
Rafka masih berusaha mengetuk-ngetuk pintu kamar yang di tempati Namira sambil memanggil-manggil namanya, tapi tetap tidak ada hasil. Pintu bercat putih itu tetap tertutup rapat dan teriakan yang cukup kencang tadi sudah tak terdengar sama sekali dari dalam sana.
Bukannya tambah tenang, Rafka malah semakin cemas. Tanpa berpikir panjang lagi, ia mendobrak pintu kamar itu dengan menggunakan sisi badan sebelah kanan. Ia berjalan mundur beberapa langkah lalu maju lagi dengan sedikit berlari sambil menabrakan dirinya dengan kencang ke pintu.
Usahanya itu tak langsung berhasil. Ia mengulangi gerakan itu beberapa kali, baru pintu yang cukup bandel itu bisa terbuka.
Setelah itu, dia pun masuk ke dalam kamar yang masih gelap gulita. Tak kehabisan akal, Rafka mengambil ponsel yang berada di kantong celananya lalu menyalakan flash light sebagai penerangan.
Ia mengarahkan ponsel yang menyala itu ke seluruh ruangan untuk mencari keberadaan Namira. Dan di sana, ia melihat wanita itu di sebelah ranjang sambil menelungkupkan kepalanya dengan badan gemetaran seperti orang yang sedang sangat ketakutan.
Dengan sigap, Rafka menghampiri istrinya dengan perasaan khawatir lalu menyentuh bahunya perlahan.
"kamu kenapa Namira? apa yang terjadi?" tanya Rafka penuh kecemasan.
Namira hanya diam saja. Ia sama sekali tak menanggapi pertanyaan Rafka. Ia masih tetap menelungkupkan kepala, tanpa mau sedikit pun menoleh.
"Namira, kamu lihat aku! Ini aku Rafka" laki-laki itu masih mencoba untuk berkomunikasi.
Mendengar itu Namira langsung mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah sumber suara itu berasal. Dengan spontan ia memeluk suaminya itu dengan erat seakan tak mau melepasnya sambil memejamkan mata.
Gerakan Namira yang tiba-tiba itu, membuat Rafka terkejut. Selama beberapa bulan mereka menikah dan menjadi sepasang suami istri, baru kali ini ia merasakan pelukan hangat dari istrinya.
Perasaannya sungguh campur aduk sekarang. Antara senang karena ia dan Namira berada dalam jarak yang sedekat ini, tapi juga cemas karena kondisi istrinya yang tampak sangat ketakutan tanpa mengetahui apa penyebabnya.
"kamu kenapa Namira?" Rafka kembali mengulang pertanyaan yang belum sempat di jawab tadi.
__ADS_1
"aku takut Raf" ujar Namira pelan, bahkan suaranya hampir tak terdengar. Rafka pun harus menajamkan pendengarannya agar bisa mendengar dengan baik apa yang di ucapkan Namira.
"kamu takut apa Namira? di sini tidak ada apa-apa yang membahayakan" Rafka berusaha menenangkan perempuan yang sedang memeluknya dengan erat.
"aku takut gelap Raf" jelas Namira dengan badan yang masih gemetaran.
Rafka baru tau kalau ternyata istrinya itu phobia dengan tempat gelap atau biasa di sebut nycto phobia.
"Nggak pa-pa Namira, ada aku di sini. coba kamu lihat, tempat ini sudah tidak gelap seperti tadi" ucap Rafka dengan hati-hati.
Namira membuka matanya perlahan lalu melihat ke sekelilingnya. Memang benar sudah tidak segelap tadi, karena ada flash light dari handphone yang lumayan menerangi kamar itu.
"benar kan, sudah nggak gelap kayak tadi?!" ucap Rafka sambil tersenyum kecil.
Namira baru sadar dengan posisinya saat ini yang sedang menempel pada tubuh suaminya. Ia pun memundurkan tubuhnya dengan cepat seperti salah tingkah.
"nggak perlu minta maaf Namira, aku sama sekali nggak keberatan kok" balas Rafka apa adanya. Memang itu lah yang benar-benar ia rasakan saat ini, bahkan ia malah merasa bahagia dengan momen yang tercipta tadi. Itu adalah merupakan momen langka yang terjadi di antara mereka berdua.
Namira menundukkan wajahnya. Ia masih merasa malu setelah apa yang di lakukannya tadi. Ia merasa sangat ketakutan hingga refleks memeluk seseorang yang ada di hadapannya.
Walaupun pria itu adalah suaminya tapi tetap saja ia merasa canggung, karena selama ini mereka berdua tak pernah melakukan hal seperti itu.
"Kalo gitu aku mau lihat instalasi listrik dulu ya di bawah, mungkin saja ada yang trouble" pamit Rafka. Sebenarnya dia bisa saja meminta bantuan pada orang lain tapi ia tak ingin melakukannya. Dia lebih memilih untuk melakukan sendiri selama ia bisa.
"Aku ikut" sergah Namira dengan cepat. Entah kenapa nyalinya seakan menciut jika berada dalam situasi gelap seperti ini.
__ADS_1
"serius?? di luar lebih gelap loh!" ucap Rafka spontan. Bukannya ia menolak permintaan Namira, hanya saja ia berpikir kalau di luar pasti lebih gelap karena ruangannya lebih luas, jadi cahaya dari ponsel tidak bisa merata ke seluruh ruangan.
Namira tampak berpikir sejenak. Ia menimbang-nimbang keputusan apa yang harus ia ambil. Tetap di kamar ini dengan cahaya minim dari flash light ponsel tetapi dengan resiko sendirian, atau ikut ke bawah bersama Rafka tapi dengan konsekuensi berada dalam kegelapan di ruangan yang begitu mengerikan baginya.
Beberapa saat kemudian, ia memutuskan untuk ikut dengan Rafka untuk menuju ke lantai bawah. Setidaknya meskipun berjalan dalam kegelapan, tapi masih ada sedikit cahaya dari flash light ponsel, di tambah juga ada Rafka yang menemaninya.
Baginya itu jauh lebih baik jika di bandingkan harus sendirian di dalam kamar yang remang-remang dan ketakutan sendiri seperti tadi.
"I.. iya. aku serius! aku mau ikut kamu aja" ucap Namira sedikit ragu-ragu sambil berdiri di samping Rafka.
"ya udah kalo kamu maunya gitu. ayo kita ke bawah sekarang!" ajak Rafka.
Namira pun mengangguk tanda mengerti. Dengan refleks ia menggandeng tangan kanan Rafka seperti mencoba untuk memberanikan diri.
Di dalam hati Rafka sangat menikmati setiap momen yang ia alami bersama Namira. Jika biasanya ia merasa kesal jika listrik sedang mengalami gangguan seperti ini, tapi kali ini ia merasa bersyukur, bahkan ia sempat berharap kalau listrik akan sering padam agar ia bisa sering-sering berdekatan begini dengan istrinya.
*Ah.. aku mikirin apa sih?! bisa-bisanya aku berpikiran begitu!
Jika gelap begini Namira pasti sangat ketakutan..
Sungguh egois jika aku menginginkan hal yang membuat Namira tidak nyaman..
Lagi pula Namira mau berdekatan denganku saat ini karena terpaksa. padahal yang aku mau kami berdua berdekatan atas dasar cinta tanpa adalah keterpaksaan oleh hal apapun..*
Mereka berdua pun berjalan keluar dari kamar untuk menuju ke lantai bawah dengan menggunakan penerangan seadanya, yaitu flash light dari handphone.
__ADS_1
Setelah beberapa langkah Rafka dan Namira sampai di ujung tangga. Mereka harus melewati anak tangga ini satu persatu dengan berhati-hati agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, seperti terpeleset atau yang lainnya.
Dari sana tampak ruangan di lantai bawah yang gelap gulita. Nyali Namira pun menciut. Dengan tiba-tiba ia menarik tangan Rafka untuk menuju kamar yang baru beberapa detik mereka tinggalkan.