Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 75 Sebuah Dendam


__ADS_3

Wanita itu tersenyum licik, membayangkan hal jahat apa yang akan ia lakukan untuk membalas rasa sakit hatinya kepada dua orang yang tampak berbahagia itu.


Dia adalah Erin, orang yang sudah menyabotase foto Alvan dulu. Yang membuat pernikahan sepasang kekasih yang saling mencintai itu harus kandas di tengah jalan. Dan yang membuat Namira harus menjalani kehidupan yang rumit seperti saat ini.


Masih teringat olehnya, peristiwa buruk beberapa bulan lalu. Saat ia harus berada dalam sel tahanan yang dingin dan mencekam. Sebuah tempat yang tak pernah ia bayangkan akan ia tinggali sebelumnya.


Ia harus mendekam di tempat itu karena ulah seorang laki-laki yang dulu pernah menarik hatinya. Tapi semua perasaan itu kini sudah berubah menjadi rasa dendam yang membara. Karena pria itulah yang sudah menjebloskannya ke dalam penjara.


Untung saja dia di bantu oleh pamannya yang kaya raya. Jadi ia bisa bebas dengan menggunakan sejumlah uang sebagai jaminannya.


Lagi pula kasus yang menimpanya bukan tergolong kasus pidana yang berat, seperti pembunuhan atau pun penganiayaan. Ia hanya mendapatkan dakwaan atas kasus penipuan dan juga pencemaran nama baik. Jadi tak sulit baginya untuk membebaskan diri dari tempat menyeramkan itu dengan bantuan pamannya.


Sekarang dia sudah berada di sini. Menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya. Ia sudah merencanakan dengan matang rencana jahat apa yang akan ia lakukan semenjak masih berada di sel tahanan.


Dan dia sudah bertekad melakukannya dengan permainan rapi agar semuanya berjalan dengan lancar seperti yang ia inginkan.


Dia masih memandang ke arah Alvan dan Namira yang sedang menikmati makanannya itu dengan cacian yang di ucapkannya di dalam hati.


*Enak saja kamu bersenang-senang setelah menjebloskan aku ke dalam tempat busuk itu..


Kamu pikir aku terima gitu aja dengan perbuatanmu dulu?!


Jangan salah, Alvan! aku bukanlah wanita lemah yang dengan mudahnya menyerah dengan keadaan..


Aku berjanji akan membuatmu menyesal karena sudah berurusan denganku..*


Wanita itu pun melangkah pergi, masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat itu. Ia harus bermain cantik dan elegan agar rencananya berjalan mulus tanpa hambatan.


Karena jika sampai kurang berhati-hati, maka nasibnya sudah di pastikan akan sama lagi seperti dulu, yaitu mendekam di dalam sel tahanan. Dan tentu ia tak mau kalau hal itu sampai terulang kembali.


"Gimana buburnya Namira?" Alvan membuka suara sekedar untuk berbasa-basi. Menurutnya, rasanya kurang lengkap jika makan berdua tanpa mengobrol. Seperti ada sesuatu yang kurang.

__ADS_1


"Enak banget kok, udah lama kayaknya aku nggak makan bubur ayam gini!" balas Namira antusias setelah itu memasukkan suapan bubur terakhir ke dalam mulutnya.


"Mau nambah lagi? aku pesenin satu porsi lagi ya!?" tawar Alvan.


"Eh.. nggak usah Alvan. Aku udah kenyang banget ini!" tolak Namira.


"Bukannya tadi kayaknya kamu kelaperan banget!?" ucap Alvan sambil tersenyum meledek.


"He.. he.. he.. Iya sih. Tapi kalo sekarang ya udah kenyang dong!" balas Namira sambil menahan malu.


Sehabis makan, Namira merasa seperti ada sesuatu yang kurang. Dan ternyata dari tadi mereka lupa belum memesan minuman karena terlalu fokus dengan makanan yang di santapnya.


"Bentar aku pesenin minuman dulu, kamu mau minum apa Namira?" Alvan beranjak dari duduknya berniat untuk memesan minuman untuk Namira dan juga untuknya sendiri.


"Jus jeruk aja deh!" ceplos Namira. Entah kenapa tiba-tiba dia menginginkan minuman menyegarkan itu.


"Oh .. oke. tunggu bentar ya!" ujar Alvan lalu berjalan menuju ke gerai aneka jus yang bersebelahan dengan gerai bubur ini.


Dulu saat sedang bersama dengan pria itu, Namira merasa sangat bahagia. Bahkan hatinya seperti di kelilingi sejuta kupu-kupu yang menari di dalamnya. Tapi tak tau kenapa kali ini rasanya berbeda.


Ia seperti tak merasakan buncahan rasa yang membara di hatinya. Dan yang lebih anehnya, Namira malah memikirkan Rafka saat bersama dengan laki-laki itu.


*Sebenarnya apa yang terjadi dengan hatiku? kenapa aku malah merindukannya? merindukan seseorang yang ingin berpisah dariku..


Merindukan seseorang yang tak menganggapku penting di dalam hidupnya..


Aku benci dengan perasaan ini. Kenapa perasaan ini harus ada di saat aku tak lagi bersamanya?!


Kenapa perasaan ini ada di saat kami akan segera berpisah..*


Namira menelungkupkan kepalanya. Ia tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Ia terlalu naif untuk mengakui semuanya.

__ADS_1


Namira tak tau sejak kapan rasa itu datang dan menguasai hatinya. Yang ia tau hatinya kini terasa hampa tanpa seorang pria yang bernama Rafka. Yang beberapa bulan ini telah menemani hari-harinya.


Beberapa saat kemudian, Alvan datang dengan membawa dua gelas jus untuk mereka minum bersama. Yang satu jus jeruk seperti permintaan Namira, dan yang satunya lagi jus apel untuknya sendiri.


"Ini di minum dulu Namira. Maaf ya tadi sampe kelupaan minumnya!" ucap Alvan sambil meletakkan segelas jus jeruk di hadapan Namira.


"Nggak pa-pa Alvan, makasih ya!"


Melihat jus jeruk yang ada di hadapannya, Namira bukan langsung meminumnya, melainkan malah memandangi jus berwarna oranye itu. Dia malah teringat masa lalunya saat masih bersama Rafka. Laki-laki itu dulu pernah memuji jus buatannya enak, padahal yang di buatnya hanya lah jus biasa.


"Kenapa nggak di minum Namira?" tanya Alvan yang membuat Namira sedikit terkejut karena terlalu asyik melamun.


"Oh.. eh.. iya Rafka" ucap Namira spontan, ia tak sadar kalau sudah salah menyebut nama laki-laki yang ada di depannya.


"Apa kamu bilang Namira?" tanya Alvan dengan ekspresi wajah seperti tak terima.


"Apa? memangnya aku bilang apa?" bukannya menjawab dengan jelas, Namira malah memberikan pertanyaan juga pada Alvan.


"Kamu tadi salah manggil namaku, Namira. Tadi kamu manggil aku dengan nama Rafka" kekecewaan terpancar jelas dari mata Alvan saat mengatakan kalimat itu.


"Oh ya? maaf ya Alvan, aku nggak nyadar kalo salah sebut nama" balas Namira merasa tak enak.


*Ada apa dengan kamu Namira? kenapa kamu malah menyebut namanya saat sedang bersamaku?


Apakah perasaan kamu sudah berubah?


Aku sudah tak bisa melihat tatapan mata penuh cinta yang kamu tujukan untukku..


Enggak, Namira nggak mungkin seperti itu. Dia hanya mencintaiku dari dulu sampai sekarang. Dan akan terus begitu..


Ya, ini pasti hanya perasaanku saja. Dia hanyalah Namiraku seorang. Dan tak ada yang boleh mengambilnya dariku..*

__ADS_1


Alvan mencoba menampik perasaannya. Ia menyangkal suara hati kecilnya. Ia lebih memilih untuk mempercayai pikirannya sendiri, seakan semuanya masih sama seperti dulu.


__ADS_2