Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 39 Kabar buruk


__ADS_3

Namira gelagapan melihat Rafka menatapnya dengan tatapan mata yang tak biasa. Dengan cepat ia menurunkan tangannya lalu menyambar gelas di atas meja yang di letakkan oleh Rafka tadi.


"biar aku cuci gelasnya dulu!" Namira membawa gelas kosong itu ke tempat cuci piring yang ada di dapur untuk mencucinya, seperti menghindar dari laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu.


Rafka menatap kepergian Namira dengan perasaan yang tak menentu, Ia tau kalau Namira berbuat begitu karena sengaja menghindarinya.


Dia tersenyum miris menertawakan dirinya sendiri atas nasib cintanya yang kurang begitu mujur. Dia hanya bisa berdoa di dalam hati agar suatu saat istrinya itu bisa membuka hati untuknya, itu saja yang di harapkan laki-laki itu.


Nada dering dari nomor tak di kenal di ponsel Rafka berbunyi, Ia sengaja mengatur nada dering nomor yang tak tersimpan di kontak telepon di ponselnya dengan nada khusus agar lebih mudah membedakan dengan yang lain.


"selamat sore.. apakah benar kami berbicara dengan pak Rafka?" terdengar suara seorang wanita saat Rafka menerima telponnya.


"selamat sore, iya. ini dengan saya sendiri. Maaf, ini dengan siapa ya?" tanya Rafka pada si penelpon itu.


"begini pak, kami dari rumah sakit Sehat Sejahtera mau mengabarkan kalau bu Alena sekarang sedang di tangani di rumah sakit ini karena mengalami kecelakaan, pak Rafka"


"ap.. apa?? Alena kecelakaan?!" ucap Rafka membeo. Ia sama sekali tak menyangka kalau adiknya akan mengalami sesuatu yang buruk seperti ini. Padahal tadi Namira bilang kalau Alena sedang dalam perjalanan pulang, Ia sampai tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"apa benar adik saya yang kecelakaan? apa anda tidak salah orang?" Rafka kembali memastikan sekali lagi.


"benar pak, di dalam mobil bu Alena terdapat kartu identitas, jadi kami bisa langsung mengetahui identitasnya. Sedangkan nomor handphone pak Rafka kami dapat dari handphone bu Alena yang mana di dalam kontak tertera nama bapak sebagai keluarganya" jelas wanita yang sepertinya petugas rumah sakit itu panjang lebar.


"baiklah kalau begitu, saya akan segera kesana. terima kasih untuk informasinya" ujar Rafka dengan tangan yang bergetar.


"baik, pak sama-sama"


Panggilan pun berakhir. Rafka mengambil nafas besar untuk menetralkan perasaannya. Hatinya benar-benar kacau sekarang. Dia sungguh sangat mengkhawatirkan kondisi adik perempuan satu-satunya itu.


"ada apa Rafka?" tanya Namira mulai panik, Perasaannya mulai tak enak melihat ekspresi wajah Rafka yang terlihat sangat terpukul setelah berbicara dengan orang yang ada di dalam telpon tadi.

__ADS_1


"Alena.. Alena kecelakaan, Namira" ujar Rafka lemah.


"gimana bisa Raf? bukankah Alena sedang dalam perjalanan pulang?!" Namira juga tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, sama halnya dengan Rafka.


"aku juga nggak tau, Namira. tadi petugas rumah sakit bilang kalau menemukan kartu identitasnya di dalam mobil" Ucap Rafka frustasi.


"ya tuhan.. Alena. kenapa ini semua terjadi sama kamu?!" Namira ikut bersedih mendengar kabar buruk itu.


"aku mau ke rumah sakit sekarang!" Rafka mengambil kunci mobilnya lalu jalan dengan tergesa menuju mobilnya.


"tunggu Rafka. aku ikut!" seru Namira sambil berlari juga menyusul Rafka setelah mengambil tas selempangnya yang tergeletak di atas sofa ruang tengah.


Mereka berdua pergi ke rumah sakit bersama dalam satu mobil. Rafka yang sedang panik, mengendarai mobilnya dengan terburu-buru sehingga menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Rafka.. jangan ngebut gitu! bahaya!! kamu mau sampai ke rumah sakit dengan selamat kan?" tegur Namira. Dia sampai memukul pundak Rafka dengan keras untuk mengingatkan laki-laki yang seperti hilang kendali itu.


Rafka pun mengikuti perkataan Namira dan mulai mengurangi kecepatan mobilnya tanpa membalas ucapan istrinya itu.


Menurut informasi dari resepsionis wanita itu, Alena sedang menjalani penanganan oleh dokter ahli di IGD sekarang.


Rafka dan Namira bergegas ke ruang IGD yang di tunjukkan oleh petugas rumah sakit dengan tergesa-gesa. Mereka ingin segera melihat bagaimana kondisi Alena saat ini.


Kedua pasangan suami istri itu menunggu dengan cemas di depan ruangan tempat Alena sedang di tangani.


Rafka tampak menunggu dengan tidak sabar sambil mondar-mandir tak jelas di depan ruangan itu.


"kamu harus tenang Raf, dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk keselamatan Alena. lebih baik kita berdoa saja agar Alena baik-baik saja dan bisa melewati semua ini dengan baik" Namira mencoba untuk menenangkan Rafka yang sedang di penuhi rasa gelisah.


"tapi kondisi Alena sedang tidak baik. Aku takut terjadi apa-apa sama dia" rasa khawatir yang sangat, tampak jelas di wajah laki-laki itu.

__ADS_1


"kamu nggak boleh bicara begitu Rafka. Kita harus yakin kalau Alena pasti baik-baik saja. Dia adalah gadis yang kuat, dia pasti bisa melewati semuanya"


Sebenarnya di dalam hati, Namira juga merasa khawatir dengan kondisi Alena. Tapi ia tak mau menunjukkannya pada Rafka, karena takut kalau suaminya itu akan lebih khawatir lagi.


Kakak mohon bertahanlah Alena..


kakak janji akan menuruti semua keinginan kamu kalau kamu sembuh nanti..


kakak akan lakukan apapun agar kamu bahagia..


Tuhan.. aku mohon selamatkanlah adikku, jangan biarkan dia pergi, karena hanya dia lah satu-satunya yang ku miliki di dunia ini..


Rafka berdoa sebisanya mengikuti perkataan Namira. Dan ia merasa bisa sedikit lebih tenang setelah memohon dan mengadu kepada sang maha kuasa.


Namira benar. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain berdoa dan berserah diri kepada-nya.


Setelah cukup lama menunggu dengan perasaan was-was. Akhirnya seorang dokter yang menangani Alena keluar dari ruangan.


Mengetahui itu, Rafka langsung mendekati dokter untuk menanyakan kondisi Alena, di ikuti Namira yang mengekor di belakangnya.


"bagaimana keadaan adik saya dok?" tanya Rafka tidak sabaran.


"nona Alena mengalami benturan yang keras di kepalanya. Kami sudah melakukan perawatan, tapi untuk mengetahui kondisi lebih lanjut, kami akan melakukan foto Rontgen untuk tindakan yang lebih tepat" jelas dokter berkaca mata itu pada Rafka.


"lalu bagaimana kondisinya sekarang dokter?" Namira menambahkan.


"kami belum bisa memastikan, karena harus menunggu hasil dari pemeriksaan lebih lanjut dulu. tapi sejauh ini kondisi fisiknya sudah mulai stabil"


"apa dia bisa di temui sekarang, dok?" Rafka tidak sabar untuk melihat kondisi adik perempuannya dengan mata kepala sendiri.

__ADS_1


"hanya satu orang saja yang bisa masuk. Nona Alena masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat. Kita akan bisa melihat perkembangannya setelah siuman nanti" sambung dokter itu.


"baik, terima kasih dokter" ucap Rafka dan Namira bersamaan.


__ADS_2