
Laki-laki itu bangun dari tidurnya dengan tak bersemangat. Ia merasa ada bagian yang hilang dari dalam dirinya. Hidupnya seakan kelabu, tanpa ada warna warni yang indah di dalamnya.
Tadi malam dia memilih untuk tidur di ranjang yang biasanya di gunakan oleh Namira. Setidaknya aroma tubuh dari istrinya itu masih bisa ia rasakan dan bisa sedikit mengobati rasa rindu yang mendera.
Tak tau bagaimana bisa, padahal baru beberapa jam tak bertemu. Tapi ia sudah merasakan perasaan rindu yang kian menggebu yang tak bisa ia kendalikan.
Jika biasanya dia bangun dengan perasaan nyaman meskipun hanya tidur d sofa, tapi kali ini ia merasa kurang nyaman meskipun tidur di kasur yang empuk miliknya.
Seperti biasa dia memulai aktifitasnya dengan mandi lalu sarapan. Ia harus tetap menjaga kesehatannya meskipun hatinya sedang bersedih. Karena masih banyak tugas dan tanggung jawab yang harus ia lakukan.
"Apa Alena sudah sarapan bik?" tanya Rafka pada asisten rumah tangganya.
"Sudah den, tadi saya sendiri yang mengantarkan sarapannya ke kamar non Alena" jawab bik Siti.
"Oh.. baik bik, terima kasih" ucap Rafka kemudian melanjutkan sarapannya yang sempat terhenti sejenak tadi.
"Iya den, sama-sama" balas bik Siti lalu berbalik arah menuju dapur untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.
Hari ini Rafka akan berangkat lebih pagi dari biasanya, karena akan ada meeting pagi dan juga ada beberapa klien yang harus ia temui. Meskipun sedang terpuruk, tapi ia harus tetap melanjutkan hidupnya. Ia tak mau kalau sampai perusahaan yang sudah di bangun ayahnya jadi hancur gara-gara kelalaiannya. Dan ia tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.
Sebelum pergi, ia sempatkan untuk menemui Alena di kamarnya. Karena sejak kemarin ia belum melihat keadaan adiknya itu sama sekali. Selain karena masalah yang sedang ia hadapi, ia juga memberikan waktu kepada Alena untuk memahami semua yang terjadi agar ia tak melampiaskan amarahnya pada siapa pun lagi.
Menurut Rafka, segala hal yang mereka hadapi adalah suratan takdir yang harus di jalani dengan ikhlas. Jadi tak perlu menyalahkan siapa pun atas semua yang telah terjadi. Dan ia berharap suatu saat Alena akan mengerti dengan semua itu.
Seusai sarapan ia naik tangga menuju ke kamar adiknya. Sesampainya di depan kamar Alena, Ia mengetuk pintu yang ada di depannya beberapa kali.
__ADS_1
"Masuk" terdengar suara Alena setengah berteriak dari dalam kamar.
Rafka pun langsung membuka pintu itu kemudian masuk ke dalamnya. Ia melihat Alena sedang bersandar di tempat tidur sambil bermain dengan ponsel miliknya.
"Gimana keadaan kamu Alena? apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Rafka sambil berjalan mendekati adiknya.
"Iya kak, aku sudah merasa lebih baik, apalagi setelah perempuan itu keluar dari rumah ini!" ujar Alena tanpa perasaan.
"Alena, kamu nggak boleh bicara kayak gitu! dia itu kakak iparmu!" Rafka tampak emosi mendengar ucapan adiknya.
"Sebentar lagi juga statusnya akan berubah! aku tau semua yang terjadi di rumah ini kak! jangan anggap aku anak kecil yang nggak ngerti apa-apa!" sarkas Alena.
"Kenapa kamu jadi seperti itu, Alena? Apa salah Namira hingga membuat kamu jadi marah padanya begini?!" Rafka sungguh heran melihat kelakuan adiknya yang tak seperti biasa.
Seorang Alena yang biasanya manja dan bersikap baik, kini di penuhi dengan amarah dan dendam yang menguasai dirinya.
"Kamu salah Alena! Namira sama sekali nggak bersalah dalam hal ini!" Rafka berusaha membela yang menurutnya benar di dalam pikirannya.
"Terserah kakak mau bela dia kayak gimana! Bagiku dia adalah biang masalah bagi keluarga kita!"
"Alena! jaga ucapan kamu!!" Rafka begitu emosi mendengar kalimat itu dari mulut Alena, tapi ia berusaha untuk menahan amarahnya itu. Ia tau sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas masalah ini, karena Alena baru saja sembuh, dan ia membutuhkan waktu untuk lebih menjernihkan pikirannya.
Laki-laki itu lebih memilih untuk meninggalkan kamar adiknya, dari pada harus terus berdebat yang tak ada habisnya. Ia yakin suatu saat Alena akan mengerti dengan semua yang terjadi dan bisa untuk memahaminya.
Rafka masuk ke dalam mobilnya kemudian berkendara menuju ke kantor sekarang juga. Sepertinya memang dia harus lebih menyibukkan diri dengan pekerjaan agar bisa sedikit melupakan beban masalah yang sedang ia hadapi.
__ADS_1
Meskipun di dalam pikirannya terus saja memikirkan tentang Namira, tapi ia tetap harus menjalankan rutinitas sehari-harinya seperti biasa.
Rafka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang melalui gedung-gedung yang menjulang tinggi di kota ini. Hari ini masih cukup pagi, jadi jalanan tidak terlalu macet.
Jika ia berangkat lebih siang sedikit saja, maka sudah bisa di pastikan akan terjebak macet, karena pada jam-jam seperti itu sedang ramai-ramainya orang berlalu lalang untuk berangkat kerja menuju kantor mereka masing-masing.
Rafka melewati rute menuju ke kantor seperti biasanya, tapi ketika sampai di persimpangan, laki-laki itu seperti ragu untuk melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba saja dia ingin melihat Namira walau pun mungkin hanya dari jauh saja.
Di saat harusnya ia berjalan lurus, ia malah membelokkan arah mobilnya menuju ke butik Namira yang ia ketahui dari orang kepercayaannya yang memberikan informasi kemarin malam.
Ia melihat jam di pergelangan tangannya, sepertinya masih ada waktu untuk pergi ke butik itu sebentar sebelum meeting di mulai.
Dia mengendarai mobilnya menuju ke butik milik Namira dengan perasaan harap-harap cemas. Ia berdoa di dalam hati agar bisa sebentar saja melihat wanita yang masih ada di hatinya itu.
Dia mencari-cari butik Namira, di antara bangunan lain yang berderetan di sana. Di daerah ini memang di kenal cukup ramai. Banyak pertokoan-pertokoan dan beberapa kafe yang di lewati Rafka di sekitar situ.
Sampai ia melewati taman yang tampak ramai dengan orang-orang yang sedang berolahraga atau pun nongkrong-nongkrong di sana.
Tiba-tiba saja matanya terpaku pada satu sosok yang sedang ia cari-cari. Rafka pun refleks menghentikan mobilnya dan menepikannya di pinggir jalan raya agar bisa melihat dengan lebih jelas apa yang sedang di lakukan wanita itu.
Di sana Namira terlihat sedang duduk di bawah pohon dan minum sebotol air bersama dengan laki-laki lain. Hatinya seperti tergores benda tajam saat melihatnya, terasa perih tak tertahankan.
*Ternyata kamu tak sedikit pun bersedih akan perpisahan kita, Namira..
Bahkan sepertinya kamu bahagia dengan perpisahan ini..
__ADS_1
Di saat aku sedang terpuruk karena perpisahan kita, kamu merasakan yang sebaliknya. Kamu tampak bahagia dengan laki-laki yang kamu cintai sejak dulu...
Ternyata keputusanku sudah tepat untuk melepaskannya, karena dia bisa lebih bahagia jika bersamanya..*