
Pagi yang cerah datang menyapa. Kondisi papa Namira sudah berangsur pulih semenjak kejadian tadi malam. Selain karena obat-obatan dan juga perawatan dokter, semangat papa Namira untuk cepat sembuh lah yang menjadi faktor paling utama kesehatan pria itu.
Papa Namira terlihat begitu semangat pagi ini. Bahkan ia menghabiskan sarapannya hingga tak bersisa dengan di suapi istrinya.
"nah.. gini dong pa, kalo papa makannya lahap gini dan juga rajin minum obat, pasti akan lebih cepat sembuhnya" Mama Namira sangat senang melihat suaminya bersemangat seperti itu.
"iya dong ma, kan papa pengen cepat pulang ke rumah. rasanya udah nggak betah cium aroma rumah sakit tiap hari" balas pak Pramana setelah meneguk segelas air yang di berikan istrinya tadi.
"namanya di rumah sakit ya yang kecium aroma rumah sakit pa, iya kalo di rumah yang kecium ya aroma masakan mama" canda Namira yang membuat semua yang ada di ruangan itu tertawa.
Tok.. Tok.. Tok..
Terdengar suara ketukan dari luar pintu ruang rawat papa Namira. Mereka bertiga refleks menoleh ke arah suara itu berasal.
Pintu bercat putih itu pun terbuka. Dan muncul lah seorang pria berpawakan tinggi dan berwajah khas orang timur tengah sedang berjalan memasuki ruangan itu setelah mengucapkan salam yang di jawab oleh seluruh anggota keluarga Pramana.
"Rafka, kamu sudah datang? mari masuk sini" Papa Namira tampak sumringah melihat kedatangan laki-laki yang asing bagi Namira itu.
"maaf saya baru bisa datang sekarang om, saya baru tau kalau om Pram masuk rumah sakit" Ucap pria bernama Rafka itu, menghampiri papa Namira.
"nggak papa Raf, om memang sengaja baru ngabari kamu sekarang" Pak Pramana nampak sangat akrab berbicara dengannya.
"Bagaimana keadaan om Pram? apa sudah lebih baik?"
"bukan cuma lebih baik Rafka, om sudah merasa sangat sehat sekarang. Kamu lihat sendiri kan?" Papa Namira membuat pose ala-ala binaragawan di depan Rafka sambil tertawa lebar, sedangkan Rafka ikut tertawa juga melihat tingkah pak Pramana yang menurutnya sangat lucu.
Pemandangan itu sampai membuat Namira terperangah. Ia sungguh tak menyangka, kalau laki-laki yang sama sekali tak dikenalnya itu sedekat itu dengan papanya. Ia jadi penasaran bagaimana ceritanya mereka bisa sampai akrab begitu.
"Namira.." suara pak Pramana sambil memberi kode agar Namira menghampirinya.
__ADS_1
"iya pa" Namira berkata sambil berjalan mendekat, mengikuti perintah papanya.
"Rafka, ini putri om, yang sering om ceritakan itu, namanya Namira" ujar pak Pramana sambil menatap Rafka, kemudian berpaling pada putrinya.
"Namira, ini adalah Rafka, putra sahabat papa, yang papa ceritakan tadi malam. kalian belum berkenalan secara langsung bukan?!" tambahnya.
Pria bernama Rafka itu maju beberapa langkah mengulurkan tangannya pada Namira, dan Namira pun membalas uluran tangan itu.
"Rafka.."
"Namira.."
Mereka sama-sama menyebutkan nama masing-masing secara bergantian di hadapan pak Pramana.
Namira dan Rafka saling beradu pandang sesaat kemudian langsung berpaling ke arah lain. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka. Hanya mereka sendiri yang tau.
"iya om, saya bersedia" balas Rafka yang berhasil membuat Namira membelalakkan mata. Ia tak habis pikir, bagaimana pria itu bisa dengan mudah mengatakan itu,tanpa ada penolakan sedikit pun darinya. padahal pria itu bukan siapa-siapa papanya.
Namira yang darah dagingnya saja, sempat menolak permintaan dari papanya itu kemarin. walaupun akhirnya terpaksa menerima perjodohan itu setelah berpikir panjang. Demi kesehatan papanya.
Apakah dia tak memiliki impian untuk menikah dengan wanita yang di cintainya? hati Namira terus bertanya-tanya akan hal itu.
"baiklah kalau begitu, pernikahan kalian akan di laksanakan satu bulan lagi, apa kalian setuju?" pandangan pak Pramana memindai Rafka dan Namira secara bergantian, menunggu jawaban keluar dari mulut mereka.
"baik om" balas pemuda itu dengan penuh keyakinan. Sama sekali tak ada keraguan dalam ucapannya.
Dia itu manusia apa robot sih sebenarnya? di tanya dari tadi kok jawabannya cuma iya iya aja. kayak nggak punya prinsip. Dia pikir pernikahan itu main-main!? kok dengan gampangnya memutuskan hal sepenting itu tanpa berpikir panjang terlebih dulu.
"kalau kamu bagaimana Namira? apa kamu keberatan kalo pernikahannya di laksanakan satu bulan dari sekarang?" papa Namira mengulangi pertanyaan yang sama karena belum mendapatkan jawaban dari putrinya.
__ADS_1
Sebenarnya Namira ingin menolak, tapi dia sama sekali tak berdaya. Dia tak tega untuk menolak keinginan papanya karena kondisi. Dia takut kalau akan terjadi hal yang buruk dengan pak Pramana kalau dia sampai melakukan itu.
"Namira juga setuju pa" kalimat itu terasa sulit di keluarkan dari bibir Namira.
"syukurlah.. papa senang karena kalian berdua sudah menyetujuinya" tampak ekspresi kelegaan dari wajah pak Pramana.
"oh.. iya, bagaimana menurut mama?" papa Namira hampir saja melupakan keberadaan istrinya saking antusiasnya dengan rencana pernikahan Namira dengan anak sahabatnya itu.
"kalau papa dan Namira sudah sepakat, maka mama hanya bisa mendukung dan berdoa semoga semuanya di berikan kelancaran.
"Aamiin.." pak Pramana menanggapi ucapan istrinya.
Hati Namira sungguh di penuhi dengan rasa kebimbangan saat ini. Bagaimana mungkin dia bisa hidup dengan orang yang sama sekali tak di cintainya. hal itu sama sekali tak pernah terbayangkan sedikit pun di dalam benaknya.
Tapi apalah daya, Namira harus bisa melakukan itu semua demi papanya. Karena bagi Namira, keselamatan papanya lebih penting di bandingkan dengan kebahagiaannya sendiri. Bahkan dia rela menukar apapun yang ia miliki,demi untuk membuat papanya tersenyum bahagia.
"kamu belum sarapan pagi kan Namira? lebih baik kamu ke kantin dulu sana, biar Rafka yang menemani" seru papa Namira tiba-tiba.
"Tapi Namira belum lapar kok pa" tolak Namira halus.
"kamu nggak boleh sampai telat makan Namira. Bukankah kamu selalu mengingatkan papa tentang hal itu?! lalu, kenapa kamu sendiri nggak mau melakukannya?" Pak Pramana mulai mengeluarkan jurus andalannya agar putrinya menurut.
"betul yang di bilang papa, Namira. Lebih baik kamu pergi sarapan dulu dengan Rafka. kalau nggak mau ke kantin, ke restoran di luar juga nggak masalah" bukannya membantu, mama Namira malah seperti mendukung suaminya untuk saling mendekatkan Namira dan Rafka.
Namira pun merasa terpojok sekarang. Ia tak mungkin bisa menolak dan berbuat apapun kalau kedua orang tuanya sudah berkolaborasi dengan saling mendukung begini.
"kamu mau kan menemani Namira pergi sarapan, Rafka? nanti kamu sekalian sarapan juga. Om yakin kamu pasti juga belum sarapan karena buru-buru kesini setelah dengar kabar dari om tadi. iya kan?!" tebak pak Pramana.
"iya om.." balas Rafka singkat yang membuat mulut Namira menganga karena merasa heran. Lagi-lagi pria itu menurut saja dengan kemauan papanya seperti yang di lakukan sejak tadi.
__ADS_1