
"Bisakah kamu temui Alena sekarang?" Tanya Rafka membuyarkan lamunan Alvan, yang terus memikirkan tentang masa depannya bersama wanita yang ia cintai.
"ya udah, ayo!" balas Alvan dengan semangat membara. Bukan karena akan bertemu dengan Alena, melainkan membayangkan akan impiannya untuk bisa hidup bersama dengan Namira yang sebentar lagi akan segera terwujud.
Kedua laki-laki berbeda kepribadian itu pun berjalan bersama menuju ke ruang rawat Alena. Hanya kaki mereka saja yang terus melangkah, tapi mulut mereka seperti sedang terkunci. Rafka dan Alvan larut dalam pikiran masing-masing tanpa ada yang tau, apa yang sedang mereka pikirkan.
Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di depan ruang rawat Alena yang sedang tertutup rapat. Rafka membuka pintu itu perlahan lalu masuk ke dalamnya, di ikuti Alvan yang mengekor di belakangnya.
Begitu mendengar suara pintu yang di buka, Alena dan Namira yang sedang mengobrol langsung menoleh ke arah pintu tersebut. Dan melihat Rafka yang masuk ruangan di ikuti oleh Alvan yang baru terlihat setelah Rafka menggeser tubuhnya beberapa langkah.
"mas Alvan.." Alena begitu senang melihat kehadiran Alvan di sana. Dia tersenyum lebar menyambut lelaki yang sudah mencuri hatinya itu.
"gimana kabar kamu Alena?" Alvan berjalan mendekat ke arah Alena yang sedang berbaring dengan tumpukan bantal sebagai penyangga kepalanya.
Namira cukup heran melihat Alvan datang ke sana. Dia tidak menyangka kalau Rafka akan berhasil membujuk Alvan dan membawanya ke sini untuk menemui Alena. Melihat tingkah laku mereka yang selalu saja menimbulkan keributan ketika bertemu, maka bagi Namira akan sangat mustahil jika Alvan mau mendengarkan dan menuruti keinginan Rafka.
Semua kemustahilan itu bahkan bisa di ibaratkan seperti matahari yang bersinar di malam hari, suatu fenomena yang sangat sangat tak masuk akal.
"aku udah merasa lebih baik dari sebelumnya kok mas" balas Alena dengan binar mata yang penuh kebahagiaan.
"oh.. syukurlah kalo gitu" Alvan berusaha untuk bersikap selembut mungkin pada Alena.
"aku seneng banget mas Alvan ada di sini" Alena tersenyum sangat manis mengucapkan kalimat itu.
"aku juga senang bisa ketemu kamu lagi, Alena" balas Alvan sambil melirik ke arah Namira. Dia tak sengaja melihat ekspresi wajah Namira yang penuh dengan tanda tanya.
__ADS_1
*Aku tau kamu pasti bingung dengan semua ini, Namira..
Aku sendiri pun tidak menyangka akan datang menemui Alena lagi seperti ini..
Tapi kamu tenang saja, aku datang bukan untuk menipu Alena, aku hanya mendampinginya saja sampai ia sembuh, seperti yang di inginkan kakaknya..
Dan kamu tau apa imbalannya untuk semua itu Namira? Rafka akan melepaskan kamu, dan itu artinya kita akan bisa bersama seperti dulu lagi..*
Alvan berbicara dalam hati seakan sedang berbicara dengan Namira lewat tatapan matanya.
Alena dan Alvan pun saling mengobrol hal-hal yang ringan, seperti tentang perkembangan kesehatan Alena dan juga tentang yang lainnya. Alena tampak sangat menikmati dan antusias dengan obrolan itu, sedangkan Alvan seperti hanya sekedar ngobrol biasa saja, tak ada yang cukup menarik baginya.
Meskipun demikian, Alvan tetap menjaga sikapnya dengan bersikap sebaik mungkin pada Alena. Karena dia lah yang akan membawanya pada kebahagiaan saat waktunya sudah tiba nanti. Saat dirinya dan Namira bisa kembali bersama.
Rafka tampak berdiri mematung di dekat jendela. Ia mengarahkan pandangannya keluar jendela tapi dengan tatapan mata yang kosong.
"kamu kenapa Rafka? apa semuanya baik-baik saja?" tanya Namira setelah jaraknya sudah dekat dengan suaminya.
Orang yang bersangkutan hanya diam saja, tak menanggapi pertanyaan dari istrinya. Dia seperti sedang tak fokus, bisa di lihat dari matanya yang menerawang jauh seperti sedang memikirkan suatu masalah yang sangat membebani pikirannya.
Namira mengerutkan alisnya heran, tumben-tumbenan Rafka bersikap seperti itu. Selama menikahi dengan laki-laki itu, tak sekalipun Namira melihat Rafka seperti begitu terbebani kecuali pada saat ini.
*Kenapa Rafka bersikap sangat aneh? dia seperti melamunkan sesuatu, tapi nggak tau apa..
Tapi kenapa firasatku mengatakan kalau dia sedang dalam masalah besar. tapi apa?! bukankah keadaan Alena sudah semakin membaik sekarang. Atau apa ada masalah lain yang aku nggak tau?!*
__ADS_1
Namira malah seperti tertular Rafka jadi ikut melamun juga. Tapi hanya sekejap saja dia tersadar dan memperhatikan suaminya lagi yang masih dalam posisi yang sama seperti tadi.
"Alena.. kak Namira dan kak Rafka ke kantin sebentar ya! mau beli minuman" pamit Namira pada adik iparnya kemudian langsung menyeret tangan suaminya keluar dari ruangan setelah Alena membalas ucapannya.
Rafka sampai terhenyak kaget tiba-tiba di seret-seret seperti itu oleh istrinya. Tapi dia mengikuti saja kemauan Namira tanpa protes dan bertanya sedikit pun.
Sedangkan Alvan yang melihat hal itu seperti tak terima. Amarah di dalam dadanya membuncah saat melihat Namira dan Rafka pergi dengan bergandengan tangan. Menurutnya tak ada yang pantas bersentuhan dengan Namira kecuali dirinya.
Alvan mengepalkan tangannya erat seakan menahan emosi yang seperti akan meledak. Dia berusaha tenang dan bersikap wajar karena ada Alena di sana. Dia tak mau kalau sampai Alena mencurigainya dan akan membuat semua rencananya hancur berantakan.
"kenapa mas Alvan? apa ada masalah?!" Alena merasa curiga dengan tingkah Alvan yang sedikit aneh menurutnya.
"oh.. nggak pa pa Alena, aku cuma.. mau ke toilet aja" ujar Alvan mencari alasan yang masuk akal.
"oh.. jadi mas Alvan kebelet?! kirain kenapa kok ekspresi wajahnya kayak agak aneh gitu!" dengan mudahnya Alena percaya begitu saja pada ucapan Alvan.
"iya nih Alena, udah nggak tahan. aku ke toilet dulu ya!" Alvan berkata sambil bangkit dari duduknya kemudian berjalan beberapa langkah ke arah pintu untuk keluar.
"mas Alvan.. mau ke mana? katanya mau ke toilet? itu toiletnya ada di sana!" Alena memanggil Alvan saat laki-laki itu tinggal sedikit lagi mencapai pintu sambil menunjuk pintu toilet yang ada tak jauh dari tempat Alvan berdiri.
"oh.. eh iya. aku nggak tau! ya udah aku ke sana dulu!" ucap Alvan gelagapan dan langsung nyelonong masuk ke dalam toilet yang ada di dalam kamar Alena.
*Ah.. jadi gagal deh buntutin Namira dan Rafka. padahal aku tadi cari alasan biar bisa keluar dari ruangan ini dan nyusul mereka..
Tapi kenapa aku bisa nggak kepikiran kalo di kamar ini ada toilet juga?!
__ADS_1
Sekarang aku malah terjebak di tempat sialan ini. Huh.. sial banget sih!
Kira-kira apa ya yang di bicarakan Rafka dan Namira?!*