Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 12 Namira Vs Rafka


__ADS_3

Namira pun akhirnya terpaksa menuruti kemauan papanya untuk sarapan bersama Rafka, laki-laki yang asing baginya. Dia melakukan itu karena memang tidak ada pilihan lain. karena penolakan tak mungkin ia lakukan.


Mereka berdua keluar dari ruangan pak Pramana secara bersamaan. Tapi begitu berada di luar ruangan, Namira berjalan mendahului laki-laki itu dengan langkah lebar-lebar dengan wajah yang di tekuk.


Tentu Rafka sebenarnya bisa menyusul dan mengimbangi langkanya, tapi dia tidak melakukan hal itu. Rafka membiarkan perempuan bernama Namira itu melakukan hal yang ia inginkan sesuka hati. Dia hanya mengikuti saja dari belakang seperti penguntit.


Namira terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit, mencari tempat bertuliskan Kantin. Dia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan tempat itu.


Semenjak tadi malam Namira memang belum pergi kemana-mana. Ia hanya berdiam di ruang rawat papanya saja. Jadi Namira sedikit bingung kalau harus mencari tempat yang tak ia tau seluk beluknya seperti sekarang ini.


Tiba-tiba tangan seseorang menggandeng tangan Namira dan menariknya melewati beberapa ruangan dan akhirnya sampai di tempat yang Namira cari dari tadi, yaitu kantin rumah sakit.


Jangan di kira Namira diam saja. Ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman laki-laki itu,tapi sia-sia belaka. Setelah tau kalau usahanya tak berguna, akhirnya dia menurut saja membiarkan apa yang di lakukan pria itu. Lagi pula Namira juga tidak tau di mana letak kantin berada. Mau bertanya pada orang lain juga rasanya malas.


Namira menghempaskan tangannya kasar saat Rafka tengah lengah, dan kali ini usahanya tak sia-sia. Dia berhasil melepaskan tangannya dari genggaman pria itu.


Dia berjalan menuju salah satu meja kosong yang ada di tempat itu, lalu duduk dengan santai di sana. Rafka menggeleng-gelengkan kepalanya pelan lalu mengikuti langkah Namira. Mereka pun sama-sama duduk di meja yang berada di ujung ruangan.


"mau pesan apa kak? ini bermacam menu makanan yang ada di sini." tanya seorang pelayan wanita sambil menyodorkan buku menu pada mereka.


"iya mbak, sebentar. biar saya pilih dulu" ujar Namira sambil mulai membolak-balik buku menu itu, mencari makanan yang pas untuknya. Sedangkan Rafka hanya diam menyimak saja.


"baik kak, silahkan" balas pelayan itu ramah.


"saya mau soto ayam aja deh mbak, satu"

__ADS_1


"oh, iya kak. lalu minumnya?"


"emm.. minumannya jus strawberry aja mbak, satu ya!" Namira seperti menekankan kata SATU di akhir kalimatnya. Seakan-akan dia ingin menunjukkan kalau dia hanya seorang diri, seolah-olah tidak mengenal laki-laki yang sedang duduk berhadapan dengannya, padahal mereka baru saja berkenalan tadi.


Pelayan itu pun merasa kebingungan. Di meja itu ada dua orang, tapi kenapa hanya memesan satu porsi saja. Begitulah kira-kira yang ada di dalam pikirannya.


"kalau mas nya mau pesan apa?" tanya pelayan itu ragu-ragu, seperti takut salah.


"di samakan saja menunya mbak" balas Rafka.


"baik, mohon di tunggu sebentar ya" Pelayan itu pergi setelah mencatat pesanan Namira dan Rafka.


"kamu ngapain ngikutin aku terus? nggak ada yang nyuruh kamu duduk di sini ya!" ucap Namira, ketus.


Namira pun spontan melihat ke sekelilingnya. Memang benar ucapan laki-laki itu kalau tidak ada meja yang kosong selain yang di tempati olehnya, karena semua meja sudah terisi penuh oleh para pengunjung kantin yang lumayan ramai di pagi hari.


"ih.. nyebelin banget sih!" Namira bergumam sendiri meluapkan kekesalannya.


Pria di depannya itu hanya diam,tak menanggapi Namira. Dia tau kalau perempuan itu sekarang ini pasti sangat membencinya.


Tak butuh waktu lama, makanan yang di pesan Namira dan Rafka datang juga. Seorang pramusaji meletakkan makanan yang mereka pesan di atas meja, kemudian berlalu pergi setelahnya.


Namira langsung melahap makanan yang ada di depannya tanpa sungkan. tak bisa di pungkiri bahwa perutnya sudah terasa lapar karena belum terisi sejak tadi. Ia tidak sadar kalau laki-laki yang sedang duduk beseberangan dengannya itu sedang memperhatikan semua gerak-geriknya tanpa berkedip.


Pria itu sempat terpaku beberapa saat. tapi beberapa detik kemudian langsung tersadar dan dengan cepat memalingkan wajah. Meraih piring berisi makanan yang ada di meja,lalu mulai menyantapnya dengan suasana hati yang berbeda.

__ADS_1


Namira bersendawa cukup keras sampai orang-orang di sekitar meja tempat duduknya melihat dengan tatapan aneh kepadanya. Namira memang sengaja melakukan itu agar pria yang di jodohkan dengannya itu ilfeel atau bahkan membatalkan pernikahan mereka. itulah tujuan utamanya.


Dia harus mempertaruhkan harga dirinya dengan menahan malu karena perbuatan memalukan yang sengaja di perbuatnya. Baginya itu tidak masalah, jika dengan itu pernikahan yang tak di inginkannya bisa batal.


Aku memang nggak bisa menentang kemauan papa. tapi aku bisa membuat laki-laki ini nggak menyukaiku atau kalau bisa jijik padaku, agar dia sendiri yang membatalkan rencana pernikahannya. Bukankah nggak akan terjadi masalah kalau dia yang menolak, karena aku yakin papa nggak akan pernah memaksakan kehendak padanya.


"kenapa? nggak pernah liat orang sendawa ya?" Namira tersenyum puas karena dia pikir, rencana yang di lakukannya akan berhasil melihat Rafka yang terus memandanginya dengan tatapan yang tak ia mengerti. Dia pikir laki-laki itu pasti akan berpikir dua kali untuk menikah dengan perempuan yang kurang beretika.


"semakin kamu bertingkah begitu, semakin aku menyukaimu" Ucap Rafka setengah berbisik yang membuat Namira terkejut setengah mati. Ternyata yang di pikirkannya sejak tadi salah besar. Bukannya ilfeel, Rafka malah semakin tertarik padanya.


"kenapa kamu mau begitu saja menerima perjodohan ini? apa kamu nggak laku, sampai sampai mau aja di suruh nikah sama orang yang nggak kamu kenal sedikit pun?!" Namira berkata dengan nada tinggi karena emosi.


"lalu kamu sendiri, kenapa juga mau?" Rafka malah melempar pertanyaan itu untuk Namira.


"kalo posisi ku ya jelas beda. Aku adalah anak kandung papa,jadi nggak mungkin bagiku buat nolak keinginannya" Ujar Namira tak mau kalah.


"aku juga nggak bisa menolak permintaan om Pram, karena beliau sudah seperti orang tuaku sendiri semenjak kepergian ayah" ekspresi Rafka seperti menyimpan keharuan saat mengatakannya.


"dasar pembohong. nggak usah ngada-ngada deh!" Namira sama sekali tak mempercayai omongan Rafka. Baginya tujuan pria ini hanya mengambil keuntungan atas kebaikan papanya. Karena menurutnya, Rafka dengan suka rela mau menerima perjodohan itu karena status yang di sandangnya sebagai pewaris tunggal perusahaan Pramana, milik sang ayah.


"terserah kamu mau percaya atau tidak, lagi pula aku nggak minta kamu percayai" Rafka berkata sambil menyedot jus strawberry nya.


"mau kamu apa sih sebenarnya?" Namira sudah habis kesabaran mengahadapi laki-laki di hadapannya itu.


"aku mau menikahi putri om Pramana" Jawab Rafka santai dengan senyum penuh misteri.

__ADS_1


__ADS_2