
"Iya non, tadi pacar non Alena makan malam di sini bareng den Rafka juga. ganteng banget loh non, mukanya mirip oppa oppa Korea gitu, aduh.. bibik sampe gemes deh liatnya!" bik Imas mulai bercerita dengan antusias, sedangkan bik Siti tampak melanjutkan pekerjaan mencuci piring yang belum kelar.
Kedua asisten rumah tangga itu memang memiliki sifat yang berlawanan. Bik Imas yang lebih banyak bicara alias cerewet sedangkan bik Siti yang lebih banyak diam dan tangannya saja yang banyak bekerja.
"oh ya bik? saya tadi sibuk banget di butik, jadinya nggak bisa ikut makan malam di rumah" jelas Namira.
"oh.. begitu toh?! tadi kayaknya non Alena sama den Rafka nungguin kedatangan non Namira" sambung bik Imas.
"lalu Alenanya sekarang di mana bik?"
"sepertinya di kamar non, tadi soalnya bibik denger den Rafka sama non Alena berantem,pas pacarnya udah pergi, terus non Alenanya langsung masuk ke kamar sambil banting pintu" bik Imas melanjutkan ceritanya dengan ekspresi wajah ala emak-emak komplek yang doyan bergosip.
Ucapan bik Imas berhasil membuat Namira terkejut, karena selama mengenal Rafka, laki-laki itu sama sekali tak pernah berkata dengan nada tinggi ataupun bertengkar dengan adiknya.
Namira pikir pasti ada masalah serius yang terjadi di antara mereka.Tapi tak tau pasti apa masalahnya. Yang jelas ia menduga kalau masalah itu berkaitan dengan pacar Alena. karena mereka bertengkar setelah kedatangan pria yang berstatus sebagai pacar Alena itu.
"kalo gitu saya temuin Alena dulu ya bik" ujar Namira lalu segera pergi ke kamar adik iparnya setelah mendapat jawaban dari bik Imas.
Namira mengetuk pintu kamar Alena pelan setelah sampai di depan kamarnya. Dia mengetuk pintu beberapa kali sambil memanggil nama adik iparnya itu. Tak berselang lama, pintu pun terbuka dan Alena berdiri di balik pintu dengan mata yang sembap. Sepertinya ia terlalu banyak menangis sejak tadi.
"Alena.. kamu kenapa?" Namira merasa iba melihat keadaan adik iparnya yang terlihat kacau dan acak-acakan.
"kak Namira.." bukannya menjawab,Alena malah menangis dan memeluk kakak iparnya, padahal mereka tidak terlalu dekat, mungkin gadis itu sedang terbawa perasaan mellownya.
__ADS_1
"ada masalah apa Alena? kalo ada masalah kamu bisa cerita sama kakak" ucap Namira lembut sambil menepuk pelan punggung Alena, berusaha menenangkannya.
Melihat keadaan Alena sekarang, membuat Namira kembali mengingat masa lalunya. Dulu dia pernah berada di posisi yang sama dengan Alena. Menangis karena orang yang di cintai. Hanya saja ada yang berbeda, dulu dia menangis karena pengkhianatan sang kekasih. sedangkan Alena menangis karena cintanya yang tak di restui dan mendapatkan tentangan dari kakaknya.
Namira menggandeng tangan Alena dan mengarahkannya duduk di tepian tempat tidur agar lebih nyaman untuk mengungkapkan keluh kesahnya. Ia berharap dengan begitu akan bisa sedikit mengurangi beban pikiran adik iparnya.
Alena masih sesenggukan di pelukan Namira. Dan ia membiarkan saja adik iparnya itu melakukannya. Dia akan menunggu sampai tangis Alena berhenti agar gadis itu merasa sedikit lega karena sudah meluapkan emosinya dengan tetesan air mata.
"kak Rafka nggak ngerestui hubungan aku sama pacarku kak Namira, dia minta aku buat putus" Tukas Alena di sela-sela tangisnya yang mulai mereda.
"alasannya apa Alena? nggak mungkin kak Rafka minta kamu ngelakuin hal itu tanpa ada sebabnya" ucap Namira berusaha untuk netral,tak memihak pada salah satu dari mereka.
"alasan kak Rafka nggak masuk akal kak, dia cuma bilang nggak suka sama pacar aku dan bilang kalau dia bukan laki-laki yang baik"
"apa kamu sudah sangat mengenal dia Alena?" Namira mencoba mencari kesimpulan dari jawaban yang terlontar dari mulut adik iparnya.
"kalo gitu kamu tenang dulu ya,biar kakak bantuin ngomong ke kakak kamu biar dia nggak maksain kehendaknya gitu aja!" perkataan Namira membuat adik iparnya langsung mendongakkan kepala dan menatap serius ke arahnya.
"beneran kakak mau bantu aku?" Alena seperti tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"kakak pasti akan bantu kamu,Alena" Namira mengulangi kalimatnya lagi agar Alena bisa lebih yakin dengan ucapannya.
"makasih banyak ya kak Namira!" tampak pancaran harapan yang tersirat dari wajah polos gadis itu.
__ADS_1
"sama-sama Alena. ya udah kalo gitu kakak ke kamar dulu ya. kakak akan coba ngomong sama kakak kamu sekarang" Namira bangkit dari duduknya sambil masih memegang tangan Alena.
Alena mengangguk kuat menyetujui ide kakak iparnya dengan sejuta harapan di dalam hatinya. Dia berharap kalau setelah ini semuanya akan berubah dan kakak kandungnya merestui hubungannya dengan laki-laki yang sangat ia cintai.
Namira menutup pintu kamar Alena kembali,lalu berjalan menuju kamarnya dan Rafka. Setelah sampai di kamar, Namira malah melihat suaminya sedang memejamkan mata di tempat tidur yang biasa ia gunakan.
Namira kembali memastikan dengan mendekati Rafka. melihat dengan teliti kelopak matanya. Jika kelopak matanya berkedut itu berarti dia hanya pura-pura tidur saja, begitu juga sebaliknya.
"Rafka, aku mau bicara sama kamu" Namira berani berkata setelah melihat sedikit pergerakan dari kelopak mata suaminya.
Laki-laki itu tak memberikan respon apa-apa, hanya diam saja seolah tidak mendengar ucapan Namira. Dan itu membuat Namira merasa sangat kesal hingga memukulkan bantal bertubi-tubi sampai Rafka mengakhiri sandiwaranya.
Rafka pun akhirnya menyerah. Ia membuka matanya karena risih dengan serangan bantal Namira yang terus-menerus itu.
"Apa sih?? ganggu banget!" selorohnya setelah membuka mata yang dari tadi terpejam.
"udah nggak usah kebanyakan akting deh! aku mau ngomong tentang Alena" ucap Namira yang membuat perasaan Rafka semakin tak enak. Dia pun berbalik badan membelakangi Namira dan menutup matanya lagi, pura-pura ngantuk.
"Ih.. Rafka!!" Namira berteriak tepat di telinga Rafka, yang membuat laki-laki itu bangun seketika sambil menggosok-gosok telinganya karena suara cempreng istrinya.
"aduh.. kenapa lagi sih?!" gerutu Rafka.
"kenapa kamu nyuruh Alena putus dengan pacarnya? padahal kata Alena, dia pria yang baik. kamu tau?! kamu udah jahat banget sama adik kandungmu sendiri. Kasian Alena sampai nangis begitu gara-gara ulah kakaknya yang kekanakan!" keluh Namira panjang lebar.
__ADS_1
Andai kamu tau siapa pacar Alena yang sebenarnya, Namira. kamu pasti nggak akan sanggup untuk berkata seperti itu.
ah.. apa yang harus ku lakukan sekarang? haruskah aku memberi tahu yang sebenarnya pada Namira?