
"Ap.. apa mas Alvan?" Alena refleks menatap ke arah Alvan dengan wajah terkejut.
"kita harus mengakhiri hubungan kita sekarang, Alena" perkataan Alvan berhasil membuat hati Alena terasa di robek-robek seperti kertas usang yang tak berguna.
"tapi kenapa mas Alvan? bukankah semuanya baik-baik saja? nggak ada masalah apapun di antara kita kecuali..." Alena menghentikan perkataannya, mengambil nafas panjang sebentar lalu melanjutkannya lagi.
"apa semua ini ada kaitannya dengan sikap kak Rafka kemarin? apa mas Alvan tersinggung dengan sikap kak Rafka yang kurang baik sama mas?! sambung Alena, menerka-nerka. Air mata pun mulai luruh membasahi pipi gadis itu.
"ini semua nggak ada hubungannya dengan kakak kamu, Alena. hanya saja ada hal lain yang nggak bisa aku ceritakan sama kamu" ungkap Alvan dengan hati-hati. Sebisa mungkin ia berusaha untuk berbicara baik-baik pada Alena, agar gadis itu tak terlalu merasakan sakit hati yang berlebihan.
Dia memutuskan untuk mengakhiri semuanya saat ini. Ia tidak bisa melanjutkan sandiwaranya terus-menerus, karena tujuannya untuk berbicara pada Namira dan membuktikan semua kebenaran juga sudah tercapai.
Mungkin tindakannya ini bisa di bilang jahat dan tak punya hati, tapi ia berpikir akan lebih jahat lagi jika terus bersandiwara dan membiarkan Alena jatuh dalam perasaan yang terlalu dalam dan suatu saat pasti akan membuatnya semakin tersiksa.
"terus kenapa tiba-tiba begini mas? kamu harus jelasin semuanya ke aku!" desak Alena. Dia tak bisa begitu saja menerima keputusan Alvan. Ini semua terasa tak adil untuknya.
"sudah ku bilang, aku nggak bisa menceritakan semuanya sama kamu Alena" Alvan tetap kukuh pada pendiriannya, karena jika Alena tau yang sebenarnya, maka itu akan semakin membuatnya sakit hati.
"nggak bisa mas Alvan. aku nggak mau kita putus kalo nggak ada alasan yang jelas! aku jadi semakin yakin kalo ini semua berkaitan dengan kak Rafka, tapi kamu menutupinya dari aku" Alena semakin yakin kalau Alvan memutuskan hubungan mereka karena sikap Rafka yang dingin saat Alvan datang ke rumahnya kemarin.
__ADS_1
"jangan keras kepala, Alena! kamu nggak akan bisa bahagia jika terus bersamaku" Alvan mencoba memberikan pengertian agar Alena paham dan bisa menerima keputusannya.
"siapa bilang aku nggak bahagia? aku bahagia bisa dekat dengan kamu, aku bahagia dengan kebersamaan kita, aku bahagia dengan semua yang sudah kita lewati berdua!" ucap Alena penuh dengan perasaan.
Jika begini, Alvan jadi semakin merasa bersalah. perasaan Alena begitu tulus padanya, tapi ia mempermainkannya begitu saja. Dia jadi menyesal, harusnya dulu dia tak mengambil cara ekstrim ini untuk mendekati Namira lagi. Harusnya ia tak usah memanfaatkan kepolosan gadis itu untuk mencapai tujuannya.
Sekarang yang di lakukannya itu malah menjadi buah simalakama untuknya. Dia bingung harus bagaimana mengambil sikap pada Alena. Ibarat, maju salah mundur pun salah, begitu lah kira-kira posisi Alvan saat ini.
"maafkan aku, Alena" hanya itu yang bisa di ucapkan Alvan untuk mengungkapkan rasa bersalahnya.
"nggak ada yang salah di sini mas, kenapa harus minta maaf?!" Sahut Alena.
Alvan diam, tak menanggapi ucapan Alena. Ia berpikir kembali, memikirkan dampak yang akan di timbulkan dari sikap yang di ambilnya. Dan tentu saja ia harus mengambil keputusan yang tepat untuk semuanya. keputusan yang terbaik untuk semua pihak.
"nggak bisa mas Alvan. Aku sayang sama kamu, aku nggak bisa hidup tanpa kamu, aku sudah terbiasa ada kamu di sisiku mas!" ucap Alena panjang lebar mengungkapkan perasaannya.
"aku mencintai wanita lain, Alena" kalimat yang menyakitkan untuk gadis itu,pada akhirnya harus keluar juga dari mulut Alvan. Itu adalah satu-satunya cara terakhir yang di tempuhnya agar semuanya bisa berakhir sekarang juga, tanpa ada perdebatan lagi.
"Ini nggak mungkin. Ka.. kamu pasti bohong kan mas?!" Alena sampai tergagap mengatakannya. gadis itu sungguh tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
__ADS_1
"itu adalah kenyataan yang sebenarnya, Alena. aku nggak bisa membohongi kamu lagi!"
"kamu jahat mas Alvan!! kenapa kamu lakukan semua ini sama aku? apa salahku mas??" tangis Alena semakin menjadi, hatinya terasa di cabik-cabik hingga tak berbentuk lagi sekarang.
Sungguh ia tak sanggup menahan rasa sakit yang teramat menyiksa ini. Rasa sakit yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa sakit yang menghancurkan hatinya hingga menjadi kepingan kecil bagai serpihan kaca yang terpecah belah dan tak mungkin bisa di satukan lagi.
"maaf Alena, aku benar-benar nggak bermaksud menyakiti kamu, aku benar-benar minta maaf untuk kesalahanku yang besar ini. Kamu boleh memukul aku sekeras-kerasnya untuk membalas rasa sakit hatimu. Kamu boleh melampiaskan kemarahanmu padaku sekarang, Alena!" Alvan tak tau harus berkata apa lagi, ia merasa hanya ini lah yang bisa ia lakukan.
"lalu apa arti semua perhatian yang kamu berikan padaku mas? kata-kata manis itu, perlakuan baik kamu, apa semua hanya kepura-puraan saja?!" ujar Alena frustasi.
"Alena.. aku nggak bermaksud begitu, aku cuma... " Alvan menggantung kalimatnya.
"cuma apa mas? kamu benar-benar nggak punya hati, nggak berperasaan. Aku sangat membenci kamu mas, aku benci!!!" Alena berteriak saking emosinya. Dia tak sanggup lagi menahan amarah dalam dirinya. Ia melepaskan amarah itu pada Alvan, yang sudah memberikannya luka sebegitu dalamnya.
Alena berjalan cepat meninggalkan Alvan yang diam terpaku menatapnya. Ia pergi meninggalkan laki-laki yang sangat ia cintai, tapi juga teramat ia benci. Hidup yang awalnya di penuhi dengan kebahagiaan, kini terasa kelabu baginya.
Hati Alena terasa hampa, tak ada kasih dan cinta di dalamnya. Cinta yang dulu terasa indah kini bagai duri tajam yang menusuknya, meninggalkan perih di hati yang tak terkira. Ia merutuki kebodohannya, bisa-bisanya ia terjebak dalam sandiwara Alvan yang membuatnya jadi harus mengalami semua ini.
Alena masuk ke dalam mobilnya, lalu menjalankannya dengan kecepatan tinggi, tak tentu arah. Dia tak tau harus kemana saat ini. Tempat yang biasa ia datangi jika sedang bersedih,tak bisa jadi tempat bernaungnya sekarang, karena keberadaan Alvan di sana.
__ADS_1
Alena tak perduli, kemana pun ia pergi. Yang jelas ia ingin pergi sejauh-jauhnya dari laki-laki itu. Laki-laki yang telah tega mempermainkan perasaannya.
Mobil itu melaju cepat membelah jalanan kota, melewati banyak kendaraan yang sedang berseliweran. Membawa kepedihan dan luka yang melingkupi dirinya, meskipun tak tau kemana ia akan pergi membawa luka di hatinya.