
Alena bingung harus menjawab apa pertanyaan dari bu Asti itu. Dia tak mungkin menceritakan yang sebenarnya dan bagaimana hubungannya yang sebenarnya dengan Alvan.
Dia takut kalau mereka salah paham dan berpikiran buruk tentangnya, karena dia menjalin hubungan dengan mantan tunangan kakak iparnya sekaligus orang yang teramat mereka benci.
"emm.. saya hanya mengenalnya sebagai teman kak Namira dan kak Rafka, tante" Alena terpaksa harus berbohong agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka.
"oh.. gitu" bu Asti tentu percaya saja dengan ucapan gadis itu. Ia berpikir wajar saja Rafka mengenal Alvan, karena mereka sempat bertemu saat laki-laki itu membuat kekacauan di rumah sakit saat suaminya sedang opname dulu.
"iya tante"
"ngomong-ngomong Namira sama Rafka kok lama banget ya? mereka ngapain aja sih di kantin? masa ya nongkrong dulu saat adiknya masih sakit gini!?" omel bu Asti.
"nggak pa-pa Tante, lagi pula saya udah baikan kok!"
Tak berselang lama pintu ruang rawat Alena terbuka, dan orang yang baru saja mereka bicarakan muncul dari balik pintu.
"Namira.. Rafka.. kalian tuh kemana aja sih? katanya ke kantin,kok lama banget?!" mama Namira menggerutu lagi saat anak dan menantu mereka datang.
"loh.. mama, papa!? kapan datangnya?!" bukannya menjawab, Namira malah membalas pertanyaan bu Asti dengan pertanyaan juga sambil menghampiri kedua orang tuanya untuk bersalaman dan juga cipika-cipiki.
"mama sama papa udah datang lumayan lama loh, tapi kamu sama Rafka nggak datang-datang juga" keluh mama Namira lagi, sedangkan papanya hanya tersenyum saja menanggapi.
"maaf ya Alena, kak Rafka sama kak Namira perginya kelamaan!" ujar Namira pada adik iparnya.
Mereka berdua memang sedikit lupa waktu karena terlalu serius mengobrol. Namira tidak terlalu memikirkan tentang Alena yang sendirian di kamar, karena tadi dia meninggalkannya saat masih ada Alvan di sana. Tapi sekarang laki-laki itu sudah tak nampak batang hidungnya. Dan itu membuat hati Namira bertanya-tanya, kemana perginya Alvan.
"nggak pa-pa kok kak, lagi pula ada tante Asti dan om Pram di sini" balas Namira dengan nada senormal mungkin untuk menutupi kegundahan hati yang sedang melingkupi dirinya saat ini.
__ADS_1
Tapi bagaimana pun gadis itu menutupi perasaannya, Namira tetap bisa merasakan ada yang berbeda dari cara bicara adik iparnya itu. Dia merasa ada sesuatu yang seperti mengganjal pikiran Alena. Ia bisa melihat itu dari tatapan matanya yang tak bisa berbohong.
*Ada apa dengan Alena? kenapa dia tampak tak seperti biasa gitu?! dia seperti sedang berusaha berpura-pura baik-baik saja lewat sikapnya itu..
Tapi dengan sikapnya yang seperti itu, malah lebih memperjelas semuanya..
Sebenarnya apa yang terjadi saat aku dan Rafka nggak ada di sini tadi?
Lalu bagaimana dengan Alvan? kemana perginya dia? atau jangan-jangan terjadi sesuatu yang membuat Alena jadi begitu..
Atau.. apa Alena sudah mengetahui yang sebenarnya tentang hubunganku dengan Alvan dulunya?..
Argh.. gawat kalau sampai itu terjadi..*
Berbagai tanda tanya dan kecemasan, mulai berseliweran di pikiran Namira. Dia takut kalau semuanya akan jadi semakin buruk setelah Alena mengetahui semua kebenarannya.
"oh iya Namira.. apa laki-laki tak tau diri itu masih sering nemuin kamu?!" tanya mama Namira penuh selidik.
Perasaan Namira semakin tak enak sekarang, jangan-jangan apa yang di takutkannya benar-benar terjadi. Dan itu membuatnya semakin merasa was-was. Dia juga bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan dari orang tuanya.
Sebutan laki-laki tak tau diri itu sudah pasti di tujukan untuk Alvan. Karena orang tua Namira memang belum tau kebenarannya, bahwa foto itu adalah hasil rekayasa orang lain dan Alvan sama sekali tak bersalah dalam hal itu.
Namira tak mau menceritakan semuanya karena menurutnya itu tak akan merubah apapun. Pernikahannya dan Alvan sudah terlanjur gagal dan dia pun sudah menikah dengan orang lain. Jadi tak ada gunanya dia mengungkap kebenaran itu.
"sudah ma, jangan bahas dia lagi" balas Namira sambil melirik ke arah Alena dengan perasaan tak enak. Rasanya dia ingin segera menghentikan obrolan tentang Alvan sekarang ini. Dia takut akan semakin melukai hati Alena jika terus membahasnya.
Rafka yang berada dalam situasi itu, tak luput dari perasaan bersalah juga. Karena dia lah yang meminta Alvan untuk mendampingi Alena dalam masa pemulihannya. Dia tak memikirkan sebelumnya kalau orang tua Namira akan datang ke sini dan bertemu dengan Alvan, laki-laki yang mereka benci.
__ADS_1
Mengenai masalah foto Alvan yang tidur dengan wanita lain itu, dia sudah mengetahui kebenaran yang sebenarnya, karena Namira sendiri yang menceritakan semua padanya kala itu.
Maka dari itu dia bisa menilai kalau Alvan ternyata tak sebrengsek yang ia duga. Pria itu tak salah, bisa di bilang dia adalah sebagai korban juga. Itulah alasannya kenapa dia berani meminta tolong Alvan untuk menolong Alena. Karena dia tau kalau pria itu bukanlah pria yang buruk.
Tapi dia tak menduga jika situasinya akan jadi semakin kacau seperti ini. Padahal maksud hatinya adalah ingin menuruti permintaan adiknya saja, tak ada maksud apapun selain itu.
"iya ma, benar kata Namira. Dia hanyalah masa lalu yang buruk bagi Namira, jadi sebaiknya kita nggak usah membahas tentang dia lagi" pak Pramana ikut membuka suara.
Beliau mendukung argumen putrinya karena merasa kalau yang di bilang Namira memang benar. Tak seharusnya mereka mengungkit masa lalu yang tak berguna yang hanya akan menimbulkan masalah saja.
Mama Namira pun diam, dia tak bisa berkata apa-apa lagi kalau sudah di serang oleh suami dan putrinya seperti itu. Jika suami dan anak perempuannya itu sudah bersatu untuk berargumen, maka di jamin tak akan ada yang bisa mendebat dan mengalahkan argumentasi mereka.
"hah .. ya sudah lah" mama Namira menyerah. Dia mengambil nafas besar untuk menahan kemarahannya pada mantan tunangan putrinya itu.
Setelah mengobrol sebentar, pak Pramana dan bu Asti berpamitan pulang karena ada urusan lain yang harus mereka lakukan.
"Tante doakan semoga kamu cepat sembuh Alena" ucap Bu Asti sebelum pergi.
"Tante dan om pergi dulu ya, lain kali kami pasti akan ke sini lagi" pak Pramana menambahkan.
"terima kasih om, tante" balas Alena sambil tersenyum kecil.
Kedua orang tua Namira pun keluar dari ruangan itu setelah berpamitan dengan Rafka dan Namira juga.
Suasana jadi sunyi setelah kepergian mama dan papa Namira, seakan tak ada yang mau untuk membuka suara.
Keadaan itu berlangsung selama beberapa menit, hingga akhirnya Alena membuka suara.
__ADS_1
"Kenapa kak Namira membohongiku?"