Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 76 Tragedi


__ADS_3

Seusai menghabiskan makanan dan minumannya mereka, Alvan dan Namira pun pergi dari food court itu.


"Makasih ya Alvan" ucap Namira saat berjalan menyusuri taman, dengan Alvan yang ada di sampingnya.


"Sama-sama Namira"


"Kalo gitu aku pulang dulu ya udah jam segini, bentar lagi butik akan buka soalnya" ujar Namira sambil melihat arloji yang melingkar di tangannya.


"Ya udah kalo di aku antar sekalian" tawar Alvan.


Namira berpikir beberapa saat, menimbang-nimbang apakah harus menerima tawaran dari Alvan atau tidak. Setelah berpikir beberapa saat, ia putuskan untuk menerima tawaran dari laki-laki itu karena tidak enak mau menolaknya. Masa di ajak makan mau, di antar pulang nggak mau?! begitu lah kira-kira pikirannya.


Mereka berdua berjalan beriringan di pinggir jalan raya sambil mengobrol apa saja. Alvan banyak bertanya banyak hal pada Namira, dan wanita itu menjawab seperlunya saja.


Tak terasa, sampai lah mereka di depan butik Namira. Mereka berdua pun menyebrang bersamaan karena letak butik yang berada di seberang jalan.


Tiba-tiba saja dari arah kiri mereka ada mobil yang melaju cukup kencang tak terkendali semakin dekat ke arah mereka. Secara refleks Alvan mendorong tubuh Namira ke pinggir jalan, dan akhirnya dia lah yang tertabrak mobil misterius berwarna hitam itu.


Bukannya berhenti, mobil tadi malah melaju semakin kencang meninggalkan Alvan yang tergeletak di tengah jalan dengan beberapa luka di tubuhnya.


Melihat kejadian itu Namira berteriak histeris. Kemudian berlari mendekati Alvan yang sudah tak sadarkan diri.


"Alvan.. !" tenggorokan Namira terasa tercekat. Ia sama sekali tak menyangka kalau akan mengalami kejadian mengerikan seperti ini.


Orang-orang yang ada di sekitar situ pun berkerumun untuk melihat kejadian, termasuk satpam yang sedang berjaga di butik Namira. Mereka pun membantu untuk menepikan korban kecelakaan sambil menunggu ambulans datang setelah menelponnya.


Tak butuh waktu lama, ambulans pun datang membawa Alvan yang sedang terluka parah ke rumah sakit terdekat. Namira sedari tadi berada di samping Alvan dengan air mata yang tak mau berhenti mengalir. Dirinya masih merasa sangat shock atas kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, ambulans itu sampai di rumah sakit, setelah menyalip beberapa mobil dan juga menerobos lampu merah karena keadaan pasien yang tak bisa menunggu lagi untuk segera mendapatkan pertolongan medis.


Para tenaga medis terlihat menurunkan Alvan dari dalam ambulans dengan cekatan, lalu dengan cepat mendorong brankar dengan cepat ke ruang IGD yang ada di rumah sakit itu.


Namira hanya bisa melihat saja pemandangan yang ada di depannya tanpa bisa melakukan apa-apa. Ia hanya bisa mengikuti kemana para tenaga medis itu membawa laki-laki yang telah menyelamatkan hidupnya.


Jika tadi Alvan tidak mendorongnya, mungkin dia lah yang akan berada di posisi itu sekarang. Karena tadi dia yang berada di tengah jalan dan mobil itu pun seperti akan mengarah ke arahnya berdiri. Tapi karena Alvan mendorongnya ke tepi jalan, jadi laki-laki itu yang harus mengalami nasib naas seperti ini.


Namira hanya mengalami luka lecet di siku tangan kanannya karena tergores pinggiran jalan saat terjatuh tadi. Dan luka itu tak seberapa jika di bandingkan dengan luka Alvan yang terlihat cukup parah.


Namira mondar-mandir di depan ruang IGD menunggu dokter yang sedang menangani Alvan sambil terus berdoa di dalam hati agar laki-laki itu baik-baik saja. Dia akan merasa sangat bersalah jika sampai sesuatu yang buruk menimpa Alvan.


Setelah cukup lama menunggu akhirnya dokter yang menangani Alvan keluar juga dari ruangan itu.


"Bagaimana keadaan pasien, dokter?" tanya Namira setelah mendekati dokter itu.


"Baik. terima kasih dokter. tolong lakukan yang terbaik untuk dia" ucap Namira.


Dokter itu pun mengangguk sambil tersenyum kemudian pergi dari sana untuk melakukan beberapa pekerjaan lain.


Setelah kepergian dokter itu, terlihat beberapa perawat sedang mendorong brankar Alvan lagi untuk di pindahkan ke ruang rawat setelah mendapatkan pemeriksaan dan juga penanganan yang tepat oleh para tenaga medis.


Namira tetap mengikuti para perawat itu, sampai berhenti di sebuah kamar rawat yanga yang letaknya tidak jauh dari IGD tadi. Para perawat mendorong brankar itu masuk ke dalam kamar kemudian meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.


Alvan memandangi kondisi Alvan yang tampak tak berdaya di atas brankar dengan perban putih yang menempel di kakinya. Ternyata bagian yang paling parah dari kecelakaan itu adalah kaki Alvan. Sehingga ia harus menjalani perawatan yang cukup serius.


*Maafin aku Alvan .. Ini semua terjadi gara-gara aku..

__ADS_1


Andai saja dia nggak nolongin aku, mungkin kejadiannya nggak akan seperti ini..


Mungkin dia masih baik-baik saja dan mungkin sudah berangkat sekarang..*


Namira masih memandangi laki-laki itu dengan perasaan iba yang mendalam. Tak berselang lama kemudian, Namira tiba-tiba teringat tentang orang tua Alvan yang sedang berada di luar negeri. Ia berpikir, haruskah memberi tahu keadaan Alvan pada orang tuanya sekarang atau tidak sama sekali?


Jika tidak memberi tahu mereka, Namira takut kalau itu akan terasa kurang sopan. Tapi jika memberi tahu, ia takut akan menganggu pekerjaan orang tua Alvan dan juga takut akan menggangu pikiran mereka.


Akhirnya Namira putuskan untuk memberitahukan keadaan Alvan yang sebenarnya menggunakan sambungan telepon seluler. Walaupun di dalam hati ada perasaan was-was.


"Halo.. sayang. ada apa? tumben kamu telpon mami?" sapa seorang wanita paruh baya di seberang sana dengan suara khasnya yang lembut. Tak tau kenapa suara mami Alvan masih sama seperti dulu. Seakan Namira masih berstatus calon istri Alvan.


"Halo.. mami.. Alvan kecelakaan mi. Sekarang lagi ada di rumah sakit sama Namira" jelas Namira ragu-ragu.


"Ya tuhan.. Alvan kecelakaan?? lalu kondisinya sekarang bagaimana sayang?" tanya mami Alvan. Dari suaranya, beliau terdengar shock mendengar berita buruk tentang putranya.


"Kata dokter tadi Alvan mengalami cidera kaki dan harus mendapatkan perawatan khusus dari dokter ortopedi mi" jelas Namira secara detail.


"Ya ampun.. mami titip anak itu dulu ya sayang, mami akan ambil penerbangan secepatnya untuk pulang ke Indonesia" ujar mami Alvan menggebu-gebu.


"Baik mi, mami tenang aja! Namira akan selalu jaga Alvan di sini"


"terima kasih sayang"


"sama-sama mi"


Sambungan telepon terputus. Namira tak pernah tahu kalau kedatangan orang tua Alvan nanti akan membawanya dalam cerita masalah baru.

__ADS_1


__ADS_2