Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 50 Perhatian


__ADS_3

"Rafka.. " panggil Namira pelan pada suaminya.


Laki-laki itu refleks menoleh ke arah sumber suara berasal. Dia melihat istrinya sedang berdiri tak jauh darinya, dan di sampingnya ada pria lain yang begitu ia benci. Ya, laki-laki itu adalah Alvan.


Kembali merasakan sakit hati. Itulah yang di rasakan Rafka sekarang ini. Tapi dia berusaha untuk bersikap normal di depan Namira, menutupi kegundahan hati yang ia rasakan.


"Kamu sudah kembali Namira?!" kalimat itu terdengar seperti basa basi di telinga Namira. Karena sudah jelas-jelas dia berada di situ, tapi masih menanyakan pertanyaan yang seperti itu.


"iya Raf, kamu... sudah makan?" Tanya Namira tiba-tiba, mungkin itu sebagai bentuk kepedulian pada sang suami.


Alvan yang mendengar ucapan Namira yang di tujukan pada Rafka langsung membelalakkan matanya, seakan tak menyangka kalau Namira lah yang mengucapkan kalimat itu.


Kecemburuan mulai mengontaminasi perasaannya. Dia seperti tak terima jika Rafka mendapatkan perhatian dari Namira, padahal jelas-jelas laki-laki itu adalah suaminya. Dan sebenarnya dia memang pantas mendapatkan perhatian seperti itu dari istrinya sendiri.


Tapi rumus itu tidak berlaku untuk logika Alvan. Dia berpikir bahwa laki-laki itu tak berhak mendapatkan perhatian dari Namira karena tak ada cinta untuknya di hati Namira.


Bisa di bilang kalau Alvan itu memiliki sifat yang egois dengan perasaannya. Tapi memang begitulah kenyataannya.


Sedangkan Rafka seperti terperangah mendengar ucapan dari istrinya. Seperti yang di rasakan Alvan, dia juga seakan tak percaya kalau istrinya mengucapkan kalimat yang bermakna perhatian itu padanya. Karena selama ini Namira tak pernah sekalipun berkata seperti itu.


"Rafka.. kamu pasti belum makan kan?" Namira mengulangi pertanyaannya karena bukannya menjawab, Rafka malah tampak seperti melamunkan sesuatu.


"aku... aku udah makan kok!" jawab Rafka pada akhirnya. Dia terpaksa berbohong pada istrinya karena alasan yang hanya dia sendiri yang mengetahuinya.


"aku ke sana bentar ya!" pamit Namira kemudian langsung membalikkan badan akan berjalan pergi.


"mau kemana Namira?" tanya Rafka ingin tau.


Dan Alvan? sudah tak sabar ingin segera bersuara menanggapi ucapan Namira.


"aku mau.. " Namira belum selesai melanjutkan ucapannya tapi Alvan menyela pembicaraan mereka.


"biar aku antar aja Namira, yuk!" sela Alvan sambil mendekat ke arah Namira berniat untuk mengikuti wanita itu.

__ADS_1


"aku.. mau ke toilet. masak mau ikut? udah ah, aku pergi dulu ya! bye.." Namira langsung nyelonong pergi meninggalkan Alvan dan juga Rafka yang terpaku pada tempat mereka masing-masing.


Dia pun berjalan kembali menyusuri lorong rumah sakit mencari tempat yang di carinya. Dan tak butuh waktu lama ia sudah sampai di tempat itu.


"Mbak, saya mau pesan ayam bakar kecap plus nasi satu porsi aja, bungkus ya!" ucap Namira pada penjaga kantin rumah sakit, tempat yang baru saja di datanginya.


Tadi dia terpaksa harus berbohong karena tidak mau kalau Alvan mengikutinya.Tentu dia merasa tak enak dengan suaminya jika terlalu sering jalan berdua bersama laki-laki lain.


Meskipun dia tak mencintai Rafka, tapi dia tetap akan menghormati laki-laki itu sebagai suaminya dengan berusaha untuk menjaga perasaan Rafka semampu yang ia bisa.


"baik kak, untuk minumnya mau sekalian kak?" tawar wanita penjaga kantin tadi dengan ramah.


"boleh mbak. Minumnya lemon tea aja ya mbak, bungkus juga" ujar Namira.


"baik kak, mohon di tunggu sebentar ya!"


"iya mbak"


Beberapa menit ia menunggu, akhirnya makanan pesanannya siap juga. Ia pun membayar di kasir kemudian bergegas pergi setelahnya sambil l membawa bungkusan plastik yang berisi box makanan dan minuman di dalamnya.


"ini Raf.. kamu makan dulu!" Namira menyodorkan makanan dan minuman yang di bawanya tadi kepada suaminya.


Bukannya langsung menerima, Rafka malah melongo melihat box makanan dan minuman kemasan yang di bawa Namira.


"Rafka.. kok malah bengong? ini kamu makan dulu!" Namira mengarahkan makanan yang di bawanya tepat di tangan Rafka.


"terima kasih Namira" ucap laki-laki itu sambil menerima makanan yang di berikan istrinya.


Bagaimana dengan Alvan? wajahnya terlihat menunjukkan kecemburuan yang sangat, melihat perhatian yang di tunjukkan Namira untuk suaminya. Walaupun pada kenyataannya, itu adalah hal yang wajar yang biasa di lakukan oleh sepasang suami istri.


"sama-sama Raf, ya udah kalo gitu kamu makan dulu gih!" ujar Namira.


Seperti terhipnotis, Rafka langsung memakan makanan yang di bawakan Namira itu dengan penuh semangat hingga membuat perempuan itu terheran-heran.

__ADS_1


*ya ampun.. ni orang kelaparan apa gimana sih? kok lahap banget gitu makannya..


Rafka, Rafka.. kalo laper harusnya makan dari tadi dong..


Atau .. apa aku yang salah ya karena nggak nyuruh dia makan sejak tadi.


ah.. aku jadi tambah ngerasa bersalah kalo kayak gini. aku merasa kayak jadi istri yang nggak becus ngurus suami..*


Namira terhanyut dalam pikirannya sendiri sambil menatap suaminya.


Uhuk.. Uhuk..


Tiba-tiba saja Rafka terbatuk-batuk karena tersedak makanan yang di santapnya. Mungkin ia terlalu terburu-buru makan, hingga membuatnya jadi tersedak seperti itu.


Refleks Namira mengambil lemon tea dalam kemasan cup yang di belinya tadi, lalu memberikan minuman itu pada Rafka setelah menancapkan sedotan berwarna putih di bagian atas kemasannya.


Rafka menerima minuman itu dari Namira kemudian langsung menyedot isinya dengan sedikit terbatuk-batuk karena efek dari tersedak tadi yang masih tersisa.


"makasih Namira" Rafka berkata setelah selesai meminum lemon tea tersebut hingga tinggal separuhnya saja.


"iya Raf. Kamu tuh gimana sih?! pelan-pelan aja dong makannya biar nggak tersedak gitu" Namira jadi sedikit mengomel, melihat kecerobohan suaminya.


"maaf Namira, habisnya ayam bakarnya enak banget sih!" ujar Rafka mencari alasan. Sebenarnya bukan rasa makanan yang membuatnya bersemangat melahap makanan itu, melainkan alasannya adalah dari siapa makanan itu berasal.


Rafka merasa kalau makanan itu sebagai bentuk kepedulian dan perhatian istrinya pada dirinya, oleh karena itu Rafka semangat untuk menghabiskannya.


Sejenak ia bisa melupakan kesedihan karena adiknya yang sedang kritis dan sedang dalam penanganan dokter untuk melakukan operasi.


Namira tersenyum kecil sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil yang mendapatkan permen itu.


Sedangkan Alvan tampak tak suka melihat kejadian yang terjadi di depan matanya. Dia merasa iri hati melihat Rafka yang di perhatikan sedemikian rupa oleh Namira.


Tapi apapun yang di rasakannya saat ini, Alvan merasa tak berhak untuk bersuara apa pun, apa lagi melarang Namira untuk melakukannya. Karena ia sadar akan posisinya saat ini bahwa dia tak memiliki hak apapun atas kehidupan Namira.

__ADS_1


__ADS_2