Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 38 Bertepuk sebelah tangan


__ADS_3

"kamu mau minum Rafka?" Namira salah tingkah di pandangi seperti itu oleh suaminya. Dia mencoba mengalihkan perhatian agar laki-laki itu tidak menatapnya terus menerus.


"boleh.. " balas Rafka senang karena merasa mendapat perhatian dari sang istri. Lagi pula ia juga merasa haus karena berlarian masuk ke dalam rumah dan juga mengemudi dengan kecepatan tinggi tadi.


"bentar aku buatin dulu" ujar Namira kemudian berlalu ke dapur untuk membuat minuman segar untuk suaminya.


Rafka bahagia bukan kepalang mendengar ucapan Namira, karena selama beberapa bulan mereka berumah tangga, baru kali ini istrinya itu menawarkan diri membuatkan sesuatu untuknya, meskipun hanya minuman saja.


Rafka senyum-senyum sendiri saking bahagianya. Dia tak mengerti, kenapa tingkah lakunya bisa jadi aneh begitu hanya karena jatuh cinta. Dia bertanya-tanya dalam hati, apakah cinta bisa membuat orang jadi setengah gila?!.


Meskipun demikian, dia tak boleh terlalu larut dalam perasaannya jika tidak mau menderita. Karena wanita yang ia cintai sama sekali tak menaruh perasaan yang sama padanya. Bahkan lebih parahnya lagi, wanita itu seperti mencintai laki-laki lain dari masa lalunya.


Entahlah, Rafka merasa kisah cintanya ini sungguh rumit, sampai-sampai ia tak tau bagaimana cara menyikapi semuanya.


Apa aku harus mengungkapkan perasaanku ini pada Namira? atau membiarkan semua mengalir begitu saja seperti sebelumnya tanpa berbuat apa-apa.


Membiarkan cinta ini menjadi cinta yang tak terbalas dan bertepuk sebelah tangan. Apa hanya itu saja yang bisa ku lakukan?


Rafka termenung memikirkan perasaannya. Perasaan yang belum lama ini ia sadari. Ia pun tak menyangka, jika akhirnya akan jatuh cinta pada perempuan yang awalnya biasa saja di matanya.


Namira membuka lemari es, memeriksa buah apa saja yang ada di dalam sana, yang bisa ia jadikan jus untuk suaminya. Dia melihat ada buah apel, alpukat dan jeruk di dalamnya. Dia sedikit bingung untuk memilih, buah apa yang di sukai Rafka.


Harusnya ia bertanya pada seseorang, tapi Alena sedang tidak ada di rumah, dan kedua asisten rumah tangga di rumah itu juga sedang pergi berbelanja kebutuhan dapur yang habis di supermarket.

__ADS_1


Akhirnya dia putuskan untuk membuat jus jeruk saja. Ia pikir semua orang pasti menyukainya, dan juga buah jeruk itu warnanya tampak lebih menggoda di bandingkan dengan buah lainnya.


Namira mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat jus, mulai dari jeruk Sunkist,wortel, madu,susu kental manis dan sedikit gula. kemudian ia mengupas dan memotong wortel dan juga jeruk Sunkist yang di ambilnya dari dalam lemari pendingin.


Setelah itu ia mulai memasukkan semua bahan ke dalam blender, lalu mulai menekan tombol on. Dan tak butuh waktu lama, jus yang segar itu sudah siap untuk di sajikan.


"ini Raf minumannya!" Namira datang dengan membawa segelas jus jeruk yang terlihat sangat menyegarkan. Walaupun sebenarnya Rafka tidak suka dengan buah jeruk. Dia lebih suka buah yang tidak memiliki rasa asam, seperti melon atau pun alpukat.


"makasih Namira" ucapnya lalu mengambil gelas yang berisi jus berwarna oranye itu dari tangan istrinya.


"sama-sama" balas Namira sambil duduk tak jauh dari Rafka.


Rafka memandangi saja jus jeruk itu, tanpa berani meminumnya. Memang minuman itu tampak segar, tapi tetap saja Rafka tidak menyukainya. Dia takut giginya akan terasa ngilu jika minum jus dari buah yang terkenal dengan keasamannya itu.


"emmm... suka kok. siapa bilang aku nggak suka?!" sahut Rafka lalu memberanikan diri untuk meneguk jus jeruk buatan istrinya.


Dia mulai mencicipi rasa minuman itu perlahan di ujung lidah, lalu menelannya. Tak seperti yang di bayangkan Rafka, ternyata jus jeruk yang biasanya terasa asam itu malah berasa manis di lidahnya. Tak ada rasa asam sama sekali.


Rafka sampai bingung, sebenarnya yang di minumnya itu jus jeruk atau bukan. kalau benar jus jeruk, tapi kenapa tidak terasa asam. begitu lah kira-kira yang di pikirkannya.


"kenapa Raf? apa jusnya nggak enak? ah.. iya, aku tadi lupa mencicipinya. kalo gitu biar aku buatkan yang baru!" Namira berkata seperti itu karena melihat ekspresi wajah Rafka yang sedikit aneh setelah meminum jus jeruk yang baru saja ia buat.


"jusnya enak banget kok. Kamu campurin apa ke dalamnya? kok bisa enak gitu!?" tanya Rafka sambil menyeruput jus yang di pegangnya lagi dan lagi.

__ADS_1


Namira yang akan bangkit dari kursinya mengurungkan niat karena mendengar ucapan Rafka. Dia tersenyum lebar mendengar ucapan laki-laki itu. Dia merasa heran, bagaimana bisa jus yang rasanya biasa saja di bilang enak oleh suaminya.


"nggak ada campuran yang spesial kok, cuma jeruk Sunkist, madu, dan sedikit susu kental manis, itu aja!" jelas Namira sambil mengingat-ingat bahan apa yang di masukkannya ke dalam blender tadi.


"oh ya?! tapi beneran enak kok!" puji Rafka lagi kemudian meneguk jus yang tersisa separuh itu sampai habis.


Namira geleng-geleng kepala melihat perilaku Rafka. Ia merasa kalau sikap suaminya itu sedikit aneh akhir-akhir ini. Tak tau apa sebabnya.


"masa seenak itu sih? bukannya biasa aja ya rasanya?" Namira ragu dengan yang di ucapkan oleh Rafka.


"beneran enak, nggak percayaan banget sih?!" Rafka meletakkan gelas kosong yang di pegangnya di atas meja dengan wajah sumringah. Sepertinya jus jeruk yang di minumnya itu berhasil menjadi mood booster untuknya.


Namira menahan tawa melihat Rafka yang mulutnya belepotan seperti anak kecil karena jus yang di minumnya tadi. Rafka minum dengan terburu-buru sehingga membuat busa-busa yang biasa ada dalam jus menempel di atas bibirnya.


Rafka jadi mati gaya melihat Namira yang seperti melihatnya dengan tatapan lucu. Ia merasa pasti ada yang salah dengan dirinya sehingga membuat perempuan itu seperti menahan tawa saat melihat wajahnya.


Rafka pun mulai meraba-raba wajahnya mencari sesuatu yang membuat Namira bertingkah seperti itu.


Tiba-tiba saja tangan Namira menyentuh bibir Rafka, membersihkan sisa jus yang menempel di sana menggunakan selembar tissue yang sudah ada di atas meja.


Jantung Rafka serasa berhenti berdetak merasakan tangan yang lembut itu menyentuh bibirnya. Meskipun menggunakan tissue tapi tetap saja ujung jari Namira masih bisa menyentuh bagian yang sensitif itu.


Sengatan listrik seperti menjalar ke seluruh tubuh Rafka seketika. Ia lunglai, lemas tak berdaya saat tatapan mata mereka bertemu.

__ADS_1


Diam-diam Rafka menikmati momen kedekatannya bersama Namira, dan berharap waktu berhenti berputar untuk sementara agar ia bisa menikmati kebersamaan itu sedikit lebih lama.


__ADS_2