Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 81 Menemui Rafka


__ADS_3

Namira tak bisa menolak keinginan mamanya untuk menemui Rafka agar masalah mereka bisa secepatnya terselesaikan. Wanita itu sudah mencoba menghentikan niat mamanya dengan berbagai macam alasan, tapi semua usahanya sia-sia. Mama Namira tetap gigih untuk mempertemukan anak dan menantunya itu sekarang juga.


Bu Asti menarik tangan putri semata wayangnya menuju mobil miliknya yang terparkir di samping butik. Ternyata di dalam mobil itu sudah ada supir pribadi mamanya yang masih setia menunggu.


"Tolong antarkan ke jalan Merdeka nomer sembilan puluh dua ya pak!" perintah bu Asti setelah masuk ke dalam mobil bersama Namira.


"Baik nyonya" balas pak Mamat patuh kemudian langsung menjalankan mobil menuju tempat yang di sebutkan majikannya barusan.


Di dalam perjalanan menuju rumah Rafka, Namira terus merasa gelisah. Ia tak tau apa yang harus ia katakan pada pria yang statusnya masih sah sebagai suaminya itu karena tiba-tiba saja ia datang kembali setelah pergi meninggalkan rumah beberapa hari yang lalu tanpa pamit.


Melihat tingkah Namira yang seperti itu, mama Namira jadi curiga kalau ada sesuatu yang di sembunyikan oleh putrinya. Di dalam hati ia sudah bertekad akan mengungkap dan menyelesaikan semuanya malam ini juga. Itulah tujuannya mengajak Namira datang ke rumah Rafka.


*Aduh.. gimana nih?? gimana kalo mama sampai tau semua kebenarannya? kalo hubunganku dan Rafka sudah di ujung tanduk?!


Argh .. jangan sampai itu terjadi! aku harus melakukan sesuatu agar semuanya nggak terbongkar. Tapi gimana caranya??*


Namira terus memikirkan cara agar ia bisa menghentikan niat mamanya untuk datang langsung menemui Rafka, tapi rupanya semua sudah terlambat, karena mobil yang mereka naiki sudah berhenti tepat di rumah laki-laki itu.


"Ayo kita masuk, Namira!" ajak Bu Asti sambil menarik pelan tangan putrinya keluar dari mobil.


Namira pun sudah pasrah karena sama sekali tak bisa menghindar atau pun menolak kali ini. Ia menurut saja pada mamanya dengan perasaan was-was tak tau apa yang akan terjadi jika sudah berhadapan dengan Rafka nanti.


Sepasang ibu dan anak itu berjalan menuju ke pintu utama rumah yang tampak sepi itu. Setelah sampai di depan pintu, mama Namira memencet bel yang berada di sebelah kanan pintu tempat mereka berdiri.


Tak lama kemudian pintu terbuka dan munculah seseorang yang ingin di hindari Namira untuk saat ini. Pria itu tampak terkejut melihat siapa yang datang malam-malam begini.

__ADS_1


"Mama? Namira? mari masuk!" ujar Rafka sambil membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan kedua wanita itu masuk ke dalam rumah.


"Iya Raf" balas mama Namira kemudian masuk ke dalam rumah dan Namira pun mengekor di belakangnya.


"Mau minum apa ma? biar Rafka ambilkan" tanya Rafka seperti sedikit salah tingkah untuk memulai percakapan.


"Udah nggak usah repot-repot Raf, mama nggak haus. Tujuan mama ke sini ingin menanyakan sesuatu sama kamu" balas mama Namira.


"Mau tanya apa ma?"


"Ada masalah apa kamu sama Namira?"


Rafka tak langsung menjawab, ia malah memandang ke arah Namira seperti sedang mencari jawaban dari pertanyaan mertuanya.


"Kamu ini! ya memang kenyataannya begitu. kalo mama nggak turun tangan kayak gini, kamu pasti nunda-nunda terus untuk menyelesaikan masalah. Mama yakin itu! lagian kan mama lagi tanya ke Rafka, kenapa kamu yang nyahut?" ujar mama Namira kesal.


"Ya maaf ma, habisnya.." Namira belum selesai melanjutkan kalimatnya tapi mamanya seperti tidak mau memberikan kesempatan pada wanita itu untuk bicara.


"Udah kamu diem dulu Namira, sekarang giliran mama buat tanya sama Rafka. Jadi gimana Raf? kenapa kalian berantem sampe tinggal pisah rumah begitu?! apa ada masalah yang serius di antara kalian?" Bu Asti menatap tajam Namira lalu beberapa detik kemudian beralih ke arah menantunya.


Kalau sudah begini Namira sudah tak bisa berkata apa-apa lagi, ia pasrah dengan apapun yang akan terjadi nanti, setelah mamanya mengetahui semua kebenaran yang sudah ia sembunyikan.


Yang hanya bisa di lakukannya hanya lah duduk diam dengan perasaan gundah gulana sambil menunggu semuanya mengalir begitu saja tanpa bisa mencegah lagi.


"Namira benar ma, ini cuma masalah kecil saja, ada sedikit kesalah pahaman di antara saya dan Namira" ucap Rafka setelah melihat ekspresi wajah Namira. Sepertinya ia bisa membaca apa yang ada di dalam isi kepala wanita itu sekarang.

__ADS_1


Menurut perkiraan Rafka, saat ini istrinya itu ingin menyembunyikan masalah di antara mereka berdua dari orang tuanya. Itu semua bisa ia ketahui karena pancaran mata Namira sekarang sangat jelas penuh dengan kekhawatiran. Seperti ada rasa ketakutan tersendiri kalau masalah yang sedang ia hadapi akan terbongkar.


Namira benar-benar terkejut mendengar ucapan Rafka, ia tak menyangka kalau pria itu bisa bekerja sama dan tidak membocorkan semua masalah yang terjadi di antara mereka.


"Lalu kenapa kamu membiarkan istri kamu pergi dari rumah kalau masalahnya hanya kesalah pahaman kecil saja?" mama Namira tampak belum puas dengan jawaban yang terlontar dari mulut menantunya itu.


"Iya ma, saya minta maaf. Saya tau kalau saya salah"


"Bukan minta maaf dari kamu yang mama butuhkan sekarang. Mama ingin kalian menyelesaikan masalah kalian sekarang juga. Mama tanya satu hal sama kamu, apa kamu keberatan kalau Namira bekerja di butiknya sendiri?"


Rafka tampak berpikir sejenak, tak langsung menjawab pertanyaan dari mama mertuanya. Ia seperti sangat berhati-hati dengan kata perkata yang akan ia ucapkan.


*Oh.. rupanya Namira menggunakan alasan itu untuk menyembunyikan semua masalahnya..


Dia menggunakan alasan kalau aku melarangnya untuk bekerja di butik, padahal aku sama sekali tak merasa keberatan akan hal itu..


Bagiku, apapun kegiatan yang di lakukan Namira tak ada masalah kalau itu bisa membuatnya merasa nyaman dan bahagia..


Tapi, baiklah.. kalau itu yang kamu inginkan. Aku akan mengikuti kemauan kamu, Namira..*


"Iya ma, saya sudah terlalu bersikap egois kemarin. Harusnya saya tidak bersikap seperti itu dan memikirkan semuanya dengan matang. Maafkan saya Namira" setelah berbicara pada mertuanya Rafka mengalihkan pandangan pada istrinya.


Ucapan yang terlontar dari mulut Rafka membuat Namira lebih terperangah lagi. Ia tak menduga kalau Rafka rela menyalahkan dirinya sendiri demi untuk melindunginya.


Ia rela jadi orang yang yang di salahkan hanya agar menjaga rahasia Namira. Entah kenapa hati Namira terasa hangat saat ini.

__ADS_1


__ADS_2