Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 30 Terlambat menyadari


__ADS_3

Rafka terpaku melihat pemandangan yang ada di depannya. Ia melihat istrinya sedang berciuman dengan laki-laki lain,dan laki-laki itu adalah seseorang yang ada di hati Namira. Ya, Namira sedang bersama dengan mantan tunangannya dulu.


Entah mengapa dadanya terasa sakit melihat semua itu. Sepertinya ia baru menyadari kalau mulai ada rasa cinta yang tumbuh di hatinya untuk Namira. Karena jika tidak, ia tak mungkin merasakan perih, seperti yang di alaminya saat ini.


Ia berjalan menjauh dari tempat itu, dan masuk segera ke dalam mobilnya. Membawa luka yang tak pernah ia bayangkan sesakit ini rasanya.


Dia sama sekali tak menyangka kalau keputusannya untuk mengikuti Namira akan membawanya pada situasi yang rumit seperti ini.


Memang kemarin malam Namira bilang akan menemui Alvan sendiri untuk membantu menyelesaikan masalah Alena. Tentu sebagai suami, Rafka khawatir dan menawarkan diri untuk mengantarkannya, tapi keinginannya itu di tolak oleh istrinya.


Rafka tak hilang akal, ia putuskan untuk mengikuti Namira diam-diam tanpa sepengetahuannya. Dia akan memastikan kalau Namira baik-baik saja dan tidak mengalami kesulitan.


Dan karena keputusannya itu, akhirnya dia tau semua yang terjadi. Dia sadar kalau istrinya tak pernah sedikitpun mencintainya. Ia ingin marah tapi tak tau marah pada siapa.


Dalam hal ini Namira memang tak salah menurutnya, karena semenjak awal pertemuan mereka, Namira sudah menegaskan jika mereka hanya menikah karena keterpaksaan saja, tanpa adanya cinta.


Dan mereka juga sudah bersepakat untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing,atas keinginan Namira. Bukankah semua itu sudah menandakan bahwa istrinya itu sama sekali tak ada rasa untuknya.


Rafka merutuki dirinya sendiri karena tak bisa menjaga hatinya sehingga jatuh dalam perasaan cinta yang tak terbalas yang membuat dirinya rapuh seperti sekarang.


* * *


Namira mendorong bahu Alvan kuat sambil melepaskan ciuman mereka. Perasaannya sungguh kacau sekarang. Dia tak habis pikir kenapa dia bisa melakukan hal seperti itu, karena secara tidak langsung itu membuatnya tampak seperti wanita yang sedang berselingkuh dari suaminya.


Meskipun Namira tidak mencintai Rafka, tapi ia menghormatinya sebagai kepala keluarga. Dan ia merasa sangat tak pantas untuk melakukan perbuatan seperti tadi.

__ADS_1


"maaf" Alvan berucap pelan pada Namira. Ia terbawa perasaan sehingga melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan.


"pergilah Alvan. aku mau sendiri dulu" Ujar Namira pelan. Ia ingin menenangkan dirinya sejenak dan juga menjernihkan pikirannya yang sudah mulai keruh oleh semua peristiwa yang di alaminya hari ini.


"tapi aku nggak bisa ninggalin kamu dalam keadaan seperti ini,Namira. Izinkan aku untuk mengantarkanmu pulang dulu setelah itu aku akan pergi" Alvan menolak pergi, dia mengkhawatirkan keadaan Namira yang sedang tidak baik-baik saja.


Namira tahu,akan percuma jika terus berdebat dengan laki-laki itu karena ia mengenal sifatnya dengan baik. Jika sudah begini, Alvan tetap akan kukuh dengan pendiriannya dan tak akan pernah goyah sekuat apapun Namira melawannya.


Akhirnya dia mengabulkan permintaan Alvan untuk mengantarnya pulang tanpa berucap sepatah kata lagi. Namira hanya diam di sepanjang perjalanan pulang. Pikirannya seperti menerawang jauh entah kemana.


Alvan juga tak berani mengganggunya. Dia merasa kalau Namira butuh waktu untuk memahami segala yang terjadi. Dan dia akan senantiasa menunggunya untuk itu.


Mobil keluaran terbaru itu membelah jalanan kota dengan kecepatan rendah karena si pengemudi masih ingin berlama-lama dengan penumpangnya.


Perjalanan yang harusnya hanya dua puluh menit jadi lebih lama dua kali lipat karena kecepatan mengemudi Alvan yang di bawah rata-rata. Laki-laki itu mengantarkan Namira tepat di depan rumahnya tanpa Namira sadari, karena sejak tadi dia seperti sibuk dengan pikirannya sendiri.


"maaf.. maaf.. aku udah bikin kamu kaget ya?!" Alvan merasa bersalah.


"oh.. nggak pa pa kok, aku aja yang lagi nggak fokus" sahut Namira.


"kalo gitu aku langsung balik ya! itu si Leon udah jemput" ucap Alvan sambil menunjuk asisten pribadinya yang sudah standby di atas mobil menunggunya.


Tadi sebelum berangkat, Alvan memang mengirim pesan singkat pada Leon untuk menjemputnya di alamat yang di kirimkan, agar ia bisa langsung pulang dan tidak terlalu lama menunggu.


"iya. makasih Van!" ujar Namira.

__ADS_1


"sama-sama,ya udah kamu masuk dulu ke dalam. Aku akan pergi sekarang" Alvan membuka pintu mobil, begitu juga dengan Namira. Mereka keluar dari mobil secara bersamaan. Namira tak tau kalau suaminya sudah pulang dari tadi dan melihatnya dari dalam rumah.


Hati Rafka semakin sakit sekarang ini. Dia berpikir bahwa Namira dan Alvan sudah terang-terangan menunjukkan hubungan mereka di depannya, dan Rafka membenci itu.


Alvan melambaikan tangan pada Namira lalu pergi dengan mobilnya yang di kemudikan oleh Leon. Tapi Namira tak membalas lambaian tangan itu. Dia hanya mematung melihat kepergian Alvan dengan perasaan yang masih mengganjal di hatinya.


Namira sendiri benar-benar bingung dengan perasaannya. Rasanya dia ingin segera masuk ke kamar lalu tidur agar bisa melupakan sejenak segala kepelikan hidup.


Namira masuk ke dalam rumah berdesain klasik tapi elegan itu dengan tak bersemangat. Haruskah ia bersyukur karena mengetahui semua kebenarannya, tapi dengan konsekuensi kebimbangan hati yang di rasakannya. Entahlah.. semuanya sungguh terasa membingungkan bagi Namira.


Rafka yang sedang duduk di sofa ruang tamu menoleh ke arah Namira sebentar lalu mengalihkan pandangan ke telepon seluler yang sedang di genggamnya lagi, seakan acuh tak acuh akan kedatangan istrinya.


Kehadiran Rafka membuat Namira sedikit terkejut, karena tak biasanya laki-laki itu berada di rumah pada jam-jam seperti ini. Namira melihat jam di pergelangan tangannya memastikan, apakah dia sekacau itu sampai tidak tau waktu.


Dan ternyata benar, sekarang baru jam sebelas siang. Harusnya suaminya itu masih di kantor, begitu pikir Namira. Padahal ia tak tahu kalau Rafka mengikutinya tadi, dan pulang ke rumah sebelum dia datang.


"tumben jam segini kamu udah pulang, Raf? apa kamu sakit?" tanya Namira karena merasa penasaran.


Hening.. Rafka sama sekali tak menanggapi ucapan Namira. Dia malah pergi meninggalkan perempuan itu yang terheran-heran dengan sikapnya.


Ngapain tuh orang? kok sikapnya jadi aneh?! apa benar dia lagi sakit, sampe nggak kuat ngomong gitu?


Tapi kok tatapan matanya nggak kayak biasanya ya? aku ngerasa kalo dia sedang marah sama aku. Apa dia melihat Alvan mengantarkan ku tadi ya?!


Namira pun menyusul Rafka yang tadi sedang menuju ruang kerjanya. Tanpa mengetuk pintu Namira langsung nyelonong masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


"ada apa dengan kamu Rafka? apa ada yang salah?" Namira melontarkan pertanyaan yang membuat Rafka terperangah.


__ADS_2