
*Hufft .. semoga saja mama nggak curiga dengan apa yang terjadi sama aku dan Rafka. Semoga semua rahasia ini masih bisa tersimpan dengan rapi..
Aku nggak mau kalau sampai membebani orang tuaku dengan masalah seperti ini..
Aku akan berusaha mengatasinya sendiri tanpa bantuan siapapun. Ya, aku pasti bisa..*
Namira memantapkan hatinya melangkah menuju tempat yang sudah ia tempati selama beberapa hari ini. Tempat yang sudah seperti ruang persembunyian untuknya sendiri.
Ia mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan agar bisa lebih tenang menghadapi sang mama. Seseorang yang paling peka terhadap perasaannya.
Kali ini ia harus sempurna dalam menutupi semuanya jika tak mau sampai ketahuan. Hanya itu saja yang bisa ia lakukan untuk saat ini.
Namira membuka pintu kamar dengan hati-hati, ia pun masuk ke dalam sana dengan bersikap senormal mungkin agar tak mengundang kecurigaan.
"Akhirnya kamu pulang juga, Namira" suara mama Namira sudah menyambut saat Namira baru saja melangkah masuk.
"Eh .. mama. Udah dari tadi ma?" Namira berpura-pura terkejut dan bersikap seperti biasa. Ia mendekati mamanya kemudian bercipika-cipiki sesaat.
"Ada yang perlu mama bicarakan sama kamu" ucap mama Namira penuh dengan penekanan di setiap kalimatnya.
Perasaan Namira mulai tak enak. Ia menelan ludah beberapa kali mendengar ucapan Bu Asti.
"Mau bicara soal apa ma?" tanya Namira berusaha berkata setenang mungkin.
"Apa kamu ada masalah sama Rafka?" tatapan mata mama Namira penuh dengan tanda tanya.
"Nggak kok ma, aku sama Rafka baik-baik aja" Namira terpaksa harus berbohong untuk menutupi semuanya.
"Kamu jangan bohong sama mama, Namira. Apa kamu pikir semudah itu kamu membohongi mama?!" Seperti yang Namira duga, sangat sulit untuk menutupi sesuatu dari mamanya itu. Ia harus ekstra hati-hati dan menjaga sikap agar semua rahasianya tak terbongkar.
__ADS_1
"Namira nggak bohong kok ma"
"Kalo memang kamu dan Rafka nggak ada masalah, lalu kenapa kamu malah tinggal di butik ini? bukannya pulang ke rumah suami kamu?" Namira mulai terpojok dengan pernyataan itu. Sekali lagi ia harus mencari alasan yang tepat pada mamanya agar apa yang ia takutkan tidak terjadi.
"Namira cuma lagi marahan dikit sama Rafka, ma"
"Memang apa masalahnya sampai kalian bisa marahan gitu?" tanya mama Namira penuh selidik. Di dalam hati ia merasa kalau tak bisa percaya begitu saja dengan ucapan putrinya sendiri. Ia merasa kalau ada sesuatu yang di sembunyikan darinya.
"Ya biasa lah ma, cuma beda pendapat aja!" jelas Namira yang masih belum bisa di terima mamanya.
"Tapi nggak harus pergi dari rumah suami kayak gitu Namira, nggak baik! semua masalah itu harus di selesaikan, bukannya malah di hindari begini!"
"Iya, maaf ma" Namira menundukkan kepala, tak berani membantah ucapan mamanya.
"Lalu apa yang membuat kalian beda pendapat?" mama Namira masih belum menyerah untuk menginterogasi putrinya.
Namira memutar otak. Ia harus berpikir dengan cepat, alasan apa yang akan ia gunakan selanjutnya untuk menutupi kebohongannya lagi.
Dia tak berpikir entah bagaimana nanti, yang penting ia harus mencari alasan yang tepat untuk saat ini. Dan alasan inilah yang muncul begitu saja di otaknya.
"Apa?? jadi karena itu masalahnya?!" mama Namira seperti terkejut mendengar penuturan dari Namira.
"Iya ma"
"Masa sih Rafka bisa bersikap kayak gitu?! padahal menurut mama dia tuh bukan tipe laki-laki yang suka ngatur-ngatur apalagi memaksakan kehendaknya sama orang lain" Bu Asti tampak berpikir dan menimbang-nimbang.
Dan ia pun mulai sedikit curiga dan ragu dengan apa yang di ucapkan putrinya, karena meskipun tidak terlalu mengenal Rafka dengan baik, tapi menurut yang di lihatnya selama ini, pria itu bukanlah pria otoriter seperti yang di ceritakan Namira.
"Memang dia kayak gitu kok ma! masa mama lebih belain dia dari pada anak mama sendiri?!" Namira tampak protes dengan pernyataan yang di tuturkan mamanya.
__ADS_1
"Bukannya mama belain siapa-siapa Namira, hanya saja mama menyimpulkan menurut penilaian mama selama ini" ujar mama Namira memberikan argumennya.
"Mama belum terlalu mengenal dia dengan baik sih, makanya bilang kayak gitu!"
"Tapi tetap saja ini semua nggak bener Namira! nggak bagus suami dan istri tinggal terpisah seperti ini! untung saja mama yang tau, coba kalau papa, pasti papa bakal mikir yang tidak-tidak kalau sampai tau kamu pisah rumah sama suami kamu seperti ini!" omel mama Namira tanpa henti.
"Habisnya Namira nggak tau harus gimana lagi ma, Namira nggak pikir panjang dan langsung ambil keputusan kayak gini deh!" Namira masih terus mencoba membela diri seakan semua yang di ucapkannya adalah kenyataan, padahal semua itu adalah hasil karangan bebasnya saja.
"Ah.. kamu ini Namira, sudah jadi seorang istri tapi sifatnya masih aja kekanak-kanakan. Rafka juga gitu, udah tau istrinya nggak pulang malah di biarin aja! kalian berdua ini sama saja! nggak ada bedanya sama sekali!" gerutu mama Namira sambil memijat pelipisnya. Ia tak habis pikir dengan sikap anak dan menantunya yang sama-sama tak mau saling mengalah itu.
"Maaf ma, mama jangan mikirin masalah Namira. Namira bisa menyelesaikan semua sendiri kok ma" ucap Namira lesu.
"Oh ya?? lalu kenapa nggak segera kamu selesaikan? malah lari dari masalah kayak gini?!" ucapan mama Namira bagai batu besar yang menghantam Namira. Ia merasa tersudut dan tak bisa mengelak atau pun beralasan lagi.
"Mmm.. besok aja deh ma Namira selesaikan semua" ucap Namira pada akhirnya.
"Nggak bisa gitu dong Namira. mama nggak mau nunggu sampe besok" ujar mama Namira lantang.
"Trus mama maunya gimana?"
"Mama maunya kamu dan Rafka selesaikan masalah kalian sekarang, ayo Mama antar nemuin suami kamu sekarang juga!" ujar mama Namira yang membuat Namira tersentak. Ia tak menyangka kalau gara-gara ucapannya yang tanpa berpikir akan berbuntut panjang seperti ini. Semua yang di alaminya saat ini sudah seperti senjata makan tuan bagi Namira.
"Tapi ma, Namira nggak.."
"Pokoknya nggak ada tapi tapian. Ayo pergi temui Rafka sekarang dan selesaikan semua nya!" Mama Namira menarik lengan putrinya keluar untuk segera pergi ke rumah Rafka. Ia ingin anak dan menantunya itu segera berbaikan.
*Aduh.. kenapa malah mama mau nemuin aku sama Rafka sih? kalo kayak gini, bisa-bisa bakal ketauan semuanya kalo masalah aku dan Rafka nggak semudah itu..
Bahkan waktu itu dia sendiri yang bilang kalau ingin berpisah dariku..
__ADS_1
Ah.. rasanya aku benar-benar belum siap kalau sampai mama mengetahui semuanya. gimana ini??*