
Karena terlalu asyik dan fokus membaca buku diary Alena, Namira sampai lupa akan tujuannya datang kemari. Dia baru mengingatnya sesaat setelah mengembalikan buku diary itu pada tempatnya.
Kenapa Alena lama sekali ya di kamar mandinya? apa dia baik-baik saja?!
lebih baik aku periksa dulu, takutnya dia kenapa-kenapa.
Namira pun bergegas mendekat ke arah pintu kamar mandi, lalu menempelkan telinganya di sana, tapi tidak ada suara apapun yang terdengar dari dalam.
Namira mengetuk pintu itu kuat-kuat tapi tetap tak ada jawaban. Di otaknya mulai muncul pikir yang buruk, Ia curiga jangan-jangan Alena pingsan.
Dia pun mencoba sekuat tenaga mendobrak pintu kamar mandi hingga pintu itu berhasil terbuka karena memang sedang dalam keadaan tidak terkunci. Dan yang membuat Namira terkejut adalah ternyata di dalam kamar mandi itu kosong. tak ada siapa di dalamnya.
Melihat itu Namira mulai panik. Dia menyesal atas perbuatan cerobohnya. Bukannya curiga, Namira malah asyik membaca buku tanpa memikirkan keadaan di sekitarnya.
Namira pun secepatnya berlarian menuju dapur, dia berniat untuk menanyakan keberadaan Alena pada kedua asisten rumah tangga di rumah itu, berharap agar bisa segera menemukan Alena.
"bik Imas.. bik Siti..." Namira setengah berteriak memanggil nama mereka.
"iya non Namira? ada apa non?" bik Imas dan bik siti datang tergopoh-gopoh menghampiri sang majikan yang kelihatan panik itu.
"apa bik Imas dan bik Siti liat Alena? tadi dia baru saja pulang kuliah, tapi saya cek ke kamarnya nggak ada" Raut kekhawatiran terpancar dari ekspresi wajah Namira.
"tadi pas nyapu teras depan, saya lihat non Alena pergi ke luar lagi, non. Tapi saya nggak tau keluarnya kemana" sahut bik Siti menjelaskan.
"Alena pergi sama siapa bik?" tanya Namira penasaran.
"tadi saya lihatnya sih sendirian, non. nggak sama siapa-siapa" tutur bik Siti.
"nggak di antar pak Sugeng bik?" Namira bertanya seperti itu karena biasanya jika pergi kemana-mana Alena selalu di antar supir pribadi itu.
"nggak kok,non. Itu pak Sugeng lagi ngopi di dapur. Non Alena tadi perginya nyetir sendiri non" jelas bik Siti.
Ucapan asisten rumah tangga itu berhasil membuat Namira semakin cemas, karena selama ini Alena tak pernah menyetir sendiri. Dia khawatir kalau terjadi sesuatu yang buruk dengan gadis itu.
Namira langsung berlari ke ruang kerja Rafka, untuk memberi tahukan kepergian Alena. Entah mengapa hari ini terasa sangat melelahkan baginya karena berbagai masalah yang harus ia hadapi.
"Alena nggak ada di kamarnya Raf, kata bik Siti dia pergi keluar tadi, dan katanya... Alena bawa mobil sendiri" cerocos Namira saat sudah sampai di ruang kerja Rafka.
__ADS_1
"apa?? bagaimana bisa?! apa yang mau di lakukan anak itu!?" tanggapan Rafka juga sama terkejutnya dengan Namira tadi. Ia pun langsung mengambil telepon genggam yang tergeletak di atas meja lalu mulai menghubungi nomor telepon Alena.
Beberapa kali ia mencoba tapi tak ada hasil, hanya operator yang menjawab, nomornya sedang berada di luar jangkauan yang artinya Alena menonaktifkan handphonenya.
"kemana dia pergi?!" Rafka seperti bertanya pada dirinya sendiri sambil menjambak rambutnya karena merasa frustasi.
"apa mungkin dia ke rumah teman-temannya Raf?!" Namira coba mengemukakan pendapat yang ada di otaknya.
"bisa jadi" Rafka pun tampak mulai sibuk menghubungi seseorang lagi, dan orang yang di hubunginya adalah teman dekat Alena yang bernama Frista.
"halo .. Frista. Apa Alena sedang ada bersama kamu?" Rafka membuka suara setelah telponnya tersambung.
"Alena nggak ada di sini tuh kak. Tadi habis selesai mata kuliah dia kayaknya pulang terburu-buru. Aku tanya kenapa, dia juga nggak jawab kak, langsung pergi aja. memangnya ada apa kak?" balas teman Alena.
"nggak ada apa-apa. tadi dia keluar dan nggak pamit mau kemana,gitu aja. kalau dia ke situ atau kalau kamu tau keberadaan dia, tolong kabarin ya!"
"oh.. iya kak"
"Ya udah kalo gitu. makasih Frista"
Pembicaraan usai,tapi Rafka tetap tak tau di mana adiknya berada.
"gimana Raf?" tanya Namira penuh rasa keingintahuan, setelah Rafka meletakkan ponselnya kembali.
"temannya nggak tau juga di mana Alena berada" jawab Rafka putus asa.
"apa kamu nggak kepikiran gitu, kira-kira dia dia kemana?" desak Namira.
Rafka mencoba berpikir, tapi dia tak menemukan jawaban yang pasti. Karena kejadian seperti ini tak pernah terjadi sebelumnya. Alena adalah gadis baik dan juga penurut, tak pernah sekalipun ia membangkang seperti sekarang ini.
"apa mungkin dia pergi mencari Alvan ya?!" Namira menduga-duga.
"apa? kenapa kamu mikir gitu?" Rafka seperti tak terima dengan pemikiran Namira.
"Kamu tuh pikun apa gimana sih?! tadi kan dia marah-marah sama kamu bahas tentang Alvan" seru Namira setengah emosi.
"memangnya dia mau cari kemana?"
__ADS_1
"ya mana aku tau, aku akan coba cari ke rumahnya aja. siapa tau ketemu"
"jangan ke sana sendiri, aku ikut!" entah mengapa mulut Rafka tiba-tiba mengatakan itu.
"ya udah, ayo kita berangkat sekarang" Namira bergegas mengambil tas selempangnya lalu berlari menuju mobil di susul dengan Rafka yang ikut berlari juga.
"pakai mobil aku aja" ujar Rafka yang sudah dekat dengan tempat dua mobil yang terparkir bersebelahan itu.
"nggak ah, pake mobil aku aja" Namira tak mau mengalah.
"pake ini aja Namira" sekarang Rafka sudah berdiri tepat di samping mobil berwarna hitam metaliknya.
"nggak Rafka" Namira tetap kukuh dengan pendiriannya.
Dan setelah perdebatan yang panjang, akhirnya Rafka putuskan untuk mengalah, dengan syarat ialah yang harus menyetir. Mereka pun naik mobil Namira untuk mencari keberadaan Alena yang mereka duga sedang berada di rumah Alvan sekarang.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai di rumah Alvan. Rumah itu tampak sepi seperti tak berpenghuni. Namira pun mencoba untuk menelpon nomor Alvan. Sudah berkali-kali ia mencoba tapi nomor yang di hubunginya masih tidak aktif.
"gimana Namira?" tanya Rafka ingin tau.
"nomornya nggak aktif Raf" ucap Namira lesu.
"kalo gitu biar aku coba datangi ke rumahnya aja" tambah Namira kemudian.
"jangan Namira, biar aku aja yang cek ke sana" Rafka pun segera keluar dari mobil tanpa menunggu jawaban dari Namira.
Dia tampak memencet bel yang berada di dekat pagar, lalu seseorang yang tampak seperti asisten rumah tangga di rumah itu datang membukakannya.
"Alvan nya ada bik?" tanya Rafka sopan.
"den Alvan sedang nggak ada di rumah pak. ada perlu apa ya? biar nanti saya sampaikan"
"oh.. nggak perlu mbak, lain kali aja saya kesini lagi. kalo gitu saya permisi"
Alvan pun kembali ke mobil dengan tangan kosong. Di dalam hati ia bertanya-tanya.
Kenapa Alena dan Alvan bisa sama-sama menghilang seperti itu?! apakah ini cuma kebetulan atau saling berkaitan?!
__ADS_1