
"Aku nggak pa pa kok kak, kak Rista nggak usah khawatir" Aku berusaha setegar mungkin mengatakannya.
"lalu gaun pengantinnya gimana Na? kamu kan udah bayar lunas semuanya" ada kepanikan di dalam suara wanita yang berprofesi sebagai desainer gaun pernikahan itu.
"kalo mengenai itu,terserah kak Rista aja mau di apain gaun pengantinnya"
Aku benar-benar nggak perduli dengan gaun pengantin itu lagi. bahkan aku ingin merobek-robek habis gaun itu jika bisa. tapi aku nggak mungkin melakukanya karena menghargai hasil karya desainer yang tak lain adalah kak Rista.
"tapi itu kan punya kamu, aku nggak berwenang atas gaun itu Na"
"aku udah nggak memerlukannya lagi kak, gaun itu aku serahkan sepenuhnya sama kak Rista"
"kalo gitu uang pelunasannya aku kembalikan aja ya. kamu kan nggak jadi pake gaunnya"
"nggak usah kak, kalo kak Rista ngelakuin itu,aku bakal marah banget sama kakak. aku serius!"
Namira berpikir perempuan itu sudah bekerja keras menguras tenaga dan pikiran untuk membuat gaun pernikahan yang cantik itu. Bahkan Rista menghandle sendiri pembuatannya dari awal sampai akhir. Dia pernah berkata kalau gaun itu adalah gaun spesial yang di persembahkan khusus untuk Namira.
Jadi sangat tidak adil baginya kalau tidak mendapatkan apapun atas kerja kerasnya itu. Harganya memang terbilang mahal,tapi uang sebesar itu tidak lah seberapa bagi Namira. Karena penghasilan dari butik miliknya sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan dirinya sendiri. Lagi pula Alvan lah sebenarnya yang membayar gaun mewah itu.
"ya udah kalo itu mau kamu Na. Aku akan simpan gaun ini,barangkali suatu saat kamu membutuhkannya lagi"
"iya kak. ya udah kalo gitu kak. aku mau mandi soalnya" Namira mengiyakan saja perkataan Rista, karena dia tak mau berdebat dan ingin segera mengakhiri pembicaraan itu. Bukan karena membenci Rista, sama sekali tidak. Namira hanya merasa lelah saja.
Lagi pula jika ia menikah dengan pria lain pun,tak mungkin mau untuk memakai gaun itu lagi, karena gaun itu adalah saksi bisu kehancuran hati Namira bermula.
"oh.. oke Na. kamu harus kuat ya!"
"pasti kak, makasih"
"sama-sama Namira"
__ADS_1
Namira mengakhiri panggilan itu kemudian mengaktifkan mode pesawat pada ponselnya supaya tidak ada yang menggangu. Rasanya ia hanya ingin sendiri saja untuk saat ini. Karena hari esok banyak hal penting yang harus di lakukannya.
* * *
Sinar matahari menyelinap menembus gorden jendela kamar Namira. Ia menggeliat kemudian membuka mata melihat jam yang bertengger di dinding kamar. Jarum jam menunjuk pukul tujuh lebih tiga puluh lima menit sekarang.
Mata Namira terasa masih berat, karena tidurnya tidak nyenyak tadi malam. Berkali-kali ia mencoba memejamkan mata,tapi rasanya sangat susah untuk terlelap. Dia baru bisa tidur dengan nyenyak selepas subuh tadi.
Mau tidak mau Namira harus bangun karena karyawannya akan datang sebentar lagi. Butik biasanya mulai beroperasi jam sembilan, sedangkan para karyawan biasanya datang setengah jam sebelumnya untuk bersiap-siap.
Namira mengawali paginya dengan mandi, setelah itu melanjutkan dengan ritual pagi lainnya seperti memakai skincare,make up dan lain-lain. sedangkan untuk sarapan Namira lebih memilih memesan lewat layanan pesan antar saja agar lebih praktis dan menghemat waktu.
Perempuan berparas cantik itu merasa sangat lapar, dia baru sadar kalau sudah melewatkan makan malamnya karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.
Hari ini Namira menjalani aktifitasnya di butik seperti biasa. Dia merasa suasana hatinya jauh lebih baik di bandingkan kemarin, jadi dia bisa lebih berkonsentrasi dalam bekerja.
Waktu terasa begitu cepat jika melakukan pekerjaan yang kita sukai. Begitulah yang di rasakan Namira. Tanpa terasa matahari sudah terbenam, butik Namira akan tutup sebentar lagi.
Mama Namira sudah mewanti-wanti putrinya untuk pulang hari ini,baik melalui telepon maupun pesan chat. Dan Namira menyanggupinya. Dia akan pulang hari ini. Apapun yang terjadi nanti, biar lah menjadi urusan belakangan. Namira sudah tidak terlalu memikirkan hal itu lagi.
"Anak mama sudah pulang. ayo makan dulu Namira, mama udah masakin menu kesukaan kamu loh" Wanita berwajah keibuan itu sangat gembira menyambut kedatangan putrinya.
"wah.. enak banget tuh ma,jadi laper mendadak nih" ceplos Namira sambil mencium punggung tangan mamanya lalu bergantian dengan papanya yang sedang duduk di meja makan seperti sengaja menunggu kedatangannya.
"apa semua pekerjaan kamu sudah beres Namira?" papa Namira membuka suara. Beliau adalah orang yang sangat perfeksionis bila menyangkut masalah pekerjaan.
"sudah kok pa" jawab Namira sembari menggeser kursi meja makan yang di penuhi bermacam makanan yang mayoritas adalah menu kesukaannya, kemudian duduk manis berhadapan dengan kedua orang tuanya.
Namira harus menjadi seorang aktris profesional kali ini jika tidak ingin kedua orang tuanya tahu tentang masalah yang ia sembunyikan.
Menyembunyikan sesuatu dari papanya mungkin bukan hal yang sulit bagi Namira. Tapi kalau menyembunyikan dari mamanya akan membutuhkan perjuangan ekstra bagi Namira.
__ADS_1
Sejauh ini ia merasa aman, karena mamanya sama sekali tidak membahas hal yang aneh-aneh dan bertanya tentang masalahnya pada Namira. Mereka bertiga hanya membahas tentang hal-hal yang ringan saja selama makan malam ini berlangsung.
"Namira ke kamar dulu ya pa,ma. Mau mandi, udah gerah banget soalnya" Namira beranjak dari tempat duduknya setelah selesai menghabiskan makanannya.
"iya Na,buruan mandi. udah asem banget tuh!" Celetuk mama Namira yang di susul dengan tawa meledek dari sang papa.
"ih.. mama. ya udah Namira mandi dulu deh" perempuan itu pun menaiki tangga menuju kamarnya.
Namira menghembuskan nafas lega setelah sampai di kamar. Sepertinya aktingnya berhasil dan ia bisa selamat dari hal yang ia takutkan.
Namira bergegas mandi karena badannya sudah terasa sangat lengket karena keringat. Dia mandi lebih lama dari biasanya karena ingin berendam dengan air hangat untuk merilekskan tubuh.
Selepas itu dia langsung memakai piyama karena ingin segera tidur melepas lelah setelah seharian sibuk mengurusi tempat usaha miliknya karena butik cukup ramai hari ini.
Tak lupa ia memakai krim malam sebelum tidur untuk menjaga penampilannya agar selalu terlihat fresh. Biar hati saja yang layu tapi wajah harus tetap segar. Begitulah kira-kira yang ada dalam pikiran Namira.
Terdengar suara ketukan pintu dari kamar Namira. setelah ia membuka pintu itu. Terlihat mamanya sedang berdiri di sana dengan tatapan mata yang sulit di artikan.
"Boleh mama masuk?"
"silahkan ma"
"kamu sedang apa barusan?"
"biasa ma, lagi pake skin care sebelum tidur"
"tumben jam segini udah mau tidur aja?"
"udah ngantuk banget soalnya ma" sambil pura-pura menguap.
"cincin kamu mana Namira?"
__ADS_1
Deg..
Sepertinya mama tahu aku sedang nyembunyiin sesuatu. cincin itu, kenapa aku bisa lupa? mama pasti tambah curiga kalo begini. Bagaimana ini? aku harus jawab apa..