Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 34 Bercerailah dengannya


__ADS_3

"maaf Namira, aku nggak bisa melakukannya. Nggak semudah itu untuk merubah perasaan, dan kamu pasti sudah tau persis akan hal itu!" Alvan menentang keras kemauan Namira.


Menurutnya yang di minta Namira adalah hal yang tidak masuk akal. Jika ia meminta yang lain atau bahkan seluruh isi dunia pun pasti akan ia berikan, tapi jika memintanya untuk mencintai perempuan lain, Alvan tak akan pernah mau dan tak akan pernah sanggup untuk melakukannya.


"boleh aku bertanya sesuatu Namira?" tanya Alvan tiba-tiba.


"tanya saja" jawab Namira.


"apa perasaan kamu untukku masih sama seperti dulu Namira?" pertanyaan Alvan kali ini berhasil membuat Namira langsung menatap ke arahnya.


"bukan waktunya untuk membahas tentang hal ini di saat situasinya sedang nggak karuan seperti ini, Alvan" sergah Namira, dia seperti berusaha untuk menghindari pertanyaan itu.


"baiklah Namira, kamu nggak perlu menjawabnya karena aku sudah tau jawabannya hanya dengan melihat tatapan mata kamu saja" ucap Alvan penuh dengan keyakinan di dalamnya.


"sudahlah Van, kita nggak usah bahas tentang itu lagi" Namira berusaha menghindar dari pembahasan yang terjurus pada perasaan mereka.


"tinggalkan semua kepelikan masalah ini, Namira. Bercerailah dengan Rafka dan hiduplah bahagia denganku. Lupakan semua peristiwa buruk yang pernah terjadi" Alvan menatap mata Namira dalam saat mengatakannya. sepertinya itu adalah kalimat yang keluar dari dalam lubuk hati Alvan.


Namira tidak menyangka kalau Alvan akan mengatakan hal itu. Sebenarnya Namira pun sudah lelah dengan semua masalah ini, dia ingin lepas dari semua keruetan yang datang bertubi-tubi menyerangnya. Dia hanyalah manusia biasa yang ingin hidup bahagia, menjalani kehidupan tanpa masalah yang membuat kepalanya serasa mau pecah.


Tapi ia coba mengingkari itu semua. Ia akan mengesampingkan perasaannya demi kepentingan orang lain. Namira tak mau menjadi manusia egois yang hanya mementingkan diri sendiri saja. menurutnya, sangat kejam jika ia bertindak seperti itu.


"aku nggak bisa melakukannya Van, aku harus bisa menyelesaikan semua masalah yang ada karena diriku" ucap Namira lemah.


"apa ini semua karena Alena? kamu menolak untuk bersamaku lagi karena dia?!" terka Alvan.

__ADS_1


"iya, aku nggak bisa nyakitin dia" balas Namira yakin.


"baiklah, akan ku bantu untuk mencari keberadaan Alena. ayo kita cari dia bersama-sama" ajak laki-laki itu.


"lebih baik kita mencarinya sendiri-sendiri. aku takut kalau Alena akan sedih jika melihat kebersamaan kita" tolak Namira.


"ya udah,akan ku turuti mau kamu" ujar Alvan pasrah.


"aku pergi dulu" ujar Namira lalu beranjak dari duduknya. Jujur, dia ingin segera pergi dari tempat yang membuat hatinya terasa sesak ini.


"Namira.. " suara Alvan mencegah langkah wanita itu. Namira pun menoleh ke arah sumber suara itu berasal.


"maafkan aku yang sudah membuat kamu jadi harus menanggung semuanya begini. Kalau saja aku nggak mendekati Alena agar bisa ketemu kamu lagi, maka semua ini nggak akan pernah terjadi" Alvan benar-benar merasa bersalah dan menyesali semua yang pernah ia lakukan.


"tapi menyangkut Alena,akulah yang lebih bersalah" sanggah Alvan. Dia merasa tak tega melihat kesedihan di wajah Namira. Di dalam hati ia bertekad akan menghilangkan kepedihan yang di rasakan oleh perempuan yang teramat dia cintai.


"sudah lah Van, semuanya sudah terlanjur terjadi dan nggak akan bisa di rubah lagi. yang lebih baik kita lakukan sekarang adalah berusaha untuk memperbaiki semuanya" ujar Namira bijak.


"ya, kamu benar Namira" balas Alvan setuju.


"ya udah, aku balik dulu, dan sebaiknya kita jangan terlalu sering bertemu kecuali jika ada hal yang mendesak" ucap Namira kemudian langsung pergi meninggalkan Alvan sendiri di ruangannya.


Setelah kepergian Namira, Alvan mulai memikirkan tentang masalah yang membuat wanita itu sedih. kali ini ia yakin akan bisa menyelesaikan semua masalah dengan baik seperti sebelum-sebelumnya. Dia sudah berjanji pada Namira, akan membantu mencari keberadaan Alena. Dan janji itu pasti ia tepati.


Otak Alvan mulai bekerja. Ia berpikir ke mana Alena akan pergi jika mengalami masalah. Cukup lama berpikir akhirnya ia menemukan jawaban. Sebuah tempat tiba-tiba saja terlintas di pikirannya.

__ADS_1


Alvan pun bergegas untuk coba mendatangi tempat itu sekarang juga. Masalah berhasil atau tidak, tidaklah penting baginya. Yang penting ia sudah berusaha,dan hasilnya tinggal tunggu saja nanti.


Sekitar empat puluh lima menit perjalanan, Alvan sampai di suatu tempat. Tempat yang sejuk dan asri di penuhi pepohonan hijau, dengan halaman yang sangat luas. Di sana ia melihat anak-anak kecil yang bermain dengan wajah ceria. Ada pula yang saling berkejaran satu sama lain.


Anak-anak itu tampak bersemangat, seperti tak ada beban dalam jiwa mereka. Alvan merasa iri, jika saja ia bisa seperti anak-anak itu, tentu tak akan pusing memikirkan banyak masalah seperti sekarang ini.


Mata Alvan menyusuri seluruh sudut tempat yang terasa penuh kedamaian itu. Di bawah pohon mangga yang rindang, ia menangkap sosok perempuan muda yang cantik dan juga berhati lembut. perempuan itu tak lain adalah Alena.


Dia tampak duduk termenung sendiri di bawah pohon sambil sesekali memperhatikan anak-anak yang sedang bermain. Wajahnya yang murung jadi sumringah ketika melihat keceriaan dari mahluk kecil yang tak berdosa itu. Sepertinya dengan melihat tingkah anak-anak,bisa sedikit mengobati kesedihan Alena.


Meskipun hati Alvan tak bisa tertambat padanya, tapi ia sangat menghargai perempuan itu. Sungguh, dia sama sekali tak bermaksud ingin mempermainkan perasaan Alena. Hanya saja keadaanlah yang memaksanya untuk melakukan hal seperti itu, karena kalau ia tau melakukannya maka sampai kapanpun tak akan bisa menjelaskannya semua pada Namira.


Alvan berjalan mendekati gadis itu. Tapi Alena tak menyadari kedatangan Alvan, laki-laki yang seharian ini terus mengacaukan pikirannya karena tak ada kabar.


Bahkan Alena sempat putus asa karena tak bisa menghubungi dan tak menjumpai Alvan, lalu memutuskan untuk datang ke tempat ini. Tempat yang selalu di datangi Alena ketika ia merasa sedih ataupun kecewa.


Tempat yang bisa memberi ketenangan dan kebahagiaan tersendiri untuknya, karena dia merasa nasib anak-anak di sini sama seperti dirinya yang di tinggalkan oleh kedua orang tuanya saat masih kecil. Tempat itu bernama panti asuhan Kasih mulia.


"Alena.. " panggil Alvan yang membuat gadis itu menolehkan wajahnya.


"mas Alvan?!" wajah murung Alena tampak berubah bahagia melihat kedatangan Alvan.


"kamu sejak kapan di sini? kamu tau, kakak dan kakak iparmu sedang pontang panting mencari keberadaan kamu" ujar Alvan pada Alena yang sedang berdiri di sampingnya.


"kok mas Alvan bisa sampai di sini? ada perlu apa mas?" tanya Alena penasaran.

__ADS_1


__ADS_2