
"kamu kurang kerjaan banget sih Alvan! ngerjain aku terus dari kemaren. emangnya kamu nggak ke kantor apa?!" omel Namira saat mereka berdua dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"kamu tenang aja Namira, kerjaan aku semua udah di tangani asisten pribadiku. udah aku serahkan semuanya sama dia, jadi kamu nggak usah khawatir" ucap Alvan dengan pedenya.
"ge er , siapa juga yang khawatirin kamu, kalo menurutku lebih baik kamu kerja aja, biar nggak gangguin aku terus!" Namira mencebik.
"aku nggak ada niat buat ganggu kamu, Namira, aku cuma.. pengen memastikan kalo kamu selamat sampai tujuan aja" balas Alvan ngeles.
"ah.. basi tau!!" Namira tak begitu saja percaya dengan perkataan Alvan. Dia tau ada udang di balik batu dengan semua yang di lakukan laki-laki itu.
"Namira, by the way.. aku belum sarapan nih, kamu mau kan nemenin aku sarapan sebentar" Alvan kembali mengulang hal yang sama seperti kemarin-kemarin, meminta Namira untuk menemaninya.
"ogah ah, kamu sarapan aja sendiri! dari kemarin ngerjain aku terus" gerutu Namira.
"aduh .. tega banget sih kamu, aku kelaperan gini loh karena belum sarapan. Kamu juga pasti belum sarapan juga kan?!" Alvan memulai aksinya.
"belum sih, tapi... " Namira tidak melanjutkan ucapannya, seperti sengaja melakukan itu.
"tuh kan belum, pas banget kalo gitu. Kita bisa sarapannya bareng. Ya udah kalo gitu kita berhenti di restoran terdekat dulu ya!" ujar Alvan penuh semangat.
"kamu aja yang beli sarapan sendiri, karena aku udah di bawain ini sama bik Imas" Namira berkata sambil mengeluarkan sebuah kotak makan berwarna ungu muda dari dalam tasnya yang lumayan besar.
Dia tadi memang sengaja meminta asisten rumah tangganya itu untuk menyiapkan bekal untuknya agar tidak kesiangan ke rumah sakit. Ternyata itu berguna juga sebagai senjata untuk menolak permintaan Alvan sekarang.
Namira pun dengan sengaja membuka kotak makan itu di hadapan Alvan, lalu memakan isinya dengan santai. Capcay goreng dan udang balado beserta nasinya yang pulen itu terasa sangat nikmat di mulut Namira. Karena makanan inilah yang menyelamatkan Namira dari Alvan yang selalu saja modus.
Alvan hanya bisa menatap Namira yang sedang makan dengan lahap di sampingnya sambil menelan ludah. Padahal tadi dia sengaja tak sarapan agar bisa sarapan bareng dengan Namira, tapi ternyata pengorbanan yang di lakukannya sia-sia. Rencana yang di buatnya pun gagal total.
Dia harus menahan rasa lapar melihat Namira yang makan dengan begitu nikmatnya tanpa menawarinya sedikit pun.
Perkiraan Alvan ternyata meleset kali ini. Dia gagal untuk mengajak Namira makan, malah dia sendiri yang harus merasa kelaparan.
__ADS_1
Namira rasanya ingin tertawa melihat ekspresi wajah Alvan yang tampak nelangsa seperti itu. Sebenarnya dia tidak tega membiarkan Alvan kelaparan, tapi dia harus melakukan itu untuk memberikan efek jera pada laki-laki itu agar tidak menggangunya terus menerus.
Beberapa menit kemudian Namira dan Alvan tiba di rumah sakit. Makanan di kotak makan Namira pun sudah habis tak bersisa.
Mereka berdua turun dari mobil setelah mobil terparkir di tempat parkir yang tersedia. Namira berjalan dengan penuh semangat sedangkan Alvan tampak lesu seperti tak bertenaga.
"kamu sarapan dulu aja di kantin Van, aku mau masuk duluan" ujar Namira saat mereka berjalan melewati lorong rumah sakit.
"masa sarapan sendirian, Namira?" Alvan memasang wajah memelas agar Namira mau menemaninya.
"ya sendiri lah Alvan, masa kamu mau ajak satu RT?!"
"nggak kamu temenin nih?!"
"nggak bisa Van, aku buru-buru mau nemuin Alena. Lagian kamu udah segede gitu masa ke kantin aja minta di temenin sih?"
Alvan pun pada akhirnya pergi ke kantin sendirian karena sudah tak kuat menahan lapar. Perutnya sudah keroncongan minta di isi sejak tadi.
Tadi Rafka sudah mengirimkan pesan chat tempat ruang rawat Alena berada, jadi dia bisa langsung menuju ke sana tanpa bertanya pada siapapun lagi.
"selamat pagi Alena" sapa Namira setelah masuk ke dalam ruangan beraroma khas itu.
"selamat pagi kak Namira" balas Alena dengan suara yang masih sedikit lemah.
"gimana keadaan kamu Alena? apa sudah merasa lebih baik?" Namira mendekati tempat Alena berbaring lalu duduk di dekatnya.
"iya kak, rasanya lebih enteng dan kepalaku juga udah nggak terasa nyeri lagi"
"oh.. syukurlah kalo gitu. Oh iya, ini aku bawakan buah-buahan. Aku kupasin ya?! kamu mau yang mana? ada apel, jeruk, pir atau anggur?" Namira mengambil parsel buah yang di bawanya tadi, lalu membuka bungkusan plastik bening yang menutupnya.
"emm.. aku mau apel aja kak" ucap Alena pelan. Dia merasa tidak enak menolak tawaran Namira, karena kakak iparnya itu sudah sangat baik dan juga perhatian padanya.
__ADS_1
Namira pun mulai mengupas buah apel seperti yang di inginkan Alena, menggunakan pisau buah yang sudah tersedia di atas meja. Sepertinya Rafka yang meletakkan di sana. Karena ada buah-buahan yang lain juga di situ.
Setelah buah sudah terkupas, Namira memotongnya menjadi beberapa bagian lalu memberikannya pada Alena. Gadis itu pun menerimanya dengan senang hati lalu memasukkan buah apel itu ke dalam mulutnya.
"gimana Alena? enak nggak?"
"enak kak, manis banget"
"aku suapin aja ya, biar kamu nggak susah makannya!" Namira mengarahkan buah potongan selanjutnya tepat di depan mulut Alena, agar dia bisa langsung memakannya tanpa repot lagi.
Alena pun menurut saja dan langsung melahap sepotong buah apel yang ada di hadapannya tanpa banyak protes.
Namira terus menyuapi Alena, hingga buah apel itu tersisa sedikit sambil mengobrol ringan seperti membahas tentang kesehatan Alena dan juga yang lainnya.
Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba saja kepala Namira menengok ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari-cari sesuatu.
"kak Namira nyariin kak Rafka ya?" ceplos Alena melihat kakak iparnya yang bertingkah seperti itu. Dia menerka-nerka kalau kakak iparnya itu pasti sedang mencari keberadaan kakaknya.
"hehehe.. iya Alena. Kakak kamu kemana? kok nggak keliatan dari tadi?!" Namira malah cengengesan di tanya begitu oleh adik iparnya. Mungkin dia merasa sedikit malu saja pada Alena.
"kak Rafkanya lagi ke kantin depan kak. Aku yang nyuruh dia buat sarapan dulu, karena dari tadi ngurusin aku terus sampe dia sendiri lupa makan dan nggak ngurusin dirinya sendiri" jelas Alena.
"oh gitu"
*Apa? Rafka sedang ada di kantin?! bukankah tadi Alvan sedang menuju ke sana juga?
Kemungkinan besar sih mereka bakalan ketemu..
Ya ampun.. moga aja mereka nggak membuat kekacauan seperti sebelum-sebelumnya*
Angan Namira jadi melayang ke tempat lain, membayangkan kemungkinan buruk yang terjadi jika Rafka dan Alvan tak sengaja bertemu.
__ADS_1