Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 72 Terasa berbeda


__ADS_3

Namira menggeliat sambil membuka matanya perlahan. Dia baru menyadari kalau sudah tertidur seusai menangis semalam. Di lihatnya baju yang ia pakai tetap sama, itu artinya dia tak sempat menggantinya tadi malam.


Namira menoleh ke arah jam weker di atas meja yang ada di dekat ranjang. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul enam lebih dua puluh menit.


Ia bangun dari tempat tidurnya dengan malas lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, karena dari kemarin dia belum sempat mandi. Sebenarnya bukan belum sempat, tapi dia merasa malas saja untuk melakukannya.


Entah kenapa wanita itu jadi seperti kehilangan jati diri sejak pergi dari rumah itu. Rumah yang baru beberapa bulan ini ia tinggali dan kini harus pergi lagi dari sana karena suatu alasan.


Namira menyalakan shower yang ada di kamar mandi dengan malas, lalu membiarkan air dingin itu membasahi tubuhnya. Biasanya jika mandi pagi begini Namira biasa menggunakan air hangat, tapi hari ini dia menginginkan hal yang sebaliknya. Ia ingin menyegarkan pikirannya dengan guyuran air dingin itu.


Ada perasaan aneh yang bergelayut di pikiran Namira. Ia merasa hidupnya terasa berbeda sekarang. Jika biasanya ada seseorang yang ia lihat saat akan melakukan aktifitas di pagi hari, maka sekarang ia harus menjalani semuanya sendiri.


Entah mengapa ada yang terusik di hati Namira saat mengalami semua itu, tapi ia tak cukup mengerti untuk memahami bagaimana perasaannya sendiri.


Namira keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih kurang bersemangat. Ia mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan hair dryer lalu mengambil baju yang masih tersimpan di kopernya karena belum sempat memindahkan ke dalam lemari.


*Ah .. kenapa rasanya hidupku jadi aneh begini?! padahal dulu aku biasa-biasa saja menjalani aktifitas pagiku seperti ini..


Tapi kenapa sekarang rasanya sangat berbeda? aku merasa ada kehampaan di dalam hati. tak tau apa sebabnya..


Tidak, aku tidak boleh terus-terusan seperti ini! aku harus bangkit dan menata hidupku kembali..


Ya, itu yang harus ku lakukan. semangat Namira, kamu pasti bisa!*


Di dalam hati, Namira menyemangati dirinya sendiri. Ia putuskan untuk melakukan olahraga di pagi hari untuk memompa semangatnya. Lari-lari kecil di taman yang ada di sekitar sini sepertinya jadi pilihan wanita itu untuk memulai aktifitasnya.

__ADS_1


Ia mengambil kaos pendek berwarna abu-abu tua dan memadukannya dengan celana olahraga hitam bergaris putih, tak lupa sepatu kets berwarna putih untuk menemaninya berolahraga kali ini.


Setelah selesai mengenakan semua atribut olahraganya, Namira menyisir rambutnya yang panjang, kemudian mengikatnya ke belakang lalu memakai topi untuk menghalangi wajahnya dari paparan langsung sinar matahari.


Butik miliknya masih sangat sepi di waktu pagi seperti ini. Hanya ada satu satpam yang berjaga di sana semenjak tadi malam yang bertugas untuk mengantisipasi dari tindakan kriminal yang marak terjadi.


"Selamat pagi pak Asep!" sapa Namira saat baru keluar dari pintu butik, menyapa seorang satpam yang sedang berjaga di pos satpam yang berada tepat di depan butik miliknya itu.


"Selamat pagi bu Namira! Wah.. tumben pagi-pagi begini sudah semangat mau olahraga saja?!" balas pak Asep dengan tersenyum sumringah melihat majikannya yang pagi hari ini sudah siap untuk berolahraga.


"Biar lebih sehat pak Asep! ya sudah kalau begitu saya jalan dulu pak"


"Oh .. iya bu Namira. mari.."


Setelah beberapa langkah ia mengayunkan kaki dengan kecepatan lari yang tak terlalu cepat, ia pun sampai di taman. Dan benar dugaannya kalau kondisi taman sedang sangat ramai sekarang.


Akhirnya ia memutuskan untuk berlari di pinggiran taman dengan mengelilingi beberapa pohon.


Tak terasa sudah hampir satu jam ia berlari. Keringat mulai bercucuran membasahi tubuhnya dan rasa haus pun mulai menghampiri. Saking terburu-burunya tadi, ia sampai lupa untuk membawa air minum. Padahal biasanya ia tak pernah lupa dengan hal kecil seperti itu.


Ia merogoh kantong celananya, berharap ada selembar uang yang bisa ia gunakan untuk membeli air mineral yang banyak di jual oleh para pedagang yang mangkal di area sini. Dia merogoh kantong celananya dengan perasaan was-was, takut tak menemukan apapun di sana.


Dan ternyata yang di khawatirkannya terjadi, selain tak membawa air minum, ia pun tak membawa sepeser pun uang yang akan di gunakannya hanya sekedar untuk membeli minuman saja.


Dia pun tertunduk lesu sambil duduk meluruskan kaki di bawah pohon beringin yang cukup rindang sambil menahan haus di tenggorokannya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja ada seseorang yang mengulurkan sebotol air mineral padanya. Ia pun mendongakkan kepalanya ke atas, melihat siapa orang yang memberikan sesuatu yang sangat ia butuhkan untuk saat ini, karena tenggorokannya sudah terasa kering karena cukup lama berlari tadi.


"Alvan?" refleks Namira mengucapkannya, karena ternyata seseorang itu adalah laki-laki yang sangat ia kenal.


"Di minum dulu airnya, Namira. Kamu keliatannya kehausan banget!" ujar Alvan dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.


Tanpa pikir panjang, Namira langsung mengambil air mineral itu dari tangan Alvan kemudian meneguknya hingga hampir habis.


"Haus banget ya?!" ucap Alvan sambil tertawa kecil melihat tingkah Namira yang seperti orang yang tidak minum selama berhari-hari.


"Iya nih Van. Makasih banget ya!" Namira memutar tutup botol ke kiri agar tertutup rapat kembali lalu meletakkan di sebelahnya.


"Sama-sama Namira" balas laki-laki itu setelah meneguk minuman yang ia bawa sendiri. Ia memang sengaja membawa dua botol minuman agar bisa di minum bersama dengan pujaan hatinya.


Dia sengaja datang ke tempat ini sejak pagi untuk melihat wajah wanita yang masih di cintainya. Sebenarnya sudah dari tadi dia berada di sekitar sini, hanya saja dia menunggu waktu yang pas untuk menemuinya, karena ia tau kalau Namira pasti tak suka jika merasa di ikuti.


Laki-laki itu sudah bertekad akan meraih cintanya kembali yang dulu pernah lepas darinya. Kali ini ia berjanji pada dirinya sendiri akan berusaha untuk mendapatkan cinta itu dan tak akan pernah melepasnya lagi untuk selamanya.


"Tumben kamu pagi-pagi udah di sini aja?" tanya Namira mulai curiga.


"Ya.. kan kamu tau sendiri kalau dari dulu aku suka olahraga di taman ini. masa lupa?!" jawab Alvan.


Memang benar dulu saat masa pedekate, laki-laki itu sering joging di tempat ini agar bisa olahraga bersama Namira. Dan kebiasaan itu sering mereka lakukan sampai mereka bertunangan.


Tapi semua yang mereka lakukan itu berakhir, ketika status Namira sudah berubah menjadi istri orang. Dan siapa sangka kalau mereka bisa mengulang hal itu lagi, sama seperti dulu.

__ADS_1


__ADS_2