Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 74 Wanita misterius


__ADS_3

Rafka menjalankan mobilnya kembali dengan perasaan yang tak menentu. Ia sedih karena melihat Namira bersama dengan laki-laki lain dan setelah ini mungkin ia tak akan pernah bisa melihatnya lagi.


Tapi di sisi lain, Rafka bahagia karena bisa melihat Namira tampak lebih menikmati hidupnya dan juga tampak berbahagia.


Entah bagaimana nasibnya nanti, menurutnya bisa melihat Namira tersenyum bahagia adalah yang paling penting. Dan tak sedikit pun ia perduli dengan perasaannya sendiri.


Ia pun melajukan mobilnya lebih cepat dari pada pertama berangkat tadi. Ia ingin segera sampai di kantor kemudian melakukan segala kesibukan yang bisa membantu sedikit melupakan perasaan kalut dan gundah yang sedang ia rasakan.


Ya, menyibukkan diri sendiri dengan semua pekerjaan kantor adalah pelampiasan yang hanya bisa di lakukannya untuk saat ini.


* * *


Di taman kota..


Namira mengusap peluh yang menetes membasahi wajahnya dengan menggunakan handuk kecil yang ia selempangkan di leher tadi. Keringatnya masih saja bercucuran padahal ia sudah berhenti berlari.


Laki-laki yang ada di sampingnya terus saja memperhatikan semua yang di lakukan oleh wanita itu tanpa berkedip. Sudah lama ia menantikan momen seperti ini. Bisa lebih dekat dengan seseorang yang di cintainya tanpa ada yang menggangu. Tidak seperti kemarin saat Rafka seperti menjadi bayangan untuk Namira.


Kali ini ia bisa lebih bebas untuk mendekati Namira dan mencoba untuk mendapatkan hatinya kembali, karena tak ada siapa pun yang akan mengganggunya. Ia tau apa yang terjadi dengan rumah tangga Namira dan ia akan memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik mungkin.


"Kamu ngapain ngeliatin aku terus dari tadi?" tanya Namira heran, ia tak sengaja melihat Alvan yang terus menatapnya sambil melamunkan sesuatu.


"Aku kangen sama kamu, Namira" ucap Alvan tiba-tiba.


Ucapan laki-laki itu membuat Namira refleks menatap ke arahnya tapi hanya sekejap saja. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain setelah itu.

__ADS_1


"Sebaiknya kita jangan bahas itu Van, karena statusku belum berubah! Aku masih istri orang lain" ujar Namira pelan.


Alvan menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia mencoba mengendalikan dirinya untuk tidak bertindak gegabah, karena itu akan bisa merusak semua rencana yang sudah ia persiapkan dengan matang selama ini.


Rencana yang sudah ia pikirkan jauh-jauh hari. Dan sekarang tinggal selangkah lagi, semua yang di harapkannya akan segera terwujud. Ia hanya harus bersabar sedikit lagi untuk bisa meraih semuanya.


"Iya Namira, maaf. Aku udah lancang ngomong kayak gitu ke kamu" Alvan pura-pura merasa bersalah.


"Ya udah nggak pa-pa Van" balas Namira sambil meneguk air mineral yang ada di sampingnya lagi. Seperti berusaha untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Tiba-tiba saja terdengar bunyi khas orang kelaparan dari perut Namira. Memang dia belum sempat memakan apa pun pagi ini. Jadilah perutnya berdemo minta untuk segera di isi oleh pemiliknya.


"Kamu lapar Namira? ya udah, ayo kita beli sarapan di sana!" ajak Alvan yang juga mendengar dengan jelas suara musik keroncong yang berasal dari perut Namira.


"Tapi uangku ketinggalan Van, aku nggak bawa uang sekarang. Nanti aja aku sarapannya kalo udah di butik!" tolak Namira dengan menjelaskan semuanya.


"Nggak usah deh Van, aku .."


"Namira.. kalo udah laper gitu, harus buru-buru makan. Kalo nggak bisa bahaya loh! Gini aja deh, kali ini biar aku yang traktir, nanti lain kali bisa gantian kamu yang traktir aku. Gimana?" usul Alvan. Padahal itu hanyalah sebuah modus agar ia bisa sering-sering makan berdua dengan Namira.


Namira berpikir beberapa saat. Ia bingung apakah harus menerima tawaran dari Alvan atau tidak. Tapi setelah berpikir ulang, ia putuskan untuk menerima saja tawaran itu, karena sepertinya perutnya sudah tak bisa di ajak kompromi. Perut Namira malah berbunyi semakin nyaring ketika suasana hening di antara mereka.


Namira sampai menahan malu karena itu. Dia cengengesan di depan Alvan, dan itu membuat laki-laki itu tertawa lebar karena melihat tingkah lucu Namira.


Alvan buru-buru bangkit dari duduknya, kemudian mengulurkan tangan pada Namira. Namira menerima uluran tangan itu lalu ikut berdiri juga. Alvan masih belum mau melepaskan tangannya, tapi Namira cepat-cepat melepasnya. Ia sadar akan posisinya yang masih berstatus istri orang.

__ADS_1


Meskipun Rafka sudah menyampaikan keinginannya untuk berpisah, tapi di mata hukum, hubungan mereka masih sah sebagai suami istri karena belum adanya putusan yang pasti. Ia harus menjaga dirinya sampai semua keputusan itu sudah sah di mata negara.


Melihat Namira yang bersikap seperti itu, Alvan mencoba untuk mengerti. Karena ia tau, semuanya butuh proses dan itu tak akan lama lagi.


Mereka pun berjalan beriringan menuju deretan food court yang berjajar di sekitar taman. Ada banyak pilihan makanan yang di sediakan di sana, mulai dari makanan ringan sampai makanan berat. Tinggal memilih saja makanan apa yang di inginkan.


"Kamu mau makan apa Namira?" tanya Alvan saat mereka hampir sampai di depan food court.


"Apa ya? terserah kamu aja deh!" Namira pun bingung untuk menentukan pilihannya saking banyaknya berbagai jenis makanan yang di jual di tempat ini.


"Emm.. gimana kalo kita makan bubur ayam aja?!" Alvan memberikan usulannya.


"Boleh deh!"


Mereka pun masuk ke salah satu gerai food court yang menyediakan bubur ayam sebagai menu utamanya, lalu duduk di salah satu meja yang menghadap langsung ke taman.


Setelah beberapa menit menunggu, bubur ayam yang mereka pesan sudah siap dan di sajikan oleh seorang bapak-bapak penjual bubur ayam itu sendiri.


Mereka pun langsung menyantap bubur ayam itu selagi hangat, setelah mengucapkan terima kasih kepada bapak penjual tadi.


Ternyata menu pilihan mereka tidak lah salah. Makan bubur ayam yang masih hangat di pagi hari sambil di temani pemandangan di taman yang hijau, sungguh sangat nikmat. Apalagi di tambah perut yang sedari tadi sudah keroncongan. Maka lengkaplah sudah kenikmatan yang tiada tara itu.


Namira memakan bubur ayam itu dengan lahap. Ia tak sadar kalau laki-laki yang ada di depannya itu sekali-kali mencuri pandang padanya. Sudah cukup lama sepertinya ia tak makan bubur ayam di tempat seperti ini, Itulah yang membuat Namira semakin bersemangat untuk menghabiskan makanannya.


Dari kejauhan, mereka tak sadar kalau ada seorang wanita yang sedang mengawasi setiap gerak-gerik yang mereka lakukan.

__ADS_1


Wanita itu berdiri di balik pohon dengan memakai masker untuk menutupi wajahnya. Tatapan mata penuh kebencian itu sangat terlihat dari caranya memandang ke arah Alvan dan juga Namira.


*Aku tidak akan pernah membiarkan kalian bahagia! lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti.. *


__ADS_2