Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 79 Kecemasan Namira


__ADS_3

"Mami ini gimana sih? masa iya anaknya lagi sakit gini malah buru-buru di suruh nikah?" protes Alvan pada maminya.


"Habisnya kamu kelamaan sih, pake di undur-undur segala? nanti kalau Namira di duluin orang baru tau rasa kamu!" ceplos mami Alvan yang membuat laki-laki yang sedang terbaring tak berdaya di atas brankar itu menelan salivanya dengan susah payah.


Memang benar yang di ucapkan mami Alvan, kalau Namira sudah keduluan di nikahi oleh orang lain, dan dia teramat sangat menyesal untuk hal itu. Bahkan jika memungkinkan, rasanya ia ingin memutar waktu kembali agar semua itu tidak terjadi.


Tapi apalah daya, ia hanya lah manusia biasa yang tak mempunyai kuasa atas segala sesuatu yang ada di dunia ini. Ia hanya bisa menjalani semuanya dengan kepercayaan bahwa semua akan bisa kembali seperti dulu, saat Namira masih berada di sisinya. Dan dia akan selalu berusaha untuk mewujudkan keinginan terbesarnya itu.


Tapi Alvan dan Namira sudah sepakat bahwa mereka tidak akan menceritakan yang sebenarnya dulu pada mami Alvan. Mereka berdua akan berusaha merahasiakan semua itu sampai di rasa sudah ada waktu yang pas untuk membeberkan fakta yang sebenarnya.


"Tapi ya nggak sekarang juga kali, mi! memangnya mami nggak lihat gimana keadaan anak tersayang mami ini?!" ujar Alvan dengan ekspresi wajah mengiba.


"Ya nggak sekarang juga sih Van, maksud mami kalo kamu sudah bener-bener sembuh gitu, jangan di tunda-tunda lagi!" mami Alvan masih teguh dengan pendiriannya, tanpa tergoyahkan sedikit pun.


Mendengar hal itu hati Namira terasa tak enak. Bagaimana mungkin ia bisa menikah dengan laki-laki lain sementara statusnya masih sah menjadi istri orang. Meskipun hubungannya dengan suaminya sedang tak baik-baik saja, tapi ikatan pernikahan mereka masih tetap sah di mata hukum maupun agama.


Namira hanya diam saja menyimak, tanpa berani berkomentar apapun. Ia takut malah akan salah bicara, atau lebih parahnya akan membuat keadaan menjadi lebih buruk. Ia tidak mau kalau sampai hal itu terjadi.


"Tapi ya jangan sekarang bahasnya mi, nanti kalo Alvan udah sembuh aja, masak mami nggak khawatir sama kondisi anaknya sama sekali sih?!" Alvan masih terus berusaha mengalihkan pembicaraan agar maminya tidak membahas masalah pernikahan lagi. Ia takut kalau terus-terusan membahas hal itu malah akan ketahuan kenyataan yang sebenarnya.


"Kalo mami nggak khawatir sama kamu ngapain mami jauh-jauh datang dari luar negeri kesini?! dasar anak nakal!!" omel mami Alvan sambil memukul pelan bahu anaknya.


"Aduh.. aduh mi, kok malah di pukul sih? sakit dong!" Alvan berakting mengaduh sambil menepuk-nepuk bahunya berusaha mencari perhatian.


"Eh.. iya iya maaf. masa di pukul dikit aja udah K O sih? laki-laki apaan?!" ledek mami Alvan


"Abis mami mukulnya pas Alvan lagi lemah tak berdaya gini sih?! ya jadinya kekuatanku nggak maksimal dong mi!"


"Ah.. kamu nih!"

__ADS_1


Mereka berdua pun saling berpelukan untuk melepas rindu. Di balik kecerewetannya, mami Alvan memang sangat menyayangi anak laki-laki semata wayangnya itu.


Namira tersenyum melihat kehangatan yang terjalin di antara ibu dan anak itu. Jika begini, ia jadi ingat dengan kedua orang tuanya. Tentu Namira sangat merindukan mereka, tapi belum siap jika harus bertemu langsung, karena keadaan pernikahannya yang sedang kacau.


Ia tak mau jadi membebani orang tuanya dengan masalah yang sedang ia hadapi. Sebisa mungkin ia akan membereskan masalah itu dulu sebelum menemui mereka agar tidak menimbulkan kekhawatiran bagi papa dan mamanya.


"Oh iya Namira, lebih baik kamu istirahat di rumah dulu aja! mumpung lagi ada mami yang nemenin aku di sini, jadi kamu bisa pulang dulu. kamu pasti capek dari kemaren udah di sini terus, jagain aku!" ujar Alvan tiba-tiba yang sedikit mengejutkan Namira yang sedang melamun.


"Emm.. aku nggak capek kok Van, lagian kasian mami kalo harus jagain kamu sendirian, nggak ada temennya!" sanggah Namira.


"Mami nggak pa-pa kok sayang.. benar kata Alvan, lebih baik kamu istirahat di rumah dulu, kalo kamu mau nemenin mami besok bisa kesini lagi!" mami Alvan pun ikut mendukung argumen putranya.


Kalo sudah begitu, Namira sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Lebih baik dia menurut saja dari pada terus ngotot dan pasti akan kalah berargumentasi dengan dua orang sekaligus.


"Baiklah kalo gitu, Namira pulang dulu ya mi, besok pagi Namira akan ke sini lagi!" ucap Namira pada akhirnya.


"Iya sayang, makasih ya kamu sudah jagain Alvan pas mami nggak ada di sini!"


"Biar aku telpon supir aku sebentar buat ngantar kamu Namira!" sela Alvan.


"Nggak usah Van, aku naik taksi aja! entar kelamaan kalo harus nungguin supir kamu datang ke sini dulu!" tolak Namira.


"Tapi Namira, nanti kamu..."


"Udah jangan maksa-maksa gitu! lagian benar kata Namira, kalo nunggu supir dulu nanti kelamaan, nanti calon menantu mami keburu capek!" bela mami Alvan memotong perkataan putranya.


Alvan pun tak bisa memaksakan kehendaknya lagi, mau tidak mau ia harus menuruti perkataan maminya tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Ya udah kalo gitu kamu hati-hati ya Namira!" ujar Alvan.

__ADS_1


"Iya Van, ya udah aku pulang dulu" ucap Namira pada Alvan kemudian berbalik pada mami Alvan untuk berpamitan juga.


"Namira pulang dulu ya mi"


"Iya sayang, kamu hati-hati di jalan ya! kalo udah nyampe rumah, jangan lupa kabari mami!" ucap wanita itu lalu mencium pipi kanan dan kiri Namira.


"Iya mi" balas Namira sambil tersenyum kemudian keluar dari ruangan itu.


Sambil berjalan melewati lorong rumah sakit, Namira membuka aplikasi taksi online kemudian mulai memesan taksi online untuk pulang agar tidak terlalu lama menunggu.


Sesampainya di halaman rumah sakit, ia hanya menunggu sebentar saja, setelah itu taksi online pun datang. Ia pun segera naik dan mobil yang di tumpanginya melaju dengan kecepatan sedang menuju lokasi yang tertera sesuai aplikasi.


Tak lama kemudian Namira sampai di depan butik miliknya. Ia melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas menit. Butik sudah tutup pada jam seperti ini.


Namira mengirimkan pesan singkat lewat aplikasi hijau pada mami Alvan untuk mengabari bahwa ia sudah sampai, mengikuti permintaan mami Alvan tadi.


"Selamat malam Bu Namira" sapa seorang satpam yang sedang berjaga di depan butik Namira seperti biasa.


"Selamat malam pak Asep" balas Namira sambil tersenyum ramah.


"Oh .. iya Bu, ada Bu Asti di dalam sedang menunggu kedatangan Bu Namira" ucap pak Asep yang membuat Namira terkejut. Saking asyiknya dengan ponsel, ia sampai tak menyadari kalau mobil mamanya sudah terparkir cantik di sana.


"Apa? mama ada di sini? apa dari tadi pak?"


"Sekitar setengah jam yang lalu Bu"


"Oh.. kalo gitu saya masuk dulu pak Asep, terima kasih informasinya!"


"Iya silahkan Bu, sama-sama"

__ADS_1


Namira pun berjalan memasuki butik dengan perasaan ragu-ragu. Ia takut mamanya akan mengetahui masalah yang telah di sembunyikannya selama ini.


__ADS_2