
Wanita itu memandangi kamar yang sudah ia tempati selama berbulan-bulan ini. Kamar yang tak begitu banyak kenangan indah di sana, karena memang pernikahan yang di jalaninya hanyalah pernikahan di atas kertas saja. Tak ada rasa cinta yang melandasi hubungan yang terjalin di antara mereka dulu.
Sebuah pernikahan yang di awali oleh keterpaksaan karena menuruti kemauan papanya. Tapi ia tak menyangka kalau pernikahan itu akan berakhir secepat ini.
Bohong jika ia tak merasakan sakit sedikit pun akan perpisahan ini. Tentu saja ada rasa perih yang mendera di hati. Entah apa sebabnya, ia pun tak mengerti.
Namira membuka lemari besar di kamar itu. Di mana satu sisinya terdapat banyak pakaian suaminya yang tertata rapi di dalamnya, sedangkan di sisi lainnya berisi baju-baju miliknya yang ia bawa saat baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, ada juga beberapa potong baju baru yang di belikan Rafka yang jarang ia pakai.
Namira mengambil koper yang berada di pojok ruangan, lalu memasukkan baju-baju miliknya dengan perasaan yang tak menentu.
Hari ini ia putuskan untuk pergi dari rumah ini, karena ia sudah bukan lagi salah satu anggota keluarga di sini. Hubungannya dengan sang suami sudah berakhir, dan suaminya sendiri yang menginginkan semua itu, Jadi menurutnya ia sudah tidak berhak untuk tetap berada di rumah ini.
Setelah selesai mengemas baju ke dalam koper, Namira menyeret koper itu perlahan untuk keluar dari kamar yang biasa ia tempati bersama Rafka, meskipun mereka tidak pernah tidur di ranjang yang sama.
Namira menutup pintu kamar perlahan kemudian berjalan menuruni anak tangga untuk pergi dari sana.
Sebelum pergi, ia sempatkan untuk berpamitan langsung kepada kedua asisten rumah tangga di rumah itu, yang sudah banyak membantunya selama ia tinggal di rumah ini. Setidaknya ia harus berterima kasih untuk semua kebaikan yang sudah mereka lakukan selama ini.
"Bik Imas, bik Siti.. " panggil Namira kepada dua asisten rumah tangga itu saat mereka terlihat sedang memotong sayur-sayuran.
"Non Namira? ada apa non? ada yang bisa kami bantu?" ujar bik Imas tidak terlalu memperhatikan kalau istri majikannya itu sedang membawa koper di belakangnya. Tapi bik Siti yang mengetahuinya langsung menyenggol-nyenggol lengan rekan kerjanya untuk memberikan kode.
"Non Namira mau kemana? kok bawa-bawa koper besar gitu?" tanya bik Siti karena bik Imas tidak ngeh juga dengan kode yang ia berikan.
__ADS_1
"Loh.. non Namira mau kemana?" bik Imas pun baru mengerti setelah bik Siti bertanya langsung kepada istri majikannya.
"Saya mau pamit bik Imas, bik Siti. Maaf kalo selama saya di sini sering merepotkan kalian. Dan juga terima kasih karena kalian sudah banyak membantu saya di rumah ini" ucap Namira dengan perasaan sedih.
"Memangnya non Namira mau kemana toh? kok ngomongnya begitu? apa non Namira mau ke luar kota?" bik Imas belum mengerti dengan ucapan Namira, sedangkan bik Siti sepertinya sedikit paham dengan apa yang sedang terjadi.
"Saya harus pergi dari rumah ini bik, karena saya dan pak Rafka akan segera berpisah" Namira benar-benar menguatkan hatinya untuk mengucapkan kalimat itu.
"Astaghfirullah.."
"Ya Allah.. apa yang terjadi non? bukankah semuanya baik-baik saja?!" tanggapan kedua asisten rumah tangga itu hampir sama, mereka sangat terkejut mendengar hal itu dari mulut Namira. Karena menurut sepengetahuan mereka, Rafka dan Namira tak pernah terlihat bertengkar hebat, apa lagi saling memusuhi.
Di mata mereka, kedua majikannya itu adem ayem saja di dalam pernikahan mereka, meskipun jarang melihat keromantisan di antara mereka berdua seperti pasangan yang baru menikah pada umumnya.
Mereka pikir, keduanya memang memiliki sifat yang pemalu, jadi jarang mempertontonkan kemesraan di depan umum, mereka tak pernah menyangka kalau akan jadi seperti ini pada akhirnya.
"Apa nggak bisa di pikirkan lagi non?" ujar bik Imas merasa prihatin.
"Saya juga nggak tau bik, saya keluar dari rumah ini juga untuk menenangkan diri saya"
"Kalau begitu, kami doakan agar masalah pak Rafka dan non Namira cepat selesai dan non bisa kembali lagi ke rumah ini" doa bik Imas sepenuh hati yang di amini oleh bik Siti juga.
Namira hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan bik Imas, Ia sendiri pun tak tau apa yang di inginkan hatinya.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan keduanya, Namira pun melangkahkan kakinya menuju mobil yang terparkir di halaman depan. Ia memasukkan koper yang ia bawa ke dalam bagasi lalu menutupnya kembali.
Setelah itu ia membuka pintu mobil dan duduk di balik kursi kemudi untuk benar-benar pergi menjauh dari tempat ini.
Sebelum menginjak pedal gas, ia memandang ke arah rumah besar bergaya klasik itu sedikit lama, kemudian pergi dengan membawa luka di hatinya.
*Selamat tinggal Rafka, mungkin setelah ini kita tak akan pernah bertemu kembali..
Hidup lah dengan berbahagia, karena kamu berhak mendapatkan hal itu..
Maaf karena sudah membawamu masuk ke dalam hidupku yang pelik ini..*
Namira mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang sudah mulai gelap. Tak tau kemana arah dan tujuannya tapi ia terus berkendara. Hingga tak terasa sudah hampir satu jam ia berputar-putar di jalan sekitar situ saja, akhirnya ia putuskan untuk pergi ke butik miliknya saja.
Menurutnya itu adalah tempat yang paling aman dan cocok untuknya saat ini. Karena kalau sampai ia pulang ke rumah kedua orang tuanya, maka pasti papa dan mamanya itu akan menghujaninya dengan banyak pertanyaan yang rasanya belum sanggup ia jawab untuk sekarang.
Rasanya ia masih belum sanggup untuk memberitahukan semua yang terjadi pada kedua orang tuanya itu. Meskipun Rafka yang menginginkan perpisahan ini, dan orang tuanya pasti tak akan menyalahkannya, tapi tetap saja, ia belum siap untuk menghadapinya.
Butik Namira masih beroperasi pada jam ini, karena memang waktu tutupnya biasanya pada pukul sembilan malam. Dan pada jam-jam seperti ini biasanya kondisi butik sedang ramai-ramainya pengunjung untuk berbelanja.
Namira masuk ke dalam butik yang akhir-akhir ini jarang di datanginya karena beberapa masalah yang harus ia hadapi. Ia memilih masuk lewat pintu belakang, sehingga para karyawannya tak banyak tau kalau ia sedang berada di sana.
Entah mengapa dia sedang malas untuk berurusan dengan banyak orang sekarang. Ia hanya menelpon salah satu karyawan kepercayaannya untuk sekedar memberi tahu kalau ia datang ke sana saja.
__ADS_1
Dia langsung masuk ke dalam kamar yang ada di dalam butik, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang miliknya di tempat itu, tanpa membersihkan diri terlebih dulu.
Tak terasa, tiba-tiba air matanya menggenang begitu saja di pelupuk mata tanpa ia sadari. Ia pun tak mengerti kenapa ia bisa jadi cengeng seperti ini.