Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 65 Penyesalan


__ADS_3

Tenggorokan Namira terasa tercekat mendengar ucapan Alena. Dia tak mengerti kenapa adik iparnya itu dengan tiba-tiba menuduhnya berbohong. Padahal selama ini ia merasa tak pernah membohongi Alena sedikitpun.


"Maksud kamu apa Alena? aku nggak ngerti" balas Namira mencoba mencari kejelasan dari pertanyaan yang di lontarkan Alena barusan.


"Nggak usah pura-pura lagi deh kak! Aku udah tau semuanya" ujar Alena sedikit kasar karena karena kemarahannya dengan kakak iparnya itu. Ia merasa kalau Namira sudah menyembunyikan hubungannya dengan Alvan selama ini.


"Aku benar-benar nggak ngerti dengan apa yang kamu maksud, Alena" ujar Namira dengan ekspresi wajah yang terlihat bingung.


"Kenapa kak Namira nggak pernah cerita ke aku tentang masa lalu kakak dan mas Alvan? bukankah itu sama saja dengan menutupinya dariku? dan itu artinya kak Namira udah bohong sama aku?!" balas Alena dengan banyak penekanan di setiap kalimat yang di ucapkannya.


"Cukup Alena, kamu nggak tau apa-apa. Jadi jangan bicara seenaknya begitu!" Rafka yang ada dalam satu ruangan bersama mereka tampak tak terima dengan tuduhan adik perempuannya pada Namira. Dia merasa Namira tak sepenuhnya bersalah dalam hal ini.


"Apa? jadi kak Rafka lebih belain dia dari pada aku?!" gadis itu tampak tak terima dengan pembelaan yang di lakukan Rafka terhadap Namira. Ia merasa semua itu terlalu tak adil baginya.


"Kakak nggak belain siapa-siapa Alena, kakak hanya ngomong sesuai dengan fakta yang ada!" Rafka masih mencoba memberikan pengertian pada adiknya.


Bukannya mengerti, Alena malah semakin marah dengan kakak kandungnya itu. Ia berpikir Rafka lebih menyayangi Namira dari pada adiknya sendiri. Itu bisa di lihat dari mata Alena yang tampak memerah dan ritme nafas di dadanya yang terlihat naik turun.


"Biar aku aja yang jelasin semuanya sama Alena, Raf" sela Namira berusaha menengahi perdebatan di antara kedua kakak beradik itu.


"Tapi Namira, dia nggak berhak ngomong gitu sama kamu" seru Rafka.


"Jangan gitu Raf, Alena berhak mengutarakan pendapatnya dan juga mengungkapkan isi hatinya" Namira berusaha sebisa mungkin untuk tidak lebih menyakiti hati adik iparnya.

__ADS_1


Rafka terdiam, tak mampu lagi mendebat ucapan istrinya. Dia hanya memandang ke arah Namira dan Alena tanpa berkata apa-apa lagi.


"Alena.. Aku sama sekali nggak ada maksud buat bohongin kamu! aku nggak ceritain semuanya karena takut kalau itu akan menyakiti hati kamu" ucap Namira.


"Omong kosong!! Aku nggak percaya lagi dengan ucapan mu! kamu jahat!" Alena sudah tak bisa menahan kemarahannya lagi, kini panggilan KAKAK yang biasanya di sematkan di depan namanya telah hilang bersamaan dengan rasa hormat yang juga sirna, seusai Alena mengetahui tentang semua kebenarannya.


"Aku mohon sama kamu, dengarkan penjelasan dariku dulu, Alena!"


"nggak ada yang perlu di jelaskan lagi, karena semuanya udah sangat jelas. Sekarang lebih baik kamu cepat pergi dari sini! pergi!!" Emosi Alena semakin memuncak, dan ia pun meluapkan semua amarahnya dengan menghardik kakak iparnya.


"Alena! jaga ucapan kamu! Kenapa kamu jadi kasar seperti itu?! kamu bukan seperti Alena yang aku kenal" Rafka ikut terbawa emosi juga.


"terus saja bela dia kak! aku .." tiba-tiba saja Alena memegangi kepalanya kuat-kuat seakan merasakan sakit yang teramat hebat di bagian itu.


"kamu kenapa Alena?" lirih Namira dengan penuh kecemasan yang terlihat jelas di wajahnya sambil memegang jemari Alena erat-erat.


"Bentar, aku panggil dokter dulu!" Ujar Rafka kemudian berlari keluar dari ruangan itu untuk memanggil dokter. Saking paniknya, dia sampai lupa akan fungsi tombol darurat yang sudah di sediakan di sana. hingga masih saja memanggil dokter dengan cara manual seperti yang di lakukannya saat ini.


"Kamu yang sabar ya Alena, bentar lagi dokter akan ke sini!" Namira masih terus berada di samping Alena dengan tangan yang bergetar karena mengkhawatirkan kondisi adik iparnya yang tampak sangat kesakitan itu.


"maafkan aku Alena, aku yang udah buat kamu jadi kayak gini!" air mata Namira menetes membasahi pipi. Ia merasa sangat bersalah pada Alena. Dia beranggapan karena dirinya lah Alena bisa sampai kesakitan seperti itu.


Dokter sudah mewanti-wanti agar tidak membiarkan Alena untuk berpikir terlalu keras hingga menimbulkan stress, karena itu akan sangat mempengaruhi kesehatannya. Tapi secara tak sengaja semua masalah ini datang, dan itu pasti menimbulkan tekanan yang di besar di pikiran Alena.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, seorang dokter yang biasa menangani Alena datang beserta dengan para perawat yang mengekor di belakangnya. Dan dokter itu meminta Rafka dan Namira keluar sebelum menangani pasiennya.


Namira dan Rafka keluar dari ruang rawat Alena dengan pikiran yang berkecamuk. Saat ini mereka berdua sangat mencemaskan kondisi Alena, mereka takut jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap gadis itu.


"ini semua gara-gara aku, Rafka. Akulah yang menyebabkan Alena jadi seperti itu!" Namira masih saja menangis, menyesali perbuatannya.


"nggak Namira. aku lah yang seharusnya di salahkan, karena aku yang meminta Alvan untuk mendampingi Alena. Kalau aku ngga minta dia untuk ngelakuin itu, pasti semua ini nggak akan terjadi" Rafka pun ikut-ikutan menyalahkan dirinya juga, sama seperti Namira.


"Nggak Raf, apa yang di katakan Alena itu benar. Aku lah yang paling bersalah. Harusnya aku jujur dan menceritakan tentang semua masa lalu ku sama dia dari awal agar kesalah pahaman ini nggak terjadi!"


"Itu semua nggak penting lagi sekarang, Namira. Sekarang yang penting kita doakan saja agar Alena bisa melewati semua ini dengan baik" Rafka berusaha menenangkan Namira.


Mereka berdua sama-sama merasa bersalah dan mengkhawatirkan keadaan Alena. Tapi Rafka pikir jika saling menyalahkan diri sendiri, maka tak akan pernah ada habisnya. Dan juga percuma saja, karena semuanya sudah terlanjur terjadi.


*Ya tuhan.. tolong selamatkan lah Alena. Tolong berikan lah kesembuhan untuknya, tuhan..


Semua yang terjadi pada Alena adalah salahku, dan aku nggak akan bisa memaafkan diri ku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Alena..*


Di dalam hati, Namira senantiasa berdoa untuk kesembuhan adik iparnya itu. Walau pun bibir nya sudah tak bersuara, tapi di dalam hati ia terus menyalahkan dirinya sendiri untuk segala hal yang menimpa Alena.


Sedangkan Rafka diam-diam juga menyesal dengan langkah yang ia ambil. Dia menyesal sudah menuruti permintaan Alena untuk mempertemukannya dengan Alvan.


Kalau Dia tidak membawa laki-laki itu ke sana, mungkin semua ini tak akan pernah terjadi. Ya, begitu lah penyesalan, selalu datang di akhir dan tak pernah ada kata permisi.

__ADS_1


__ADS_2