
Namira melangkah keluar dari ruang rawat Alena dengan perasaan yang tak menentu. Dia sendiri tak paham dengan apa yang di rasakannya saat ini. Rasanya seperti kelegaan dan kecemasan yang bercampur jadi satu.
Dia merasa lega karena Alena telah bangun dari komanya, tapi ia juga merasa cemas dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Alena terlihat sangat menginginkan Alvan dan itu membuat Namira merasakan perasaan yang sedikit aneh, seperti ada rasa cemburu yang tersimpan di hati yang selalu ia coba untuk menyangkalnya.
Namira tak ingin jadi manusia egois yang lebih mementingkan dirinya sendiri di bandingkan orang lain. Dia akan mencoba menata hatinya untuk melupakan masa lalu dan hanya memandang lurus ke depan tanpa menoleh ke belakang lagi, untuk kebaikan semuanya.
"Alvan, bisakah kamu menemui Alena sebentar? dia ingin bertemu dengan kamu!" ujar Namira saat sudah berada di hadapan Alvan, laki-laki yang dulu pernah berarti dalam hidupnya.
"bukankah tugasku sudah selesai Namira?! Alena sudah bangun dari komanya, jadi udah nggak memerlukan aku lagi" sanggah Alvan tanpa sungkan. Sejujurnya dia masih berada di sana, hanya untuk menunggu Namira.
"tapi Alena nyariin kamu, Van. Dia cuma pengen bicara sama kamu sebentar. kasian dia"
"sampai kapan akan terus seperti ini, Namira? aku nggak mau bersandiwara lagi. Aku capek terus melakukan hal itu"
"tapi Alena sangat membutuhkan kamu. Kondisinya masih lemah. Dia masih belum pulih sepenuhnya, Alvan!"
"sampai kapan kamu akan mementingkan perasaan orang lain dan mengorbankan perasaan kamu sendiri juga perasaanku, Namira?" Alvan tak habis pikir dengan sikap Namira yang terus-menerus memaksanya untuk melakukan hal yang membuatnya terjebak dalam situasi yang rumit.
Namira diam membisu, tak bisa menjawab pertanyaan Alvan. Dia sendiri pun bingung dengan situasi ini. Keadaan seakan terus memaksanya untuk melakukan hal yang terkadang menyakitkan untuk dirinya sendiri.
"aku mohon Alvan, cuma kamu yang bisa jadi semangat hidup untuk Alena. Dampingi lah dia untuk sementara waktu" Namira menyatukan kedua telapak tangannya, memohon.
"jangan terus seperti ini Namira! semuanya akan jadi semakin sulit jika kamu terus melakukan hal itu" Alvan terus menentang keinginan Namira.
"bantulah Alena sekali lagi, Van. Hanya sampai kondisinya pulih saja! sebentar lagi dia akan melakukan operasi, dan dia butuh penyemangat untuk melewati semua" ujar Namira tak pantang menyerah.
Alvan berpikir beberapa saat, memikirkan semua yang di katakan Namira. Dia bimbang antara melakukan atau tidak permintaan dari wanita yang di cintainya itu.
__ADS_1
Alvan merasa serba salah untuk mengambil keputusan, dan langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya. Ia mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya, berharap mendapatkan solusi yang terbaik untuk masalah ini.
"baiklah, akan aku lakukan untuk yang terakhir kalinya" ucap Alvan pada akhirnya. Mungkin ia bisa menahan keinginannya, tapi ia tak kan tega jika menolak permintaan Namira.
"tapi .. hanya sampai Alena sembuh" tambah Alvan lagi.
"terima kasih Alvan" Namira bisa sedikit bernafas lega sekarang.
Mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan Alena dengan pikiran yang tak karuan. Berharap semua kerumitan ini akan cepat berakhir.
Alena yang tampak termenung, langsung sumringah melihat kedatangan laki-laki yang di nantikannya sedari tadi. Kebahagiaan terpancar jelas di matanya saat memandang Alvan. Semua yang ada di ruangan itu pasti sangat paham dengan tatapan mata yang tak biasa itu.
"gimana keadaan kamu, Alena? apa sudah merasa lebih baik?" Alvan membuka suara sekedar untuk berbasa-basi, hanya agar suasana tidak canggung karena tidak ada yang bersuara.
"aku udah merasa jauh lebih baik dari sebelumnya, mas Alvan" balas Alena sambil tersenyum.
Tentu dia akan lebih mengutamakan kebahagiaan adik kesayangannya dari pada egonya sendiri. Itulah yang di lakukan Rafka sekarang.
"apa kita bisa bicara berdua saja mas?" ujar Alena penuh harap.
Alvan terperangah mendengar ucapan Alena. Dia tak menyangka kalau Alena akan bicara secara blak-blakan dan seterus terang itu tanpa sungkan.
"ya udah kalo gitu, kak Namira sama kak Rafka keluar dulu ya!" sahut Namira spontan. Dia berusaha mengerti kalau Alena ingin bicara berdua saja dengan Alvan karena ada sesuatu yang penting yang akan dia katakan.
"iya kak" balas Alena. Ia bersyukur karena kakak iparnya adalah orang yang pengertian. Buktinya dia memberi kesempatan Alena untuk ngobrol berdua dengan orang yang di cintainya.
Meskipun ada raut tak ikhlas di wajah kakaknya, Alena tetap merasa puas karena semua yang di inginkannya akan segera tercapai setelah ini.
__ADS_1
Namira dan Rafka pun keluar dari ruangan itu. meninggalkan Alena bersama Alvan berdua saja, seperti yang dia mau.
"apa yang mau kamu bicarakan, Alena?" tanya Alvan langsung pada intinya. Jika tadi ia berbasa-basi tapi tidak dengan sekarang, Alvan melakukan hal yang sebaliknya.
"aku ingin membicarakan tentang hubungan kita mas Alvan" jelas Alena sambil menatap Alvan lekat, seakan banyak harapan yang tersirat dari sana.
"maksud kamu apa Alena? hubungan kita sudah berakhir sejak hari itu. kamu masih mengingatnya kan?" Ucap Alvan bermaksud mengingatkan.
"itu semua seperti mimpi buatku mas, aku nggak pernah menganggap kejadian itu nyata. Dan aku berharap hubungan kita berlanjut tanpa ada kata pisah" Alena sampai meneteskan air mata mengatakan hal itu.
"tapi kenyataannya memang seperti itu, Alena. Hubungan kita sudah benar-benar berakhir dan nggak akan bisa untuk di satukan lagi" Alvan mencoba untuk bicara baik-baik pada gadis itu.
"aku nggak bisa nerima semua itu begitu saja mas!"
"bukankah kamu sudah mengatakan hal itu kemarin Alena? aku juga sudah mengatakan alasannya sama kamu. Aku nggak mau menyakiti kamu lagi jika mengatakan hal yang sama" Alvan berkata sambil mengusap wajahnya kasar. Seakan kekalutan mulai menguasai dirinya.
*Sudah cukup semua ini Alena..
Jangan memaksaku untuk menyakiti kamu lagi, karena itu hanya akan membuatmu terluka..
Aku sangat menyesali yang telah aku lakukan kemarin, tapi itu bisa terulang lagi jika kamu terus saja mendesakku untuk melakukannya*..
Pikiran Alvan sudah benar-benar buntu. Dia tak tahu harus berbuat apa lagi untuk membuat gadis itu mengerti.
Tiba-tiba saja Alena memegang kepalanya seperti sedang merasa kesakitan yang sangat. Ia merintih menahan sakit yang ia rasakan. Kepalanya terasa nyeri seperti terhantam benda keras yang tak terlihat.
"Alena .. kamu kenapa?!" mengetahui hal itu Alvan mendadak panik. Ia mendekati Alena untuk memeriksa kondisinya.
__ADS_1