Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 63 Terbongkarnya Sebuah Rahasia


__ADS_3

Kedua orang tua Namira pun sama terkejutnya dengan Alvan. Mereka berdua menatap laki-laki itu dengan tatapan penuh kebencian. Karena menurut sepengetahuan mereka, Alvan adalah pria tak berperasaan yang telah menyakiti hati putri mereka.


Pria pengecut yang tega berselingkuh di saat pernikahannya dan Namira akan di langsungkan tak lama lagi. Ya, begitu lah Alvan di mata mereka.


Dari sudut pandang mana pun tak ada sedikitpun kebaikan yang bisa mereka lihat dari pria ini. Mereka sangat membenci Alvan dan tak akan pernah memaafkan kesalahannya sampai kapanpun.


"sedang apa kamu di sini?" ujar pak Pramana dengan penuh emosi dan tatapan marah.


"om, tante. saya.." Alvan tak bisa melanjutkan ucapannya, bibirnya seperti kelu dan tak bisa di gerakkan secara tiba-tiba.


"apa nggak cukup kesalahan yang sudah kamu perbuat, sehingga kamu mau mengganggunya lagi?!" hardik pak Pramana pada laki-laki itu.


Orang tua manapun pasti tak akan terima jika putrinya di sakiti, terlebih lagi yang menyakiti adalah calon suaminya sendiri. Seseorang yang harusnya menjaga dan memberikan cinta, malah berkhianat dan memberikan luka yang dalam di hati Namira.


Alena yang melihat kejadian di depan matanya itu sangat terkejut. Dia sama sekali tak mengira kalau orang tua kakak iparnya dan pria yang di cintainya saling mengenal. Bahkan hubungan di antara mereka tampak tak baik, di lihat dari ekspresi wajah pak Pramana dan bu Asti yang tampak tak suka saat melihat kehadiran Alvan.


Alvan merasa serba salah sekarang. Dia ingin menjelaskan semua kesalah pahaman yang terjadi, tapi ada Alena di sana. Dia takut kalau semuanya akan bertambah semakin runyam kalau sampai salah mengambil keputusan.


"kalo gitu saya permisi dulu om, tante. Saya masih ada urusan lain" pada akhirnya Alvan putuskan untuk menghindar saja dan secepatnya pergi dari tempat ini. Dari pada salah bicara yang malah akan membuat semuanya jadi berantakan.


Dia pun keluar dari ruangan itu dengan tergesa-gesa sampai hampir menabrak pintu yang akan ia lewati. Melihat gelagat Alvan yang aneh seperti itu membuat tanda tanya besar di pikiran Alena.


*Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa om Pram dan tante Asti kayak marah banget sama mas Alvan?!


Dan kenapa mas Alvan seperti salah tingkah gitu di depan orang tua kak Namira, seakan-akan dia pernah melakukan kesalahan besar yang tak termaafkan..

__ADS_1


Sebenarnya apa hubungan di antara mereka?*


Alena mulai menerka-nerka tapi tak bisa menemukan jawabannya. Dia ingin bertanya langsung pada pak Pramana dan bu Asti tapi tidak punya nyali, karena melihat wajah mereka yang di penuhi dengan kemarahan itu.


Tapi karena rasa penasarannya yang mulai membuncah, pada akhirnya Alena putuskan untuk membuka suara juga.


"apa tante dan om mengenal dia?" Alena tak mau menduga-duga lagi dan langsung bertanya pada orang tua Namira mengenai hubungan mereka dengan Alvan.


"Dia itu mantan tunangan Namira, Alena. Huh.. berani-beraninya dia masih datang mendekati Namira. Apa dia tak tau malu mendekati wanita yang sudah bersuami?!" gerutu bu Asti yang membuat Alena terkejut setengah mati. Pikiran buruk pun mulai menghampirinya.


"Ap.. apa maksud tante?" Alena masih mencoba mencerna dengan baik, apa yang di dengarnya.


"Jadi dia itu dulunya adalah calon suami Namira, tapi di saat pernikahan mereka sudah semakin dekat, laki-laki itu malah berselingkuh di belakang Namira" jelas bu Asti yang membuat Alena semakin shock.


*Apa maksud dari semua ini? kenapa semuanya jadi begitu rumit?..


Kalo mas Alvan dulunya adalah calon suami kak Namira, itu artinya mereka sudah sangat mengenal satu sama lain..


Apa jangan-jangan mas Alvan masih mengharapkan kak Namira, dan dia selama ini mendekatiku hanya mencoba memanfaatkan aku saja agar bisa mengambil hati kak Namira kembali?!..


Jadi selama ini mas Alvan hanya berpura-pura baik padaku saja. Semua perlakuan manisnya untukku hanya kepalsuan dan sandiwara belaka..


Ah.. betapa bodohku aku yang bisa tertipu begitu saja olehnya..*


Alena dari dulu memang tidak terlalu mengenal Namira. Ia hanya bertemu dengannya beberapa kali dan itupun hanya mengobrol seperlunya saja. Mereka berdua jadi lebih dekat setelah pernikahan Namira dan Rafka, jadi secara tak langsung membuat hubungan mereka lebih dekat dengan sendirinya.

__ADS_1


Menurut Alena, Namira adalah wanita yang baik. wanita itu sering kali memberikan perhatian padanya dan juga selalu mengerti tentang perasaannya.


Tapi yang di sayangkan Alena adalah ketidak jujuran Namira. Ia sangat menyesalkan kenapa kakak iparnya itu seperti menutup-nutupi hubungannya dengan Alvan.


Kalau dia mengetahui semua ceritanya dari awal dari mulut Namira sendiri, mungkin hatinya tidak akan merasa sesakit itu. Mungkin juga ia bisa menerima semua kenyataan dengan lebih lapang dada.


Tapi kondisinya sekarang sangat berbeda bagi Alena. Ia merasa di khianati oleh Namira dan juga Alvan. Ia merasakan sakit yang sangat di dalam hatinya.


"kamu kenapa Alena? ucap bu Asti membuyarkan lamunan Alena. Ia sedikit tersentak saat mama dari kakak iparnya itu memanggil namanya.


"Saya nggak apa-apa kok tante" ujar Alena berusaha bersikap setenang mungkin. Ia tak mau kalau sampai pak Pramana dan bu Asti mengetahui permasalahannya. Dia akan menyimpan semua kenyataan pahit yang baru saja di ketahuinya sendiri.


"benar kamu nggak pa-pa Alena? wajah kamu terlihat pucat begitu" Pak Pramana nampak khawatir melihat tingkah Alena yang berubah drastis. Dari yang mulanya ceria dan banyak bicara, kini mendadak jadi pendiam seperti tak bersemangat.


"benar om, saya nggak pa pa" ujar Alena berusaha meyakinkan. Meskipun dia merasa kecewa dengan Namira, tapi itu tak ada sangkut pautnya dengan pak Pramana dan bu Asti. Jadi dia harus tetap bersikap hormat pada kedua orang tua Namira itu.


"ya sudah kalo gitu, om kira ada bagian tubuh kamu yang terasa sakit. Syukurlah kalo ternyata tidak!" kekhawatiran di wajah pak Pramana tampak sedikit berkurang setelah mendengar jawaban Alena. Begitu pula dengan bu Asti.


*Om benar, ada bagian dari tubuhku yang terasa sangat sakit, bahkan rasa sakitnya seperti tertusuk ratusan belati tajam yang di tancapkan secara bersamaan..


Entah kenapa rasanya begitu sakit, sampai aku tak kuasa untuk menahannya..


Rasa sakit ini sangat menyiksa hingga membuatku terasa sulit untuk bernafas..*


"oh iya Alena .. ngomong-ngomong, bagaimana bisa si Alvan itu ada di toilet di dalam ruangan kamu? dan apa kamu mengenalnya juga?" tanya mama Namira tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2