
Seorang wanita yang memakai masker di wajahnya memukul setir mobil dengan cukup keras setelah memarkir mobilnya di tempat parkir sebuah apartemen.
Peluh menetes membasahi kening setelah kejadian yang baru saja di alaminya. Kejadian menegangkan yang baru kali ini ia rasakan. Ia tak menyangka kalau akan melakukan perbuatan senekat itu dalam hidupnya. Bahkan terbersit sedikit pun tak pernah. Tapi semenjak di hatinya timbul rasa dendam, maka muncullah semua rencana jahat itu.
Dia merencanakan semuanya dengan matang untuk melukai orang yang sangat ia benci hari ini. Sebenarnya ia telah salah mengeksekusi, karena target yang sebenarnya adalah Namira. Ia ingin melukai wanita itu agar membuat Alvan hancur dan bersedih.
Ia ingin menyiksa batin laki-laki yang ia benci itu dengan cara melukai wanita yang di cintainya. Tapi ia tak menyangka kalau rencananya akan gagal dan malah Alvan sendiri yang mengalami kecelakaan itu.
*Argh.. sialan! kenapa rencanaku bisa gagal sih?!
Padahal tinggal selangkah lagi dan semua rencanaku akan berhasil!
Rupanya dia sangat mencintai perempuan itu, sampai-sampai dia mau mengorbankan diri buat melindungi dia..
Tapi ya udah lah, biarin aja dia yang kena,biar sekalian mampus tuh orang!!*
Erin tersenyum licik setelah selesai menjalankan misinya. Misi yang sudah di rencanakannya setelah sekian lama. Yang harus sedikit gagal karena ada masalah yang tak ia duga.
Ia meninggalkan mobil tanpa plat nomor yang sudah di kendarainya tadi. Wanita itu sengaja menghilangkan plat nomor bertujuan agar mobil itu tak mudah di lacak dan agar ia tak menjadi tersangka utama dalam kasus tabrak lari tersebut.
Erin sudah banyak belajar dari kesalahan terdahulunya, dan kini ia sudah mulai bisa untuk merencanakan suatu tindak kejahatan dengan lebih rapi lagi agar pihak berwajib tidak bisa mengendus perbuatannya.
* * *
Di rumah sakit..
Namira duduk di sebelah brankar milik Alvan sambil menelungkupkan kepalanya. Ia menunggui laki-laki itu semenjak pagi tadi hingga sekarang. Bahkan ia belum sempat pulang ke butik untuk sekedar berganti pakaian saja. Ia tetap memakai setelan kaos olahraga lengkap dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya seperti pagi tadi.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, Alvan bangun. Ia melihat Namira yang sedang menelungkupkan kepala di sebelahnya. Ia pun mengelus pelan rambut wanita itu sebagai bentuk rasa sayangnya.
Perasaannya sungguh di liputi ketakutan tadi. Karena hampir saja Namira mengalami sesuatu yang buruk di depan matanya. Tapi ia bersyukur semua yang ia takutkan tidak terjadi. Meskipun dia sendiri yang harus menggantikan posisi itu.
Dia rela untuk melakukannya asal wanita yang di cintainya selamat dan tidak mengalami kejadian yang buruk, karena ia tak akan pernah sanggup untuk mengalami semua itu. Menurutnya lebih baik raganya yang sakit dari pada jiwanya yang harus menderita melihat Namira yang terluka.
Untungnya saat kejadian tabrakan yang terjadi sekelebat mata tadi, dia refleks untuk memegang bagian kepalanya, sehingga ia tak mengalami benturan keras di bagian tersebut. Hanya saja kakinya yang terpelanting cukup keras hingga menyebabkan cidera yang cukup parah.
Sepertinya Namira tertidur sejenak saking capeknya mondar-mandir sejak tadi. Ia sampai tak bisa merasakan sentuhan tangan Alvan yang membelai lembut rambut kepalanya perlahan.
*Kenapa aku merasa senang mengalami kejadian ini?!
Meskipun tubuhku yang sakit, tapi hatiku sangat bahagia karena melihat Namira sangat dekat denganku seperti ini..
Aku merasa seperti kembali ke masa lalu, saat Namira masih menjadi milikku seutuhnya..
Tuhan, biarkanlah waktu berhenti berdetak sejenak, agar aku bisa merasakan kebahagiaan ini sedikit lebih lama..*
Namira menggeliat, rupanya ia sudah terbangun dari tidur sejenaknya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali melihat Alvan yang sudah membuka mata dan menatap ke arahnya.
"Kamu sudah bangun, Alvan?" tanya Namira dengan wajah polos khas orang bangun tidur.
"Sudah dari tadi Namira, kamu kenapa tidur di situ? Harusnya kamu istirahat aja di tempat lebih nyaman. Jangan nungguin aku kayak gitu!" Alvan sedikit mengomel. Meskipun ia senang Namira ada di dekatnya, tapi ia kasihan juga melihat Namira yang tampak kelelahan seperti itu.
"Kamu udah bangun dari tadi? kok nggak bangunin aku sih?!" protes Namira.
"Abis kamu nyenyak banget, aku nggak tega bangunin kamu" kilah Alvan.
__ADS_1
"Aduh.. maaf ya Van, bukannya siap siaga, aku malah ketiduran gitu!"
"Nggak pa-pa Namira, harusnya aku yang minta maaf udah ngerepotin kamu kayak gini!"
"Nggak lah Van, malah aku yang harus berterima kasih karena kamu udah selametin aku dari tabrakan itu. Kalo aja kamu nggak nyelametin aku, mungkin aku yang ada di posisi kamu sekarang ini!"
"Nggak perlu berterima kasih Namira. Karena itu semua udah jadi kewajiban aku untuk menjaga wanita yang aku cintai"
Namira terdiam beberapa saat, ia merasa sedikit tak enak hati mendengar ucapan yang di lontarkan Alvan. Entah kenapa Perasaannya kurang nyaman sekarang. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati, tapi tak tau apa.
"Aku tadi udah telpon mami kamu, aku udah ngasih kabar kalau kamu kecelakaan" Namira mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik lain.
"Apa?? kamu ngasih tau mami? waduh.. bisa berabe ini!" Tiba-tiba saja ekspresi wajah laki-laki itu berubah jadi panik.
"Memangnya kenapa Alvan? bukankah beliau harus tau yang terjadi dengan putranya?! mami kan orang tua kamu!" Namira masih tak mengerti dengan tanggapan Alvan yang seperti sedikit takut untuk menghadapi sesuatu.
"Mami belum tau tentang kita Namira. Aku belum cerita ke mami kalo pertunangan kita batal. Jadi mami taunya hubungan kita masih sama seperti dulu!" jelas Alvan yang membuat Namira terperanjat. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin Alvan menyembunyikan hal itu dari orang tuanya sendiri.
Mami Alvan adalah seorang single parent. Ia adalah wanita kuat yang membesarkannya seorang diri. Ia berhasil membangun kerajaan bisnis dengan usahanya sendiri yang di mulai dari nol.
Suaminya yang selingkuh dan meninggalkannya dengan wanita lain menjadi cambuk terbesar bagi dirinya untuk meraih kesuksesan secara mandiri.
Dan atas semua kerja kerasnya itu, beliau berhasil meraih kesuksesan hingga bisnisnya sampai melanglang buana hingga ke luar negeri.
"Kenapa kamu nggak ceritain semua masalah kita ke mami Van?" Tanya Namira berusaha untuk mencari tau alasan yang ada di balik sikap Alvan yang merahasiakan semuanya.
"Kamu tau sendiri kan kalo mami sayang banget sama kamu!? aku nggak tega bilang ke mami tentang batalnya pertunangan kita karena takut kalo mami kecewa. Mami taunya kalo pernikahan kita hanya di undur aja, bukannya batal" Alvan menjelaskan semua alasannya pada Namira.
__ADS_1
Semua ini membuat Namira bingung, bagaimana cara menghadapi mami Alvan nanti. Di dalam hatinya ia pun tak tega jika harus melukai hati wanita yang sangat baik dan juga sangat menyayanginya itu.