Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 82 Rasa yang berbeda


__ADS_3

Entah kenapa Namira merasa sangat di mengerti sebagai seorang wanita. Hatinya terasa campur aduk sekarang. Ia merasa lega karena masalah yang sedang berusaha ia sembunyikan tak terbongkar dan di ketahui oleh mamanya, tapi di sisi lain ia merasa bersalah karena harus mengorbankan Rafka dalam hal ini.


Jujur, di dalam hati ada perasaan bersalah yang ia rasakan pada laki-laki itu. Tapi ia terpaksa harus mengesampingkan rasa itu agar semuanya tetap berjalan dengan normal seperti biasanya.


Ia tak mau kalau keadaan akan semakin kacau jika kedua orang tuanya mengetahui masalah yang sebenarnya. Ia tak ingin mengecewakan mereka untuk yang kesekian kalinya.


"Terus gimana? apa kalian akan tetap tinggal pisah rumah seperti kemarin-kemarin?" mama Namira kembali mengintimidasi sepasang suami istri yang ada di hadapannya.


"Tentu tidak dong ma!. kita berdua kan udah baikan, iya kan sayang?!" sergah Namira dengan cepat sambil duduk di sebelah suaminya dan tak lupa menggamit lengannya dengan manja pula.


Rafka yang tiba-tiba di perlakukan seperti itu tertegun beberapa saat, tapi setelah itu mulai tersadar dan mengikuti alur permainan yang di buat oleh istrinya.


"Iya sayang.. maafin aku ya atas sikap egois aku kemarin!" balas Rafka pada Namira di sertai dengan senyum senatural mungkin. Dia harus memerankan perannya dengan baik agar mertuanya tidak curiga.


Tapi di sisi hatinya yang lain, ia sangat menikmati permainan ini. Ia merasa sangat senang ketika Namira bermanja-manja dan begitu dekat dengannya seperti ini. Ia berharap kalau ini benar-benar nyata, bukan hanya sandiwara saja.


"Aku juga minta maaf sayang udah pergi dari rumah tanpa pamit sama kamu" Namira melengkapi aktingnya dengan kalimat manis pula agar tampak lebih sempurna.


"Iya sayang.. kita berdua sama-sama saling memaafkan ya!" ujar Rafka lagi sambil menatap dalam manik mata istrinya.


"Nah.. gitu dong. kan mama jadi seneng lihatnya kalo kalian berdua rukun begini!" sela mama Namira setelah melihat putri dan menantunya yang sudah saling memaafkan dan berbaikan.


Namira dan Rafka hanya bisa cengengesan di hadapan Bu Asti. Mereka berdua seperti sudah kehilangan kata-kata untuk saat ini.


"Ya sudah kalo gitu mama pulang dulu ya, udah malem banget ini. Kasian pak Mamat kelamaan nunggu. Papa juga pasti juga udah cariin mama di rumah, dari tadi udah nelpon terus soalnya!" Mama Namira beranjak dari tempat duduknya berniat untuk segera pulang.


"Apa Rafka antar aja ma?"

__ADS_1


"Nggak usah, kan ada pak Mamat yang antar mama"


"Oh.. iya ma, kalo gitu mama hati-hati di jalan ya!" Rafka mencium punggung tangan mertuanya dengan khidmat, begitu juga dengan Namira yang melakukan hal yang sama.


"Iya, kalian juga jaga diri baik-baik ya! jangan berantem-berantem lagi kayak anak kecil!"


"Iya ma" Rafka dan Namira menjawab dengan serempak.


Setelah itu Bu Asti pun pergi dari sana untuk secepatnya pulang. Tinggal lah Namira dan Rafka yang berdiri terpaku di tempatnya masing-masing seperti sedang salah tingkah. Mereka berdua mengantarkan Bu Asti sampai ke halaman rumah tadi.


"Ayo masuk Namira, di luar dingin. Nanti kamu bisa masuk angin!" ucap Rafka memecah kesunyian di antara mereka.


"Eh.. Iya Raf" Namira pun bergegas masuk ke dalam rumah mengikuti langkah suaminya.


"Maaf ya Raf aku tiba-tiba datang ke sini dan harus nyusahin kamu lagi!" Namira berkata setelah mereka berdua sudah masuk ke dalam rumah.


"Oh iya.. Alena kemana? kok nggak keliatan dari tadi?" tanya Namira mencoba menetralkan suasana yang terasa sedikit canggung.


"Alena sedang ada di luar negeri. Dia memilih untuk melanjutkan kuliah di sana setelah sembuh" jelas Rafka yang membuat Namira terkejut.


"Apa?? jadi Alena menetap di sana??"


"Iya, dia maunya begitu untuk menenangkan diri dan agar lebih fokus belajar katanya" Rafka menerawang jauh mengingat kata-kata adiknya sebelum pergi jauh ke negeri orang.


Namira baru sadar, pantas saja rumah ini tampak begitu sepi, rupanya Alena sudah tidak tinggal di sini lagi. Ia lebih memilih untuk menjauhi masalah yang pernah menderanya. Mungkin itu adalah pilihan yang terbaik baginya karena dengan begitu ia akan lebih mudah melupakan kekecewaan yang pernah ia rasakan.


"Semoga dia selalu baik-baik saja di sana dan tidak sedih lagi" ucap Namira mendoakan dengan tulus.

__ADS_1


"Aku juga berharap begitu" balas Rafka dengan ekspresi wajah sedih. Sepertinya dia sedang merindukan sosok adiknya. Karena bagaimana pun juga, laki-laki itu sangat menyayangi adiknya dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Dan Namira sangat mengerti akan hal itu.


"Ini udah malem banget. lebih baik kamu istirahat saja. Kamu bisa tidur di kamar sebelah atau di mana pun yang kamu mau. Karena nggak ada siapa pun di rumah ini selain para pembantu dan mereka juga pasti udah tidur jam segini, jadi kita nggak perlu bersandiwara lagi" ujar Rafka yang membuat perasaan Namira sedikit perih.


Dulu ia biasa saja dengan semua perkataan Rafka, tapi sekarang ia jadi berubah jauh lebih sensitif.


"Baiklah, aku akan tidur di kamar sebelah"


"Ya udah, ayo aku antar"


Mereka berdua pun berjalan menaiki tangga menuju lantai atas. Rafka berjalan terlebih dahulu, di ikuti Namira yang memilih untuk berjalan di belakang pria itu.


"Selamat istirahat Namira" ucap Rafka setelah sampai di depan kamar yang akan di tempati Namira untuk tidur malam ini.


"Terima kasih Raf" wanita itu masuk ke dalam kamar kemudian menutup pintunya.


Rafka pun masuk ke dalam kamarnya sendiri yang bersebelahan dengan kamar itu. Baru beberapa langkah berjalan tiba-tiba saja cahaya lampu yang awalnya terang berubah jadi gelap gulita.


*Kenapa ini? kok tumben listriknya mati begini?*


Rafka berniat untuk pergi ke bawah memeriksa sekering listrik, tapi sebelum melaksanakan niatnya, ia di kejutkan dengan teriakan yang terdengar dari kamar Namira.


Teriakan itu terdengar sangat kencang hingga membuat Rafka langsung lari tunggang langgang menuju kamar itu, ia khawatir kalau terjadi apa-apa dengan istrinya.


"Namira, kamu nggak pa-pa!?" tanya Rafka sedikit berteriak karena panik sambil menggedor-gedor pintu kamar Namira, tapi tak terdengar jawaban dari dalam sana. Ia pun tambah panik dan menggedor-gedor pintu itu lebih kencang lagi, tapi tetap tidak ada jawaban.


*Namira.. apa yang terjadi? kenapa kamu tidak membuka pintunya?

__ADS_1


Tuhan.. semoga tidak terjadi hal buruk yang menimpanya..*


__ADS_2