
"kita bisa gantian masuknya Raf. Kamu bisa masuk dulu, setelah itu baru aku!" Namira memberikan idenya.
Dia tau kalau Rafka sangat mengkhawatirkan kondisi Alena, jadi dia memberi kesempatan pada laki-laki itu dulu untuk menemui adiknya. Lagi pula Rafka lah yang paling berhak di sini, karena dia adalah saudara kandung Alena.
"iya Namira. kalo gitu aku masuk ke dalam dulu ya!" ucap Rafka kemudian masuk ke dalam ruangan tempat adiknya di rawat setelah mendapat anggukan persetujuan dari Namira.
Rafka membuka pintu ruangan itu perlahan kemudian menapakkan kaki di ruangan yang terasa lebih dingin Itu.
Di sana ia melihat Alena yang sedang terbaring tak berdaya di atas brankar, dengan selang infus yang menempel di pergelangan tangan, lalu alat bantu pernapasan yang menutupi hidung beserta mulutnya. Dan juga berbagai macam peralatan medis yang lain.
Rafka mendekat ke arah Alena agar bisa lebih leluasa melihat seperti apa keadaan adiknya itu sekarang.
Mata Alena nampak terpejam, dengan perban yang melingkar di kepalanya. Wajah cantik itu tampak damai dalam tidurnya.
Senyum keceriaan yang biasa di tunjukkan gadis itu tak terlihat lagi, berganti dengan wajah pucat pasi yang menghiasi wajahnya.
Rafka sungguh merasa sedih melihat adik perempuan yang di sayanginya terbaring lemah tak berdaya seperti ini. Jika bisa, ia ingin menggantikan posisi Alena, agar dia saja yang merasakan sakit dan Alena bisa terbebas dari rasa sakitnya.
"Alena.. ini kakak. kamu harus cepat sembuh agar bisa segera pulang ke rumah. kakak janji akan memberikan hadiah apa pun yang kamu minta, jika kamu mau berjuang untuk kesembuhan kamu" Rafka mengucapkan kalimat itu di hadapan Alena seakan sedang berbincang dengannya.
Rafka yakin, meskipun adiknya tak bisa menjawab pertanyaannya tapi dia bisa mendengarkan semua yang di katakannya dengan baik.
"cepatlah bangun, Alena. kakak nggak sanggup melihat kamu seperti ini" ucap Rafka sedih sambil menggenggam jemari adiknya itu.
"dasar bandel! Bukankah kakak sudah melarang kamu untuk nyetir mobil sendiri?! lihatlah sekarang apa akibatnya, karena kamu nggak mau denger omongan kakak" Rafka tak lelah untuk mencoba terus mengajak Alena bicara, berharap adiknya itu merespon suaranya.
__ADS_1
Rafka terus memandangi wajah Alena. Meskipun ia sudah mencoba untuk mengajaknya bicara, tapi tak ada respon sedikit pun dari Alena. Gadis itu tetap diam membisu dengan mata yang masih terpejam.
Keputus asaan pada akhirnya datang menghampiri Rafka. Sudah cukup lama ia menunggu tapi adiknya itu tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan bangun.
Rasanya dia teramat sedih melihat kondisi Alena sekarang. Dia tak kuat lagi dan memutuskan untuk keluar dari ruangan itu untuk menemui Namira. Dia takut jika tak bisa menahan air mata di depan adiknya, Dan itu pasti akan membuat Alena semakin terluka.
Rafka keluar dari ruangan itu dengan membawa sejuta kepedihan yang di simpannya di dalam hati.
"gimana keadaan Alena, Raf?" tanya Namira antusias saat melihat Rafka keluar dari ruangan tempat Alena di rawat. Rasa keingin tahuan akan keadaan adik iparnya sudah memenuhi jiwa Namira sejak tadi.
Rafka menggeleng pelan sambil terduduk di kursi panjang yang juga di duduki Namira sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Pria itu terlihat sangat putus asa. Seperti tak ada sedikitpun harapan di dalam sorot matanya.
"apa aku boleh melihat keadaan Alena, Raf?" Namira mencoba membuka suara, dan Rafka hanya menanggapinya dengan anggukan kepala saja, seperti tak ada tenaga untuk mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.
"ya udah kalo gitu aku masuk dulu ya!"
Namira pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang rawat Alena dengan perasaan yang tak menentu.
Namira duduk di kursi yang berada di samping brankar tempat Alena berbaring sambil memandangi wajah gadis itu.
Air mata lolos begitu saja membasahi pipi Namira. Ia merasa sangat iba melihat kondisi adik iparnya itu. Dia tampak lemah tak berdaya terbaring di atas brankar dengan beberapa luka yang ada di tubuhnya.
Namira tidak menyangka kalau Alena akan mengalami kejadian buruk seperti ini. Padahal menurut cerita dari Alvan tadi, gadis itu baik-baik saja dan akan pulang ke rumah.
Pantas saja Alena tak kunjung datang, meskipun Namira sudah lama menunggu. Ternyata hal yang buruk sedang menimpa Alena sehingga membuat kondisinya jadi seperti ini.
__ADS_1
"kamu harus cepat sembuh, demi kakak kamu , Alena. Kasian dia. Kak Rafka sangat sedih melihat kamu seperti ini. Bukalah mata kamu, Alena" Namira mencoba memberi rangsangan lewat suara agar gadis itu bisa cepat siuman.
"bangunlah Alena.. dan hiduplah dengan bahagia setelah itu" Namira menyentuh tangan Alena. Itu adalah usaha keduanya untuk membuat Alena membuka mata.
Tapi usaha yang di lakukan Namira tak ada satupun yang membuahkan hasil. Alena tetap menutup mata tanpa memberikan respon apapun.
Saat Namira sedang memegang tangan Alena, tiba-tiba saja alat pendeteksi detak jantung yang terpasang pada tubuh Alena menandakan kalau detak jantung gadis itu mengalami penurunan dan mulai melemah.
Namira pun panik. Dengan segera ia memencet tombol darurat agar dokter dan perawat cepat datang memeriksa keadaan Alena yang semakin kritis.
Dalam waktu sekejap para tenaga medis sudah datang ke ruangan Alena lalu mulai melakukan penanganan setelah meminta Namira untuk menunggu di luar ruangan.
"apa yang terjadi Namira? kenapa dokter dan perawat itu masuk ke ruangan Alena dengan tergesa-gesa?!" tanya Rafka panik saat Namira baru keluar.
"tadi detak jantung Alena semakin melemah" jelas Namira sambil meneteskan air mata.
"ya tuhan.. Alena!!" Rafka sangat terpukul mendengar ucapan Namira, dia takut kalau kondisi adiknya semakin memburuk.
Setelah beberapa saat, dokter yang menangani Alena keluar dengan membawa berita mengejutkan, Alena di nyatakan koma. Dan dokter tidak bisa memastikan kapan dia akan bangun dari koma nya.
Menurut hasil pemeriksaan lebih lanjut, ada gumpalan darah di kepala Alena yang di sebabkan oleh benturan keras, sehingga membuatnya kinerja otaknya berkurang dan mempengaruhi kesadarannya.
Rafka dan Alena sangat terkejut mendengar penjelasan dokter. Mereka berdua sungguh mengkhawatirkan keadaan Alena.
Tiba-tiba saja Namira teringat tentang buku diary yang di tulis Alena. Di dalam buku diary itu tertulis bahwa Alena sangat mencintai Alvan dan perasaannya itu sangatlah besar untuk laki-laki itu.
__ADS_1
Rafka tadi sudah menemui Alena dan berusaha untuk membuatnya bangun, tapi tak bisa. Lalu Namira juga sudah melakukan usaha yang sama, tapi hasilnya sia-sia. Alena tetap tak mau membuka mata.
Namira mulai berpikir. Kalau Alena mungkin akan bisa bangun jika mendengar suara dari seseorang yang di cintainya. Alvan, dialah orangnya. Mungkin jika Alvan bicara dengannya, Alena akan bisa bangun dari tidur panjangnya.