan untuk kesembuhan adik iparnya. Dengan rasa sedih yang masih bisa di rasakannya.
Dan Alvan hanya duduk dengan sejuta harapan di hatinya. Berharap semua akan baik-baik saja. Karena ia tak mau kalau Namira akan semakin terluka dan terus menyalahkannya atas perbuatan yang tak sepenuhnya salah.
Mereka bertiga menunggunya dengan perasaan yang tak menentu, dengan terus berpikir untuk kedepannya.
*Apa yang harus aku lakukan setelah ini?!
Aku tidak akan mungkin tega untuk menyakiti Alena lagi..
Lalu apa aku harus menuruti permintaan Alena dan melupakan Namira? tentu itu akan sangat sulit, karena nama Namira sudah terukir di palung hatiku yang paling dalam dan tak akan bisa terhapus dengan semudah itu*..
Alvan merasa dilema dengan perasaannya. Ia tak tega untuk menyakiti hati Alena lagi. Tapi tak mungkin juga baginya untuk memaksakan perasaan cinta, karena yang di cintainya hanya lah Namira, tak ada yang lain.
Celah di dalam hati Alvan seakan tertutup oleh sebuah nama yang selalu mengisi hati dan pikirannya. Hanya Namira yang membuatnya jatuh cinta, Hanya Namira yang membuat hari-harinya terasa indah, dan hanya Namira juga yang membuatnya jadi mengenal apa itu kasih sayang dan ketulusan.
Bagi Alvan, tak ada satu perempuan pun di dunia ini yang seperti Namira. Dan akan sangat mustahil untuk menemukannya.
__ADS_1
Apa pun yang terjadi nanti, Alvan hanya bisa berharap yang terbaik untuk semua orang dan juga untuk dirinya sendiri.
Jika boleh meminta satu permohonan, Alvan ingin kehidupannya kembali seperti dulu lagi saat ia bahagia karena ada Namira yang selalu di sisinya. Dan juga saat hidup yang ia jalani tak ada masalah dan kerumitan yang terjadi. Di mana dalam kehidupannya cuma ada Namira dan dirinya saja. Tak seperti sekarang ini, ia merasa bahwa banyak masalah yang menimpa mereka.